Thursday, May 7, 2020

ILMU ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO
(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ILMU ALLAH dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (Huud, 11:14)


Melalui metode hubungan konsep kita kaji apa yang bisa kita temukan yang dimaksud Ilmu Allah. Kita coba keluarkan beberapa konsep yang kita temukan dalam satu redaksi dalam satu ayat antara ILMU dan ALLAH. Selanjutkan kita teliti kata-kata lain dari ayat yang bisa dijadikan  penanda dari kata Ilmu dan Allah. Kurang lebih ada 29 ayat Al-Qur’an yang memuat kata Allah dan Ilmu dalam satu redaksi ayat. Dipilih beberapa ayat yang dapat dipahami secara nalar menunjukkan hubungan langsung.

NO
SURAT
KATA PENANDA ILMU ALLAH
JUMLAH SURAT
1
Di antara manusia ada orang yang membantah tentang ALLAH tanpa ILMU PENGETAHUAN dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat, (Al Hajj, 22;3)
Pengetahuan
9
2
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ILMU: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala ALLAH adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang SABAR". (Al Qashshas, 28:80)
Sabar
1
3
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ILMU kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi ALLAH yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang BERIMAN". (An Naml, 27:15)
Beriman
6
4
(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi ALLAH mengakui AL QUR'AN yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ILMU-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya. (An Nisaa, 4:166)
Al-Qur’an
6
5
Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ILMU ALLAH dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu BERSERAH DIRI (kepada Allah)?" (Huud, 11:14)
Berserah diri
1

Berdasarkan data konsep pada ayat-ayat di atas, ilmu Allah satu redaksi dalam ayat berkaitan dengan pengetahuan, keimanan, Al-Qur’an, kesabaran dan berserah diri. Dari kata-kata yang muncul kita bisa beri sedikit penjelasan yang berkaitan dengan ilmu Allah. Pertama; ilmu Allah tersimpan dalam pengetahuan. Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw pengetahuan-pengetahuan yang tidak diketahui Nabi Muhammad saw, semisal kisah-kisah hidup manusia terdahulu yang juga telah diutus para Nabi. Allah menyimpan ilmunya untuk manusia dalam bentuk pengetahuan. Kedua; ilmu Allah adalah Al-Qur’an. Kitab suci Al-Qur’an yang bisa kita baca dan pelajari sekarang di dalamnya meliputi ilmu-ilmu Allah. Sedikit atau banyak membaca dan memahami Al-Qur’an tiada lain kita sedang mempelajari ilmu Allah. Ketiga; Ilmu Allah berkaitan dengan membangun keberimanan manusia berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang Allah berikan. Keempat; ilmu Allah membangun kualitas diri manusia menjadi orang-orang sabar. Kelima; Ilmu Allah berkaitan dengan pengakuan atau ketundukkan diri manusia kepada aturan yang Allah tetapkan.

Pada intinya Ilmu Allah dimiliki oleh orang-orang yang menggali pengetahuan dari Al-Qur’an sebagai petunjuk dari Allah agar manusia beriman dan berserah diri terhadap atas segala ketentuan Allah dengan penuh kesabaran.  Orang-orang yang dilimpahi Ilmu Allah adalah mereka yang memahami isi ayat-ayat Al-Qur’an, hatinya dipenuhi keimanan kepada Allah dan berserah diri dengan sabar terhadap segala ketetapan. 

Kesimpulannya, orang-orang yang berilmu Allah, adalah mereka yang beriman kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Mereka adalah orang-orang yang berpikir dengan logika berdasar petunjuk Allah bersumber dari Al-Qur’an. Wallahu’alam.

MENGUJI KEBENARAN Al-QUR’AN


Oleh: Muhammad Plato
(Penulis Master Trainel Logika Tuhan)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Al Baqarah, 2:23). Inilah tantangan Allah kepada mereka yang mempertanyakan keberadaan dan kebenaran Al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan 1500 tahun yang lalu, pada masa kenabian Muhammad saw. Secara kasat mata kitab suci Al-Qur’an adalah peninggalan sejarah. Turunnya Al-Qur’an tidak lepas dari kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan agama Islam. Dari sudut pandang sejarah, cerita-cerita tentang hidup Nabi Muhammad saw adalah bagian dari kajian ilmu sejarah untuk mengungkapnya. Ilmu sejarah berkaitan dengan keberadaan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Keberadaan Al-Qur’an seiring dengan perjalanan kisah kenabian Nabi Muhammad saw.

Hadis-hadis nabi adalah produk ilmu sejarah yang menguji kebenarannya melalui verifikasi sumber  berdasarkan kesalehan para pemberi kabar. Validitas kebenaran hadis diukur dari kesalehan para penutur hadis. Jika para penutur hadis dikategorikan orang jujur, amanah, tidak pernah dusta, tidak bohong, maka hadis dikatakan valid (shahih). Kualitas kejujuran para penutur hadis dilakukan melalui uji ketat oleh para ahli hadis, seperti Buhkari dan Muslim.

Uji kejujuran yang dilakukan kepada penutur hadis dilakukan secara kualitatif melalui kesaksian-kesaksian orang-orang yang hidup sezaman dengan penutur hadis. Pengujian semacam ini tidak menjamin 100 persen benar karena verifikasi kejujuran pada penutur hadis berdasarkan pada penghlihatan dan ingatan para saksi. Hal yang diandalkan dari pengujian hadis model ini adalah kultur Islam yang sangat kental dengan kesalehan dan kejujuran para penganutnya. Sekalipun manusia tidak akan luput dari kesalahan.

Semakin jauh jarak Nabi Muhammad saw dengan kita sekarang, maka hadis-hadis Nabi tidak akan mengalami perkembangan. Orang-orang yang hidup di zaman Nabi Muhammad saw sudah tidak ada lagi yang hidup. Sekalipun keturunan-keturunan Nabi dan para sahabat masih ada sampai sekarang, mereka sudah tidak bisa diandalkan menyimpan berita-berita dari Nabi secara langsung.


