Saturday, August 3, 2019

DOKTRIN BERPIKIR


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kita sering mendengar nasehat, berdoalah dengan bahasa-bahasa positif jangan menggunakan bahasa negatif. Bahasa-bahasa negatif akan menjebak pikiran dan perasaan menjadi negatif. Alhasil doa yang kita lantunkan menjadi harapan negatif. Demikian sedikit argumen mengapa berdoa harus dengan bahasa positif.

Nasehat di atas tidak salah namun itu berlaku bagi orang-orang yang belum memahami hakikat Allah sebagai dzat yang absolut baik. Allah tidak terpengaruh kata, kalimat, atau bahasa negatif. Sifat Allah Maha Baik, tidak ada yang dapat mengubah sifatnya menjadi maha buruk. Allah memperkenalkan dirinya kepada manusia sebagai yang maha baik, pengasih, penyayang, pemelihara dan maha teliti.

Jika sudah memahami bahwa Allah selalu positif dan seluruh isi dunia adalah sesuai sifat pemiliknya, maka ini doktrin bagi isi pikiran kita bahwa semua kejadian, fenomena, adalah baik. Jika doktrin pikiran ini kita gunakan, maka setiap kejadian akan baik karena persepsi kita sudah mendapat doktrin bahwa semua harus baik sesuai dengan sifat Allah yang maha baik.

"ALLAH TIDAK AKAN BERUBAH BURUK KARENA PERBUATAN MAKHLUK, JANGAT KHAWATIRKAN ALLAH JADI BURUK, KAHAWATRIKANLAH DIRI MU SENDIRI"

(MUHAMMAD PLATO)
Allah Yang Maha Baik tidak terpengaruh oleh persepsi manusia. Sekalipun bahasa manusia buruk, dan jahat kepada Allah, sifat Allah yang maha baik tidak akan berubah jadi buruk. Jika manusia menghujat Allah, memaki Allah, maka Allah akan tetap baik. Bukan Allah yang membuat prilaku manusia buruk, tapi perkataan dan perbuatan manusia itu sendiri.

Doa-doa yang kita lantunkan sekalipun dalam bahasa negatif, Allah akan tetap memberikan hal yang positif. Ketika semua makhluk bersentuhan dengan Allah, mengenal Allah semuanya akan positif sesuai sifat Allah.

Semua makhluk milik Allah, semua makhluk akan kembali kepada Allah. “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Yasin, 36:83). Jika Allah baik tidak mungkin semua makhluk akan kembali ke Allah dalam kondisi buruk. Untuk itulah fungsi neraka, seperti penggorengan yang akan mensterilkan makhluk dari keburukan. Neraka bukan tempat menghukum makhluk tapi tempat untuk mensucikan, membersihkan makhluk agar bebas dari keburukan dan kembali kepada Allah. Maka neraka adalah fasilitas kenikmatan yang disediakan Allah untuk semua makhluk.

Semua makhluk mengenal Allah, yang berbeda hanya kadarnya saja. Tidak pernah, kadang-kadang, sering, sangat sering, itulah kadar makhluk dalam mengingat Allah. Mereka yang tidak pernah bukan tidak kenal tetapi melupakan dan hidup dengan naluri duniawinya. Makhluk yang sangat beruntung adalah mereka yang sering mengingat Allah.

Dalam kondisi apapun makhluk mengingat Allah maka Allah akan memberikan kebaikan. Jika anda memaki-maki Allah, menistakan Allah, menghujat Allah, merendahkan Allah, menyimpan Allah dalam telapak sendal mu, maka Allah akan terpingkal-pingkal tertawa dan dia taburkan rahmat dan kasih sayangnya kepada makhluk itu dengan sepenuh kasih sayangnya melebihi ibu-ibu binatang buas kepada anaknya.

Kenalilah Allah maka kamu akan mengenal dirimu sendiri. Makhluk dicipta dari citranya Allah maka siapa yang mengenal Allah dia akan mengenal dirinya. Sebaliknya siapa mengenal dirinya dia akan mengenal Allah. Jangan mengkhawatirkan Allah menjadi buruk karena perbuatan makhluknya, khawatirkanlah dirimu sendiri, karena semua kebaikan dan keburukan sebabnya dari dirimu sendiri.

Jika kita memaki-maki Allah kita masih fokus pada Allah, dan Allah akan tetap memberikan yang terbaik. Lupa adalah seburuk-buruknya perbuatan makhluk. Ingat Allah sekalipun dipandang ringan, tetapi itulah penyelamat hidup kelak. Ya Allah aku sudah merasakan tidak ada kebahagiaan untuk diriku, kecuali engkau pertemukan aku, istri dan keluarga ku, dalam keridhaan surga Mu. Wallahu ‘alam.