Pengujian kebenaran hadis selalin dari kualitas kejujuran para penutur, dilihat pula dari kualitas isi yang diverifikasi dengan isi kandungan Al-Quran. Berita hadis jika penuturnya tidak tercela tetapi isi hadis bertentangan dengan Al-Qur’an maka hadis dikatakan lemah secara substansi. Hadis ini akan dikesampingkan selama ada hadis yang valid. Sebaliknya jika isi hadis tidak bertentangan dengan Al-Qur’an tetapi penuturnya punya sifat tercela, maka hadis itu lemah. Hadis ini juga akan dikesampingkan selama ada hadis valid.

Hadis adalah sumber informasi kedua yang digunakan umat Islam dalam memahami ajaran Islam. Hadis juga digunakan untuk menafsir Al-Qur’an. Ilmu tafsir Al-Qur’an yang menggunakan hadis memiliki keterbatasan karena jumlah hadis yang terbatas. Untuk itulah dibutuhkan metode penafsiran Al-Qur’an yang bisa menjawab perubahan masyarakat. Metode tersebut sering dikaitkan dengan metode al ra’y (akal, pemikiran, logika).  

Orang-orang non muslim sering bertanya, apa bukti bahwa Al-Qur’an itu wahyu? Menurut mereka jika Al-Qur’an itu wahyu, harus ada saksi yang membenarkannya dan diberitakan di dalam kitab suci itu sendiri. Mereka menganggap bahwa Al-Qur’an adalah tiruan dari kitab-kitab suci terdahulu, karena secara kronologis Al-Qur’an ada setelah wahyu-wahyu terdahulu turun. Mereka melihat kebenaran kitab suci berdasarkan urutan sejarah turunnya kitab suci. Pembuktian-pembuktian yang diajukan oleh mereka sangat materialistik dan rasionalis. Mereka mengukur keberadaan kitab suci berdasarkan ukuran rasio (logika) murni manusia dan bukti logika empiris. Pendekatan yang dilakukan mereka cenderung pada  kajian kronologis ilmu sejarah.
Kajian sejarah tidak bisa dijadikan sebagai satu alat ukur membenarkan keberadaan kitab suci. Pendekatan sejarah tidak bisa menjamin kebenaran keberadaan kitab suci karena sejarah diungkap dari fakta dan ditafsir berdasar ingatan penulisnya. Sangat sophisticated jika menguji keberadaan kitab suci dari kaca mata ilmu sejarah. Isi kitab suci bisa bercampur dengan cerita sejarah.

Metode yang dapat diandalkan untuk menguji kebenaran kitab suci adalah menguji isi kebenaran kitab suci. Pengujian bisa dilakukan melalui korelasi atau kontradiksi antara isi kitab suci, atau isi kitab suci dengan kebenaran ilmiah. Surat menjelaskan surat, ayat menolak ayat, atau ayat menjelaskan fakta ilmiah, atau fakta ilmiah menjelaskan ayat. Pendekatan ini membutuhkan keterlibatan akal. Dasar metode ini bersumber pada keterangan Al-Qur’an di bawah ini.

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (Huud, 11:13).

Untuk menjawab orang-orang yang tidak percaya kitab suci Al-Qur’an sebagai perkataan Allah, dalam Al-Qur’an Allah menantang untuk dilakukan uji materi terhadap kebenaran isi surat di dalam Al-Qur’an. Untuk itu tidak tertutup bagi umat Islam memperbanyak kajian-kajian tentang kebenaran Al-Qur’an dari berbagai sudut pandang keilmuan. Baik dalam kajian filosofis, historis, etika, moral, dan kebenaran sains secara empiris dalam berbagai kajian ilmiah. Kesepakatna para ulama untuk melakukannya sebagai kajian tafsir kontemporer yaitu tafsir yang menggunakan akal yang memanfaatkan sudut-sudut pandang keilmuan. Inilah peluang untuk meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan YME dan menjawab pertanyaan orang-orang yang tidak percaya bahwa Al-Qur’an sebagai perkataan Allah. Wallahu’alam.

Wednesday, May 6, 2020

METODE MENAFSIR AL-QUR'AN

OLEH: MUHAMMAD PLATO
(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Terjadi Perbedaan pandangan dalam metode menafsir Al-Qur’an. Ibn Taimiyah mengatakan tafsir menggunakan akal semata adalah termasuk tafsir yang harus dijauhi. Ibn Katsir menyatakan tafsir bi al-ra’y (akal, pemikiran, pandangan, dan perenungan) merupakan metode penafsiran yang musykil, tidak berlandas ilmu pengetahuan dan argument kuat. (shihab, 2008, hlm. 260). Menafsir Al-Qur’an dibutuhkan metode keilmuan agar hasilnya mendekati kebenaran dan bisa dipertanggungjawabkan. Ada prasyarat yang ketat bagi siapa saja yang mau memahami dan menafsir Al-Qur’an.

Meskipun sebagian ulama menolak tafsir bi al-ra’y, mayoritas ulama tafsir kontemporer menerimanya.  Muhammad Abduh menyatakan tafsir bi al-ra’y sebagai salah satu metode memahami Al-Qur’an yang dapat ditolelir, karena akal dan wahyu tidak mungkin bertentangan. Penggunaan akal secara bebas dalam menafsir ayat Al-Qur’an dimungkinkan sepanjang tidak membawa kemadaratan dan sesuai dengan roh syari’at. Imam Al-Fakhr Al-Razi mendukung tafsir bi-alra’y dibtuktikan dengan tafsir-tafsirnya banyak menggunakan filsafat, teologi, dan ilmu kealaman. (Shihab, 2008, hlm. 260).

Baidan (2005, hlm. 3-4) menjelaskan generasi penafsir Al-Qur’an pertama adalah Nabi dan para sahabat nabi, metodenya dikategorikan sebagai metode global (ijmali). Diterapan oleh al Suyuthi dalam kitabnya Al-Jalalain. Kemudian berkembang metode analitis (tahlili) yang berkembang mengambil bentuk al-ra’y, mengkhususkan kajian fiqh, tasawuf, dan bahasa.  Selanjutnya berkembang metode perbandingan (muqarin) dan tematik (maudhui). Perkembangan metode tafsir dituntut oleh perkembangan masyarakat yang dinamis. Penafsir zaman Nabi yang menyaksikan sebab-sebab turunnya ayat berbeda dengan kita sekarang. Pada zaman Nabi, jika sahabat tidak memahami bisa bertanya kepada Nabi.

Metode tafsir yang digunakan Nabi adalah menafsirkan ayat dengan ayat.  Sebagai contoh ketika nabi menafsirkan surah Al-An’am ayat 82, tentang orang beriman yang tidak mencampurdukkan iman mereka dengan kedzaliman adalah orang yang diberi petunjuk.  Sementara tidak ada seorang beriman kecuali pernah berbuat zalim. Para sahabat gusar dengan ayat ini. Lalu Nabi menafsirkan dengan ayat 13 surah Al-Luqman, “sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (Baidan, 2005, hlm.5).  Jadi kezaliman yang tidak ditolelir adalah mereka yang mempersekutukan Allah.  Selama orang beriman berbuat zalim karena lupa, terpaksa, kondisi, masih dapat diampuni, tetapi mempersekutukan Allah tidak terampuni. Penafsir zaman Nabi dan para sahabat hanya dapat dipelajari melalui ingatan sejarah. Kelompok dikategorikan pada kelompok tekstual.


Jadi secara umum telah terjadi perbedaan pendapat dalam memahami Al-Qur’an, yaitu golongan tekstual dan konstekstual. Namun jika kita bertanya mana yang benar? Kelompok yang melarang menggunakan akal dalam menafsir Al-Qur’an, sebenarnya mereka juga mengeluarkan larangan dengan menggunakan akal. Jadi dua kelompok ini sama-sama menggunakan akal hanya berbeda metode dalam manfasirkan Al-Qur’an. Maka tidak ada yang bisa menjamin keduanya benar karena kebenaran hanyalah milik Allah. Selama manusia menafsir Al-Qur’an sekalipun ingin mendekati kebenaran pasti ada peluang melakukan kesalahan, karena sudah sifat manusia ditakdirkan sebagai pelaku kesalahan.

Untuk itu kita harus kembali kepada berita Al-Qur’an, “Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; (Thaahaa, 20:2). “… Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). … Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah, 2:185).

Jika Allah memberi penghargaan sebagai manusia-manusia terbaik kepada orang yang mau memahami dan mengajarkan Al-Qur’an, maka peluang ini terbuka bagi semua manusia. Al-Qur’an bukan milik sekelompok manusia, tetapi milik umat manusia, karena dikatakan di Al-Qur’an sebagai hudalinnas (Al-Baqarah, 2:185), artinya petunjuk bagi manusia.

Untuk itu dalam memahami Al-Qur’an kita tidak bisa membenar metode satu dan menyalahkan metode lain. Kitab suci adalah kitab Allah diturunkan dalam bahasa Allah sekalipun diturunkan dalam bahasa Arab. Bahasa Allah bisa menjangkau seluruh lapisan manusia dan masyakat tanpa diskriminasi. Dengan demikian semua punya peluang memahami Al-Qur’an, karena pada hakikatnya semua orang sudah diberi kemampuan untuk memahami ayat-ayat Allah yaitu melalui Qalam, yang oleh Imam Al-Gazhali disebut dengan nur atau akal, oleh Prof. Fahmi Basya disebut logika.


Dan inilah kemurahan Allah berikutnya untuk manusia, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah, 2:286). Pahami dan tafsirlah Al-Qur’an sesuai kemampuan. Jika tidak memahami bahasa Arab, terjemah, tafsir  adalah kemurahan Allah agar seluruh manusia bisa memahami ayat Allah. Belajar memahami Allah dari mana kita mampu, setiap kata, pengetahuan, hukum, yang masuk ke dalam memori kita akan jadi petunjuk hidup bagi kita. Allah tidak akan melarang siapa saja yang berusaha memahami Al-Qur’an dalam berbagai cara. Allah menghargai bagi siapa saja dengan cara apa saja yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya dengan mempelajari Al-Qur’an.  Wallahu’alam.

Monday, May 4, 2020

AL-QUR'AN ALAM IDE


Oleh: Muhammad Plato
(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Bagi sejawaran kitab suci Al-Qur’an adalah mentifak. Kitab mental bersifat abstrak berisi pengetahuan tentang Tuhan, Nabi, etika, moral, fakta, dunia, akhirat, kepercayaan dan keyakinan. Isi Al-Qur’an berisi kumpulan ide-ide tentang kejadian alam semesta dan Tuhan. Semua yang ada adalah yang kita pikirkan, yang kita pikirkan adalah ide-ide dari Tuhan. Al-Qur’an mengabarkan, Tuhan adalah pemilik segala ide atau pengetahuan. “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian…”. (surat An-Nisaa, 4:59).  Bagi penulis, ayat ini memberi penjelasan yang mengaskan Tuhan adalah pemilik segala ide dan Rasul adalah utusan yang menyampaikan gagasan-gagasan Tuhan.

Pemikiran Plato tentang alam ide sebagai sumber ilmu pengetahuan (Russel, 2016, hlm. 170), dan Aristoteles tentang alam materi sebagai sumber ide yang diperoleh melalui proses panjang pengalaman empirik (Siraj, 2012, hlm. 24),  merupakan dua sisi yang mencerminkan keterbatasan manusia dalam memahami sebuah realitas. Imanuel Kant menjelaskan realitas bukan yang dilihat tetapi apa yang dipikirkan, dia mengakui etika rasional tanpa mengabaikan prinsip agama. (Abdullah, 2002, hlm. 52).  Ibn Ruysd menganjurkan anak-anak sekolah diajarkan logika, sehingga dua argumen ini memberi kebebasan kepada setiap orang untuk berpikir. Al-Ghazali mengemukakan bahwa manusia tidak bisa berpikir bebas karena dia harus mendapat bimbingan dari guru. (Abdullah, 2002, hlm. 41). Dua pendapat guru-guru besar ini tidak pernah menjadi kata final dalam berpikir karena manusia terus berubah karena perubahan.