(Head Master Trainer)

Saturday, July 20, 2019

MANUSIA BERKARAKTER DUNIA

Oleh: Muhammad Plato

Allah menciptakan dunia dan akhirat, dengan masing-masing karakternya. (Muhammad Plato). Manusia tidak dapat menemukan kemutlakkan dalam kehidupan dunia, jika dia tidak mengenal akhirat. Kematian adalah anugerah Tuhan untuk membebaskan manusia dari kehidupan dunia yang memperdayakan.  

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran, 3:185).

MANUSIA BERKARAKTER DUNIA CENDERUNG BERSENANG-SENANG SENDIRI MELAMPAUI BATAS (MUHAMMAD PLATO)
Manusia hidup dengan pola pikirnya dan ucapan adalah karakternya yang bisa terdengar dan terlihat. Dunia memiliki karaktertistik dan berbeda dengan akhirat. Manusia yang sudah terpengaruh dengan kehidupan dunia akan menunjukkan karakter-karakter dunia sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Memperdaya.


Manusia dengan karakter dunia, cenderung melakukan tipu daya, merencanakan jahat untuk keuntungan pribadi. Kehidupannya diisi dengan tujuan-tujuan kesenangan pribadi dengan mengorbankan kepentingan orang lain. “kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Ali Imran, 3:185).

Sementara.

Manusia dengan karakter dunia, tidak memiliki komitmen tinggi. Pendiriannya tidak pernah ajeg, dan mudah berubah. Seperti kutu loncat, pendiriannya mudah berubah tergantung pada dimana tempat menguntungkan bagi dirinya. “Qul mata’uddunyaa qolilun = kesenangan di dunia ini hanya sebentar” (An Nisaa, 4:77).

Mengikuti Syahwat

Manusia dengan karakter dunia, mengikuti setiap keinginan hati yang cenderung pada kesenangan dunia. Kecintaannya pada harta melupakan kehidupan akhiratnya. Seluruh pergerakannya untuk kepentingan dan kecintaannya kepada dunia. Hitung-hitungannya berujung pada kesejahteraan dunia. Setiap pekerjaan diperhitungkan dengan keuntungan dunia dan sedikit sekali memikirkan akhirat. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (ali Imran, 3:14).

Menghinakan

Manusia dengan karakter dunia, cenderung menghinakan kedudukan manusia lain. Mereka memandang manusia berdasar pembendaharaan harta kekayaan. Tinggi rendahnya manusia dihadapan manusia berkarakter dunia, diukur dari kepemilikan harta dan benda. Semakin mewah kepemilikan benda, semakin tinggi derajatnya. “Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, (Yunus, 10:98).

Menggembirakan

Manusia dengan karakter dunia menyukai pesta-pesta. Kegembiraan hidup tidak dapat mereka dapatkan kecuali dengan pesta. Semakin besar pesta diadakan semakin puas hatinya. Seluruh hidupnya diisi dengan pesta-pesta. Pesta-pesta pernikahan, khitanan, ulang tahun, diciptakan melebihi batas keawajaran. Pesta-pesta dinikmati sampai larut malam, berhari-hari, untuk kesenangan dirinya dan bukan untuk membahagiakan orang lain. “Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia,” (Ar ra’d, 13:26).

Perhiasan

Manusia dengan karakter dunia menyenangi perhiasan. Mereka tampil di muka umum dalam berbagai macam aksesoris. Kendaraan dengan segala fasilitas dan kelengkapan yang hanya sekedar perhiasan. Rumah rumah dibangun besar dengan ukiran-ukiran yang hanya berfungsi sebagai kesenangan. Semakin langka, unik, perhiasan yang mereka miliki semakin senang hatinya. Ruangan interior rumah dihias dengan lemari-lemari yang memperlihatkan kemegahan, dan di isi dengan barang-barang antik yang harganya melebihi kebutuhan dasar hidup manusia. “Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (Az Zukhruf, 43:35).

Menghabiskan Rezeki

Manusia dengan karakter dunia menyukai belanja bukan untuk kebutuhan hidup atau berbuat baik pada orang lain, melainkan hanya untuk kesenangan semata. Barang-barang belanjaannya dikoleksi kemudian dipertontonkan untuk kesenangan. "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; (Al Ahqaaf, 46:20).

Kafir

Manusia dengan karakter dunia akan melupakan balasan-balasan akhirat. Hati dan pikirannya tertutup (Kafir). Mereka tidak begitu percaya pada balasan-balasan kebaikan di akhirat. Bagi mereka dunia adalah kesempatan hidup satu-satunya yang nyata dan jangan disia-siakan dengan bersenang-senang. “Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang”. (Muhammad, 47:12).