Al-Qur’an dan Hadis sebagai kitab ide jika dilihat dari tekstual keberadaannya sangat terbatas dan tidak bertambah lagi, sementara permasalahan senantiasa muncul dan berkembang, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu melalui metode atau penalaran ijtihad, berbagai permasalahan yang muncul dan berkembang, seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, oleh karena itu melalui metode dan pelaran ijtihad berbagai permasalahan yang muncul akan dapat diantisipasi dengan prinsip-prinsip umum yang terkandung dalam nas. Ijtihad, kata tafsir tidak ditemukan secara tegas dalam Al-Qur’an tentang dasar hukumnya. (Shihab, 2008, hlm. 258). Untuk itulah manusia diberi akal oleh Allah dan Al-Qur’an sebagai alam ide. 


Menurut Shihab (2008, hlm. 258), dasar-dasar gagasan manusia untuk berpikir (ijtihad dan tafsir) merujuk pada kitab suci Al-Qur’an, antara lain; “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shad, 38;29). “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?” (An Nisaa, 4:83). “Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Al Mukminuun, 23:80).

Para ulama berbeda pendapat tentang tafsir ada yang bersifat tekstual dan nalar. Ibn Taimiyah salah satu ulama yang melarang penggunaan akal bebas dalam memahami Al-Qur’an. Untuk itu, Al-Ghazali menysaratkan wajibnya ada seorang guru jika ingin menafsir Al-Qur’an. Muhammad Abduh dan Al-Fakhr Al-razi menyatakan bahwa tafsir berdasar nalar sebagai metode memahami Al-Qur’an dapat ditolelir, sebab antara akal dan wahyu tidak bertentangan. Jadi penggunaan akal secara bebas dalam menafsir ayat Al-Qur’an dimungkinkan sepanjang tidak membawa kemadharatan dan sesuai dengan roh syariat. (Shihab, 2008, hlm. 260).

Perbedaan pendapat ini adalah dua realitas ibarat menuju suatu tempat kita mengambil jalan berbeda. Tempat tujuannya sama dan perintahnya adalah mulalilah bergerak agar semua sampai tujuan. Perbedaan tata cara menafsir bukanlah permasalahan jika tujuannya menuju tempat yang sama yaitu kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Maka untuk menghindari polemik, harus kembali kepada perintah awalnya yaitu Allah menurunkan Al-Qur’an untuk memberi peringatan kepada seluruh manusia berlaku untuk semua individu, kelompok, negara, dan bangsa. Semua manusia diberi akal, maka semua yang diberi akal memiliki kewajiban untuk taat kepada Allah sesuai kemampuan termasuk memahami, menafsir Al-Qur’an untuk keselamatan dirinya.

Larangan menafsir Al-Qur’an dengan akal yang sering dikaitkan dengan hadis, “barang siapa yang berkata terhadap Al-Qur’an berdasarkan pendapatnya, maka hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka. (HR. Turmuzi, dan Ibnu Abbas). Beberapa ulama berpendapat larang menggunakan nalar berlaku jika pendapatnya mengada-ada mengikuti hawa nafsu demi kepentingan pribadi, mendukung kelompok, madzab tertentu dan keras kepala tanpa mengakui adanya pendapat yang lebih tepat. (Shihab, 262, hlm.262).

Perbedaan pendapat meruncing dan menjadi konflik membuktikan bahwa mereka menafsir Al-Qur’an berdasarkan nalar yang hatinya mengikuti hawa nafsu yang berisi kepentingan pribadi, madzab, aliran, kelompok, kekuasaan, kedudukan, popularitas, penghasilan, dan mengunci kebenaran miliknya. Jika menafsir Al-Qur’an diberikan syarat-syarat keilmuan tertentu dan dibakukan hingga memberat sebagian manusia yang lain, Tuhan tidak pernah memberatkan, bahkan menurunkan Al-Qur’an karena menghendaki kemudahan. Hal yang dilarang dalam menafsir Al-Qur’an adalah menggunakan nalar akal untuk keuntungan pribadi, membela individu, kelompok, aliran, madzab, dusta,  dengan menutup kebenaran dari pendapat orang lain. Tujuan memahami, menafsir Al-Qur’an adalah mengikuti perintah Allah untuk menemukan jalan hidup damai, sejahtera di dunia dan akhirat bukan hanya untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan umat manusia di muka bumi. Prasyarat ini lebih egaliter dan bisa merangkum semua manusia untuk mempelajari, menafsir Al-Qur’an menggunakan akal sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan menurut kadar pengetahuan nalar masing-masing. Seharusnya semua manusia menafsir Al-Qur’an dengan nalarnya.

Al-Qur’an adalah kitab gagasan atau alam ide dari Tuhan, pengetahuan bawaan yang ada dalam akal manusia. Isi Al-Qur’an sebagai perangkat lunak dan alam materi adalah cangkangnya.  Pola pikir Al-Qur’an (logika Tuhan) adalah perangkat lunak dan akal adalah perangkat kerasnya. Sudah seharusnya ide-ide yang ada dalam akal manusia bersumber pada Al-Qur’an. Harus ada pengajar-pengajar yang bisa memasukkan perangkat lunak (isi Al-Qur’an) mengungkap isi ide bawaan dalam akal, agar nalar manusia bekerja untuk mengabdi kepada Tuhannya. Wallahu’alam.


Daftar Pusataka

Shihab, U. (2008) Kontektualitas Al-Qur’an, Kajian Tematik Atas Ayat-Ayat Hukum dalam AL-Qur’an. Jakarta: Permadani
Abadulah, A. (2002) Antara Al Gazhali dan Kant; Filsafat Etika Islam. Bandung: Penerbit Mizan.
Russell, B. (2016) Sejarah Filsafat Barat; Kaitan dengan Kondisi Sosial Politik Zaman Kuno higga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Siraj, F.M. (2012) Al-Gazhali Pembela Sejati Kemurnian Islam. Jakarta: Dian Rakyat.

Saturday, May 2, 2020

ALLAH AJAIB


Oleh: Muhammad Plato

Ada sekelompok manusia mengatakan bahwa Allah itu ajaib. Hati-hati memahami Allah ajaib, karena banyak yang ajaib di muka bumi ini tetapi tidak berarti dia Allah. Manusia, kuburan, batu, pohon, hewan, laut, gunung, kadang terlihat ajaib, tapi tidak bisa dikatakan Allah. Sekelompok orang berkeyakinan bahwa Allah itu ajaib, maka semakin tidak dimengerti akal itulah Allah.

Masalah Allah ajaib bermula dari kelahiran Nabi Isa Al Masih. Nabi Isa proses kelahirannya melalui keajaiban. Lahir dari seorang perempuan suci, bukan penjinah, dan tidak pernah disentuh seorang laki-laki. Siti Maryam mengandung dan melahirkan seorang bayi cerdas yang sudah bicara sejak dalam buaian. Lalu bisa menyembuhkan orang buta, dan menghidupkan orang yang mati.

Kejadian ini melahirkan kesalahan persepsi bagi sekelompok orang. Mereka menduga bahwa tuhan telah menjelma menjadi manusia sebagai anak, yang dilahirkan dari seorang ibu dengan kekuasaan ruh bapak. Terjadilah kerancuan tuhan menjadi ada tiga unsur yaitu bapak, ibu dan anak. Untuk tujuan tertenu tuhan menjadi anak manusia, kemudian mati dan kembali menjadi tuhan. Lalu diklaim bahwa kejadian itu bagian dari keajaiban tuhan.


Bandingkan dengan kejadian Nabi Adam, tidak pernah diberitakan Adam punya ayah dan ibu. Adam sebagai manusia sempurna yang pernah tinggal di surga, kemudian melanggar perjanjian dengan Tuhan, lalu Tuhan memberi ampun. Tuhan manakah yang dimintai ampun oleh Adam?  Jika sejarah Tuhan dimulai dari yang di sembah Adam, maka Adam memohon ampun kepada Tuhan Yang Esa.

Jika ada orang mengklaim Tuhan yang diyakini manusia berbeda-beda karena keyakinan agama masing-masing, orang-orang itu akan masuk neraka karena sudah menjadikan tuhan berbilang atau lebih dari satu.  Tuhan harus satu yang membedakannya adalah personifikasi imajinasi setiap manusia dalam menyebut nama Tuhannya.

Keajaiban Tuhan bukan dalam bentuk perubahan dari ghaib ke wujud kemudian menjadi ghaib. Terlalu rendah bagi Tuhan untuk berubah wujud menjadi manusia demi tugas kemanusiaan. Dunia material ini adalah kelas dunia rendahan, sangat tidak ajaib jika tuhan pernah berubah wujud menjadi manusia sekalipun Tuhan bisa.

Keajaiban Tuhan itu terletak pada keegoisannya dalam memeprtahankan dirinya sebagai Tuhan yang tunggal. Dia tidak mau disebut punya bapak, ibu dan anak. Dia tidak pernah mau dikatakan pernah dilahirkan dan mati. Dia juga ingin dikatakan menguasai awal dan akhir. Dia penyebab tetapi tidak butuh sebab. Dia wujud tetapi tidak terlihat. Dia ada dimana saja kemanapun manusia menghadap. Semua makhluk akan hancur kecuali Dia kekal. Itulah gambaran beberapa keajaiban Tuhan.

Sangat tidak mungkin Tuhan berubah menjadi makhluk fana dan kembali kekal. Tuhan itu akan selalu ghaib dan tidak akan pernah menampakkan diri atau menjadi manusia sebagaimana makhluk material yang harus makan, minum, buang air besar, kedinginan, kesakitan, dan mengalami kematian. Tuhan-tuhan yang diwujudkan dalam benda adalah tuhan imajinasi buatan manusia dan tuhan-tuhannya yang diyakini karena keberadaannya dipertahankan oleh manusia dan  organisasi yang ingin mendapat kedudukan dan tidak mau kehilangan kedudukannya di muka bumi. (wallahu ‘alam).



(Master Trainer Logika Tuhan)

Tuesday, April 28, 2020

TRINITAS AJARAN AL-QUR’AN


Oleh: MUHAMMAD PLATO

Menyimak perdebatan tentang konsep Tuhan, saya menyimak dan belajar dari mereka. Saya hanya belajar berpikir dari perdebatan mereka tidak bermaksud mendeskreditkan siapapun. Saya hanya mengambil pelajaran bagaimana cara berpikir. https://www.youtube.com/watch?v=XyD1OD0F1uA (16/04/2020, diakses 28/04/2020).

“Debat adalah panggung pertandingan berpikir”, itu pendapat saya. Untuk itu bagi yang mau berdebat, mereka harus paham tentang ilmu dasar berpikir. Konsep dasar berpikir adalah sebab dan akibat. Sebab, saya ambil analogi sebagai pijakan atau tempat berpijak, dan akibat saya analogikan sebagai langkah kaki. Kemana saja langkah kaki dia harus menemukan pijakannya.  Jadi suatu hal yang tidak mungkin jika kaki anda melangkah tidak ada pijakannya.

Pijakan yang digunakan dalam berpikir adalah data, fakta, generalisasi, teori dan dalil yang kelak dijadikan dasar dalam berpikir. Isi pikiran hanya bisa dipahami jika sudah diucapkan.  Apa yang diucapkan itulah yang dipahami oleh orang. Maka bagi orang-orang yang mau ikut tampil dalam panggung debat harus punya banyak pijakan sesuai dengan tema apa yang mau diperbedebatkan.

Pijakan berpikir yang paling dasar yang harus dimiliki seseorang adalah ayat-ayat dari kitab suci yang diyakininya. Ayat-ayat yang dijadikan dalil akan jadi dasar berargumen diperkuat dengan data, fakta, generaslisasi, dan teori. Dalam beragama, argumen-argumen tentang kepercayaan kepada Tuhan YME, kebenaran ajaran, tidak boleh lepas dari ayat-ayat yang terkandung dalam kitab suci. Jadi kitab suci adalah pijakan dalam berpikir. Babak berikutnya adalah apakah benar yang anda gunakan kitab suci? Anda harus melakukan verifikasi kebenarannya sebagai kitab suci.