Permainan melalaikan

Manusia dengan karakter dunia senang permainan. Judi, sepak bola, touring, game online adalah permainan yang melalaikan. Manusia dengan karakter dunia, menyenangi permainan melebihi kebutuhan hidupnya. Mereka berteriak, memaki, saling benci, karena gagal dalam permainan. Manusia-manusia dengan karakter ini, menghabiskan uang untuk permainan. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan (la’ibun, walahwun), … Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Al Hadiid, 57:20).

Begitulah karakter-karakter manusia dengan keterikatan dengan dunia. Prilakunya bisa kita saksikan sebagaimana dikabarkan di dalam Al-Qur’an. Saya tidak menyinggung siapapun, tetapi hanya menyamapaikan apa yang ada dalam Al-Qur’an. Jika berkenan membenarkannya itulah dari Tuhan kita yang Esa, jika tidak berkenan mungkin ada kesalahan bahasa lisan yang kurang santun dari saya. Tulisan ini tidak bertujuan menggurui orang lain, tetapi untuk memeringati diri sendiri.

Tuhan mencitapakan dunia dengan karakternya bukan untuk dihindari, tetapi untuk diamnfaatkan sesuai dengan kadar kebutuhan yang wajar, atau tidak melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kepada orang-orang yang melampaui batas. Hanya Allah pemilik kebenaran dan manusia tempatnya salah dan kekurangan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Sunday, July 7, 2019

PETUNJUK MEMBACA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kata iqra tidak sebatas dipahami sebagai arti kata sederhana membaca. Jika iqra hanya dipahami sebagai kata membaca, kita termasuk yang awam dalam beragama. Iqra memiliki makna mendalam dan proses inti dari makna iqra harus benar-benar sampai kepada orang-orang beriman.

Iqra adalah membaca akibat setelah kejadian. Setiap kejadian menghasilkan akibat bisa meninggikan dan merendahkan. “(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),” (Al Waa’qiah, 56:3).

Bagi orang-orang beriman setiap kejadian adalah meninggikan dan bagi orang-orang tidak beriman, kejadian bisa merendahkan. Bagi orang beriman tidak ada satu kejadian di muka bumi ini yang merendahkan, karena Allah sudah mengabarkan akibat baik dari setiap kejadian. Semua akibat kejadian bagi orang beriman adalah kebaikan yang lebih baik.

Berdasar petunjuk Tuhan, panduan dasar membaca kejadian hanya dua yaitu semua sebab adalah Tuhan dan semua akibat adalah Tuhan. (Muhammad Plato)
Agar mampu membaca setiap kejadian berakibat meninggikan, maka dalam membaca kejadian harus dibaca berdasar petunjuk dari Tuhan. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,” (Al ‘Alaq, 96:1). Membaca harus mengikuti pedoman, bimbingan dari Tuhan sang pencipta. Tidak akan pernah putus asa orang-orang beriman jika membaca setiap kejadian berdasar petunjuk Tuhan.

Tanpa bantuan Tuhan, membaca kejadian dapat berakibat fatal bagi kehidupan. Membaca bencana, tanpa petunjuk dari Tuhan, bisa jadi kemunkaran dan keterpurukan. Kekalahan dalam persaingan jika dibaca tanpa panduan dari Tuhan bisa jadi sengketa dan peperangan. Kehilangan orang-orang terkasih jika dibaca tanpa bimbingan Tuhan dapat mengakibatkan gangguan jiwa.

Berdasar petunjuk Tuhan, panduan dasar membaca kejadian hanya dua yaitu semua sebab adalah Tuhan dan semua akibat adalah Tuhan. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Hadiid, 57:3). Jangan membaca tanpa pengetahuan dari Tuhan, sebab kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi kecuali apa-apa yang telah dikabarkan oleh Tuhan dalam kitab suci. Jangan so tahu!!!

Jika sudah tahu, semua sebab dan akibat adalah Tuhan, maka lepaskan semua persepsi negatif terhadap kejadian demi kejadian, karena semua skenario Tuhan Yang Maha Baik adalah menguji kita untuk menjadi yang terbaik sebagai persiapan kembali kepada Tuhan. “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Yasin, 36:83).

Allah tidak menerima kembali jiwa-jiwa yang kotor. Hanya jiwa-jiwa yang suci yang akan kembali kepada Allah. Untuk itulah segala kejadian adalah ujian yang menyucikan jiwa manusia untuk kembali kepada Pemiliknya. “sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (As Syams, 91:10).  