Sebagai contoh saya akan bicara konsep trinitas dari kitab suci Al-Qur’an. Saya tidak akan mengungkapkan pemikiran apa apa kecuali berpijak langsung dari ayat dalam kitab suci Al-Qur’an yang bisa saya pahami.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Ma’idah, 5;73).

Berdasarkan dalil (ayat) di atas, pikiran saya berpijak bahwa Tuhan harus satu. Tidak boleh ada tuhan-tuhan selain Allah yang tunggal. Begitulah cara berpijak dalam berpikir. Tertutup (kafir) pikiran seseorang jika meganggap Allah salah satu bagian dari yang tiga.

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (An Nissa, 4:171).


Berpijak pada ayat di atas, di dalam kenabian Isa Al Masih yang lahir dari Maryam terjadi keganjilan jika dilihat dari kacamata manusia. Nabi Isa lahir tidak dari seorang ibu yang memiliki suami. Berpijak pada ayat itu, ada muncul persepsi manusia menganggap bahwa Al Masih adalah anak tuhan. Berdasarkan pada ayat di atas, Tuhan adalah tunggal, Maryam dan Isa adalah utusan Allah sebagai penyampai kebenaran.

Jadi Al-Qur’an menjelaskan konsep trinitas yang benar yaitu yang memosisikan Tuhan sebagai yang tunggal, Maryam dan Isa sebagai utusan yang menganjurkan umat tetap menyembah pada Tuhan YME. Allah sangat egois untuk ketunggalan-Nya. Dia tidak mau disebut punya anak dan punya ibu. Luruskanlah pikiran mu bahwa Allah Esa.

Tugas akal dalam kehidupan manusia adalah menjelaskan secara rasional atau empiris apa yang dikehendaki Allah, yaitu menghilangkan tuhan-tuhan selain Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan memohon pertolongan dalam segala urusan. Wallahu’alam.

(Head Master Trainer Logika Tuhan)

Saturday, April 25, 2020

PEKERJA KERAS DAN TUKANG TIDUR


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Cerita ini menggambarkan dua kisah hidup manusia. Setiap hari tidur, bangun, makan, minum, bekerja, bercengkrama dengan keluarga dan kembali tidur. Hanya waktu yang membedakan aktivitas manusia. Ada yang lama bekerja dan ada yang lama tidur. Tidak menjamin yang lama bekerja lebih sukses dan yang lama tidur akan gagal. Lama kerja atau lama tidur tidak jadi sebab manusia bisa sukses atau gagal. Ada manusia tukang tidur akhirnya sukses, ada manusia tukang bekerja akhirnya gagal. Hidup ini bukan ukur-ukuran berdasar pandangan manusia, tapi kehendak Tuhan.

Dikisahkan ada manusia wajahnya bermuka muram, kecut, dan lusuh. Nampak kecapaian, badannya letih dan lesu. Entah apa yang ada di benaknya. Dia seperti sedang merasa terhina. Dia kecewa terhadap apa-apa yang telah diusahakannya. Dia juga seperti sedang menghadapi jiwa yang putus asa yang masa depannya telah hancur. Dia penuh ketakutan yang tak hingga, badannya menggigil penuh keringat dingin.

Dia adalah  pekerja keras dan berhasil menghadapi berbagai kesulitan hidup. Dia tangguh dan tidak pernah menyerah atas apa yang diupayakannya. Kerasnya persaingan hidup dia lewati, sekalipun penuh dengan resiko. Hidupnya selalu terancam karena kerasnya persaingan. Atas segala usaha kerasnya, kehidupannya lebih dari cukup, segala minuman dari berbagai jenis pernah dia coba. Semahal apapun minuman, sekualitas apapun minuman dia pasti mampu menikmatinya. Namun minuman itu terasa tidak berhasil memuaskan rasa dahaganya. Demikian juga dengan makanan, semua macam makanan di seluruh dunia, di restoran dan hotel terbaik, semua telah dia nikmati. Namun tidak pernah berhasil memberikan rasa puas dan nyaman untuk perutnya. Makanan dan minuman itu mengalir saja ditenggorokan sampai ke perut dan keluar kembali. Makanan itu tidak memberikan kesehatan, malah perutnya tidak pernah merasakan kenyang dan selalu lapar.


Di satu sisi ada manusia yang mukanya penuh dengan kebahagiaan. Wajahnya memancarkan optimisnya yang tak pernah putus. Dia melihat masa depannya begitu menyenangkan dan terlihat ingin segera mendapatkannya. Dia merasa apa diusahakannya telah menghasilkan sesuai dengan yang diinginkan. Semua pekerjaan yang dilakukannya tidak menjadi beban. Sampai Dia berhasil mendapatkan tempat tinggal sesuai impian. Tempat yang penuh dengan kedamaian. Dia hidup dalam keluarga harmonis penuh ketenangan dan damai. Satu sama lain saling menyapa dengan kata yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kebutuhan minum semuanya terpenuhi dan memuaskan dahaganya. Semua minuman dan makanan yang dia nikmati menyehatkan dan menyegarkan tubuhnya. Kedudukannya semakin tinggi dan dihargai. Dia termasuk orang terpandang dibanding manusia lainnya. Setiap hari kerjanya hanya minum, duduk-duduk, dan  tiduran. Ketika ada waktu luang dia isi waktunya untuk jalan-jalan ditaman atau liburan.

Jika kita perhatikan kedua orang ini menunjukkan dua karakter berbeda. Satu pekerja keras dan satu lagi sepertinya tipe santai. Tipe pekerja keras seperti unta yang bekerja di gurun menghadapi panas, haus dan badai. Tipe santai dia seperti hidup di atas awan, semuanya nampak menyenangkan. Kedua manusia itu sangat kokoh pendiriannya, bagaikan gunung-gunung yang berdiri tegak. Pengetahuannya luas seperti bumi yang dihamparkan. Keduanya sama-sama sering berbagi ilmu pengetahuan tentang cara menghadapi hidup yang kejam. Mereka tidak pernah memaksakan pemikirannya kepada orang-orang untuk mengikutinya. Mereka beranggapan bahwa setiap orang akan sukses sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Setiap apa yang dikerjakan akan mendapat imbalannya. Setiap orang akan kembali kepada apa apa yang telah dilakukannya. Setiap orang tidak akan pernah dirugikan, karena hidup ini sudah ditentukan kadar kadarnya.

Aneh dunia ini, mereka yang bekerja keras pada akhirnya semua yang dikerjakannya tidak memuaskan segala harapan hidupnya. Tapi yang pekerjaanya tidur, duduk-duduk, makan, jalan di taman, dan liburan, dia berhasil mencapai seluruh impian hidupnya.

Para pembaca, bisakah bantu saya, siapakah sosok yang digambarkan kedua orang di atas? Cara hidup manakah yang harus saya lakukan? Saya ingin hidup menyenangkan dan penuh damai. Bagaimana caranya? Jawaban, pemikiran, dan pandangan pembaca yang budiman sangat saya butuhkan. Wallahu’alam.

(Master Trainer logika Tuhan)

Thursday, April 16, 2020

KEMERDEKAAN DUNIA


Oleh: MUHAMMAD PLATO

Di balik wabah Covid 19 kita menyaksikan berbagai macam kejadian yang mengandung banyak hikmah jika kita memikirkannya. Sebaik-baiknya pikiran adalah mengambil kebaikan dari segala kejadian. Sangat disayangkan ada orang-orang yang tidak belajar di masa banyak ilmu bertebaran. Mereka adalah orang-orang yang menolak jenazah syahid meninggal karena wabah Covid 19. Kebodohan ini bukan karena mereka tidak bisa mengakses ilmu tapi wujud dari kelemahan literasi agama dan ilmu pengetahuan. Bukan tidak ada ilmu tapi keengganan untuk berilmu yang masih melekat mentradisi di negara kita. 

Di balik kejadian wabah Covid 19 ada kejadian-kejadian inspiratif. Ketika diberlakukan isoliasi diberbagai negara. Aktivitas ekonomi dunia berhenti dan dibalik kejadian itu, polusi udara berkurang sampai 50%, kondisi air membening, ikan-ikan kecil berenang bebas, bebek berenang dan burung menari-nari menikmati alam yang bebas polusi. Langit terlihat membiru menandakan pencemaran udara berkurang akibat berhentinya aktivitas ekonomi manusia. Kita sadar bahwa bumi perlu kita rawat dengan pola-pola hidup yang tidak berlebihan, dengan hidup saling menghormati dan menghargai dengan alam.


Kota-kota besar di seluruh dunia yang tadinya hiruk pikuk seperti sedang istirahat dari Lelah berates-ratus tahun bekerja. Kota seperti sedang rehat menikmati istirahat untuk dua, tiga bulan ke depan, setelah berartus-ratus tahun tidak lepas dari kesibukkan. Mesin produksi berhenti berputar, tidak ada kepulan asap carbon ke udara. Mereka seperti sedang minum kopi, sambil bercengkrama menikmati liburan keluarga.

Di Wuhan China sebagai tempat pertama kali menyebar Covid 19, banyak warga wuhan terinspirasi karena mereka yang menganut agama dengan kebiasaan cuci tangan, muka, kepala, dan kaki (wudhu) sehari lima kali tidak terkena dampak wabah Covid 19. Kejadian ini telah menyadarkan bangsa terbesar di dunia ini untuk menghormati kebebasan dalam beragama, karena tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan atau terorisme. Penganut agama Islam yang sejak tragedi WTC terus mendapat hujatan, pelecehan, diskriminasi, dan dituduh sebagai penyebar teror, sekarang mendapat sambutan di berbagai penjuru dunia. Presiden China bersilaturahmi mendatangi masjid adalah tanda beliau menginsafi kesalahan persepsinya tentang agama Islam selama ini, dan telah membawa dampak pada kebijakan politik yang keras terhadap penganut agama Islam.

Di Eropa seperti Jerman, Belanda, Belgia, Italia, kumandang adzan mulai bersahutan dikumandangkan setiap waktu shalat dengan pengeras suara dari masjid-masjid. Kumandang adzan membawa pesan kepada dunia bahwa Islam bukan hendak menaklukkan dunia, tapi memerdekakan dunia. Islam hadir untuk mensejahterakan umat manusia, melindungi hak-hak hidup manusia dengan tidak membeda-bedakan keturunan, suku, ras, bangsa, dan agama. Semua orang dari berbagai latar belakang bisa hidup di bawah naungan ajaran Islam.

Sesungguhnya ajaran Islam adalah menciptakan hidup damai, menghukum yang salah dengan adil tanpa melihat latar belakang, dan menghargai pada orang-orang yang berjasa untuk manusia tanpa melihat latar belakang orang. Islam adalah agama yang diajarkan langsung dari Tuhan kepada manusia. Nabi Muhammad saw bukan pemilik ajaran agama Islam, Beliau adalah penyampai kebenaran dari Tuhan. Posisinya sama seperti nabi-nabi sebelumnya seperti Isa, Musa, Nuh, Ibrahim sampai Adam.

Salah satu ajakan dalam adzan adalah marilah shalat, berbuat kebaikan, tolong menolong, dan marilah menuju kemenangan hidup di dunia dan hidup setelah kematian. Kemenangan di dalam kumandang adzan bukan kemenangan kelompok pengikut Islam tapi seluruh alam dan penghuninya. Dalam ajaran Islam tidak ada penaklukkan kelompok manusia kepada kelompok manusia lain, kecuali mengajak hidup sesuai dengan ajaran Tuhan. Dalam sejarah dibuktikan setelah Mekah menyerah pada Nabi Muhammad saw, maka tidak ada balas dendam, pertumpahan darah, perampasan harta, semua dibebaskan dari segala tuntutan sekalipun selama 13 tahun penduduk Mekah melakukan penghinaan, penganiaan, merencanakan pembunuhan dan memerangi dengan bengis. Selama tiga belas tahun memusuhi dengan sengit, Ketika penduduk Mekah menyerah, semua bebas seperti tidak terjadi kejadian-kejadian buruk sebelumya.