Itulah panduan membaca dari Tuhan. “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". (Yasin, 36:17). Saya hanya menyampaikan apa-apa yang dikabarkan oleh Tuhan. Wallahu ‘alam.

(penulis Head Master Trainer) 

MENGUASAI PENGETAHUAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kemampuan manusia dalam menciptakan kecerdasan buatan, membuka peluang berbagai macam kejahatan dilakukan. Konfirasi kekuasan dapat dilakukan dengan melakukan manipulasi informasi melalui media cetak, elektronik, audio dan visual. Masyarakat awam akan mengalami kesulitan membedakan kelompok mana yang benar-benar membawa kebaikan untuk tujuan negara dan kelompok mana yang membawa kebaikan hanya untuk sekedar kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Keberhasilan politik Israel menguasai tanah Palestina tidak lepas dari konspirasi menguasi pengetahuan menggunakan media massa. Di Amerika Serikat, informasi tentang Palestina selalu negatif. Di AS sekarang 26 persen wartawan, analis, dan pejabat di lembaga-lembaga sosial dan politik dipegang oleh orang-orang Yahudi. Sebanyak 56 persen dari penulis dan ahli hukum terbaik di New York adalah Yahudi. Sekitar 7 dari 11 anggota Dewan Keamaan Nasional AS adalah Yahudi. (Maheswara, 2010, hlm. 66).

Media massa harus dikuasai untuk kemajuan dan pewarisan generasi bangsa berkualitas berlandaskan nilai-nilai agama. (Muhammad Plato)
Edward Said mengatakan sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran dan TV terkemuka di AS yang memiliki wartawan kebangsaan Arab atau beragama Islam. (Maheswara, 2010, hlm. 115). Menurut data statistik media massa pada tahun 1956, menyatakan bahwa Yahudi memproduksi 819 surat kabar dan majalah dengan berbagai macam bahasa pada beberapa negara. Yahudi menguasai produksi surat kabar dan percetakan dengan berbagai cara, salah satunya adalah monopoli perdagangan kertas untuk menguasai pemberitaan dunia. (Maheswara, 2010, hlm. 129-130). Di AS hampir 90 persen pekerja film mulai dari sutradara, produser, editor, artis, dan krunya adalah orang-orang Yahudi. Mereka sangat mendominasi perfilman di Amerika dan dunia. Mereka juga memperkuat pengaruhnya lewat dominasi kantor berita, media massa, perfilman, keuangan dan lembaga dunia. (Maheswara, 2010, hlm. 134-135).

Dari 21 persen (14 juta) populasi penduduk dunia, orang Yahudi memiliki beberapa prinsip hidup sukses antara lain; 1) pengetahuan adalah kekayaan paling nyata. 2) orang sukses adalah kalangan professional dan wirausahawan. 3) bangga jadi diri sendiri dan tingkatkan kreativitas. 4) Untuk menguasai pendapat umum, yang pertama diperhatikan ialah mengacaukan pendapat umum dengan cara menyampaikan beragam pendapat saling bertentangan. 5) kuasai pers sampai ke tingkat di mana semua berita disalurkan melalui kantor-kantor berita kita ke semua bagian dunia. Kantor-kantor berita menjadi institusi yang akan menyiarkan berita yang telah mendapat izin. 6) Literatur dan jurnalisme merupakan dua kekuatan pendidikan yang sangat penting, dan karena itu pemerintah Yahudi akan menjadi pemilik sebagian besar dari jurnal-jurnal yang ada. Kalau ada 10 jurnal swasta, maka pemerintah Yahudi akan memiliki 30 jurnal. (Maheswara, 2010, hlm. 138-154).

Agama adalah hal yang paling diperangi oleh mereka. Para rohaniawan akan didiskreditkan, pengaruh mereka hari demi hari akan terus berkurang. Kebebasan hati nurani yang bebas dari agama telah dikumandangkan di mana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan. (Maheswara, 2010, hlm. 157).

Informasi di atas tidak mengajak kita untuk mendeskreditkan suatu bangsa, tetapi untuk belajar dari mereka. Kita harus mulai melakukan perubahan, membangun kesadaran tinggi, untuk menguasai, mengembangkan dan mengendalikan pengetahuan untuk kepentingan bangsa. Media massa harus dikuasai untuk kemajuan dan pewarisan generasi bangsa berkualitas berlandaskan nilai-nilai agama.