Saat ini Ketika wabah Covid 19 menjadi pandemi, apakah ada tentara mengatasnamakan Islam berperang jihad menyerang untuk menaklukkan Belanda, Belegia, Perancis, Italia, Spnyol, dan China? Ajaran Islam tidak mendorong umatnya untuk haus kekuasaan dan harta, tapi misinya adalah memerdekakan dunia dari ikatan-ikatan cinta dunia yang membuat kehandcuran spiritual, moral, dan harkat manusia. Suara adzan itu berkumandang bukan karena paksaan tapi kesadaran dunia bahwa ada Tuhan YME yang mengatur hidup manusia.

Bencana pandemi Covid 19 ini bisa jadi tanda bahwa dunia telah merdeka, dan sebenatar lagi dunia akan kembali kepada Tuhannya. Tugasnya hampir selesai membimbing manusia untuk tetap Kembali kepada Tuhan yang menciptakannya. Terima kasih bumi, engkau telah setia mendampingi kami selama hidup di dunia. Semoga kami tetap di jalan Tuhan dan diberi kemenangan sampai kami juga Kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu’alam.


(Head Master Trainer logika Tuhan)

Wednesday, April 15, 2020

TUHAN TIDAK TAKUT LOGIKA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Buya Syakur berpedapat (https://www.youtube.com/watch?v=KGRBwsUGt9I 2/12/2019, diakses 13/04/2020) sampai kapan pun tidak akan pernah ada yang dapat membuktikan secara fisik Tuhan itu ada, dan tidak akan pernah ada argument yang memuaskan bagi siapapun bahwa Tuhan itu ada. Sebaliknya orang yang tidak percaya Tuhan, dia tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Inilah yang menghindarkan saya untuk berdebat tentang keberadaan Tuhan. Tapi saya membakukan dalam pikiran bahwa Tuhan itu harus ada. Wujudnya bagaimana imajinasi saya tidak cukup untuk membayangkannya.

Selanjutnya Buya Syakur mengeluarkan pendapat yang cukup menantang untuk diskusi, “Jangan takut untuk, berpikir Tuhan tidak takut dengan kecerdasan manusia. Ayat Al-Qur’an tidak menutup tafsir karena zaman mengalami perubahan secara berkesinambungan”. Pemikiran kelompok tertentu, fiqih adalah karya manusia, sumbernya dari Al-Qur’an.  Siapa yang menjamin paling benar, marilah kita berpikir sama-sama untuk menemukan kedamaian dan kesejahteraan manusia hidup di dunia. Tuhan senang digugat dan Tuhan akan melayaninya dengan senang, karena berpikir adalah perintah Tuhan.


Sebagaimana Nabi Ibrahim, Nabi Musa, mereka dalam kisahnya di dalam Al-Qur’an menggunakan logikanya menantang kepada Tuhan untuk membutikan bagaimana cara menghidupkan orang yang mati, dan membuktikan bahwa Tuhan itu berwujud.  Kisah-kisah menjadi tanda bahwa akan ada manusia-manusia yang menggunakan akalnya dan bertanya kepada Tuhan tentang sesuatu yang ingin diketahuinya.

Sependapat dengan pendapat Buya Syakur, masih banyak umat Islam yang belum berani berpikir bebas. Menurut Buya Syakur (https://www.youtube.com/watch?v=lghdZaFAVEg, 12/12/2019, diakses 15/04/2020) Fiqih adalah pemikiran orang per orang pada abad ke 7 dan 12. Belum ada lembaga yang mengesahkan pemikiran ini. Mengubah fiqih bukan mengubah agama, tetapi mengubah pemikiran orang. Tidak ada paksaan dalam agama, memaksanakan pemikiran, ajaran, adalah keombongan. Dahulu persaingan pemikiran, madzab, golongan, diwarnai oleh perebutan kekuasaan dibarengi dengan kesombongan.

Berpikir bukan milik golongan-golongan, aliran, bangsa atau suku, berpikir adalah perintah Allah di dalam Al-Qur’an. Jika ada orang melarang-larang berpikir, apa haknya? Allah saja memerintahkan. Tidak ada hak bagi setiap orang untuk mengkafirkan atau menyesatkan sebuah kelompok. Kafir dan sesat adalah urusan Allah yang menentukan. Tugas kita adalah saling memberikan pencerahan kepada semua orang berkaitan dengan implementasi ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.  

Tembok besar yang menutupi keterbelakangan umat manusia sangat tebal. Untuk meruntuhkan tembok kebodohan ini butuh sulton (kekuatan), sulton ini hanya dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman dengan santun, dan terus menerus mengetuk hati yang sudah menutup diri dari kebenaran untuk membuka pikirannya. Persaingan kekuasaan yang membawa ajaran agama telah mengotak-ngotakkan umat menjadi dua golongan beseberangan dan dipertahankan secara turun menurun.

Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam hanya dalam tataran ideal yang tidak pernah diimplementasikan dalam kehdiupan sehari-hari. Mengafirkan, menyalahkan, mencurigai, orang-orang yang berbeda dengan kelompoknya masih diwariskan dan semakin mempertebal dinding kebodohan. Buya Syakur mengakui bahwa apa yang dilakukannya yaitu memberi pembaharuan dalam berpikir di dalam beragama, dari 1000 langkah yang harus ditempuh, dia merasa baru satu Langkah melakukannya. Di butuhkan banyak orang yang sudah tercerahkan dan berani untu menyamakan persepsi, berdiskusi, tanpa dibarengi dengan emosi.

Tulisan-tulisan yang saya tuliskan, tidak untuk mengubah agama, tetapi memberi sumbangan pemikiran dalam memahami ajaran agama, dengan memahami Al-Qur’an melalui petunjuk dan perintah  Allah yaitu berpikir. Siapa yang melarang-larang berpikir (berlogika) sementara Allah memerintahkan, lalu siapa yang akan Anda ikuti? Walalhu’alam.

(Master Trainer logika Tuhan)