Peradaban-peradaban tinggi dunia, selalu dibangun oleh nilai-nilai agama. Sekalipun pada akhirnya runtuh karena keserakahan dan kesombongan manusia. Maududi (2000, hlm. 12) berpendapat “nilai agama memiliki peranan besar dalam membentuk dan menegakkan sejarah kehidupan bangsa yang berperadaban”. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer)

SEBAGIAN BESAR MANUSIA TERSESAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Saya berkesimpulan sebagian besar manusia tersesat. Mungkin banyak orang protes atas pernyataan ini. Namun saya tidak mau berdebat, karena apa yang saya katakan ada dasarnya. Sumber dasar sebuah pernyataan adalah pengetahuan dasar. Pengetahuan dasar yang saya gunakan untuk sebuah pernyataan adalah kitab suci Al-Qur’an.

“dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin, 36: 61-62).

Wajar jika terjadi perbedaan, karena ada logika Al-Qur’an yang sangat sulit dipahami oleh logika alam. Namun demikian logika Al-Qur’an sedikit-demi sedikit akan terbukti keberannya di alam. Tidak ada hambatan sedikit pun bagi Allah untuk membuktikan logika-Nya dalam Al-Qur’an untuk dibuktikan di alam.

JALAN LURUS

Apakah benar sebagai besar manusia disesatkan setan? Allah memerintahkan silahkan pikirkan! Ukuran tersesat menurut Al-Qur’an adalah keluar dari jalan yang lurus. Jalan lurus adalah menyembah hanya kepada satu Tuhan yang Ghaib. Selain itu maka telah disesatkan oleh setan. Ini jalan lurus versi Al-Qur’an, jika ada konsep jalan lurus yang lain, silahkan kita buktikan saja di akhirat nanti siapa yang benar. Saya tidak akan terlibat dalam perdebatan sekarang karena kebenaran Allah yang tahu.

Jika kita ambil data kasar secara statistik, jumlah manusia yang benar-benar berkomitmen taat kepada satu Tuhan yang ghaib, dari tujuh miliar manusia hanya satu miliar jumlahnya. Dari satu miliar berapa persen manusia yang menjaga komitmennya secara ajeg kepada satu Tuhan? Jumlahnya sesuai dengan keterangan Al-Qur’an hanya sebagian kecil. Jumlah mereka yang telah berkomitmen taat pada satu Tuhan antara 10-50 persen. Jumlah ini saya prediksi dari keterangan Al-Qur’an di bawah.

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.  (Al Anfaal, 8:66-67).

Dari kelompok yang berkomitmen menyembah satu Tuhan Ghaib masih ada kurang lebih 50 sd. 90 persen yang berhasil disesatkan setan. Jika ditambah dengan jumlah enam miliar manusia yang belum berkomitmen pada satu Tuhan, maka jumlah manusia yang disesatkan setan antara 6,5 s.d. 6,9 miliar manusia. Jumlah ini hanya tafsiran saya terhadap keterangan Al-Qur’an. Benar salahnya hanya Allah yang tahu.

“Allah tidak memberi kekuasaan berdasar ukuran jumlah, tapi lebih mengutamakan kualitas”. (Muhammad Plato)
Bila kita cek dalam kehidupan sehari-hari kita bisa saksikan hanya 10 s.d 50 persen anak-anak sekolah yang biasa melaksanakan ritual shalat lima waktu berjamaah. Angka persentase ini tidak jauh berbeda dengan mereka yang sering bangun di sepertiga malam, dan melaksanakan doa di waktu dhuha. Dari 250 juta penduduk beragama Islam di Indonesia, jika diukur kualitas keberagamaannya akan menunjukkan kisaran anggka persentase yang sama sebagaiman diisyarat dalam Al-Qur’an.

HUKUM HIDUP

“Allah tidak memberi kekuasaan berdasar ukuran jumlah, tapi lebih mengutamakan kualitas”. Siapapun manusianya, mereka yang menggunakan potensi akalnya, dan punya komitmen tinggi terhadap cita-citanya mereka akan mengendalikan dunia”. Orang Islam berkualitas adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai kendaraan untuk kehidupan akhirat dan “menyimpan kekayaan dunia di tangannya, bukan di dalam hatinya” (Abu Bakar As Syidiq). Jumlah orang-orang ini sedikit, namun kekuasaannya berlipat dua sampai 10 kali lipat.

Orang Yahudi di Amerika serikat mereka sangat berkomitmen tinggi terhadap cita-citanya, jumlahnya hanya 6 juta orang atau 2,5 persen dari populasi nasional penduduk Amerika Serikat. Selain jabatan presiden, orang-orang Yahudi memegang semua jabatan strategis pemerintahan AS. (Maheswara, 2010, hlm. 66). Data ini membuktikan kebenaran Al-Qur’an bahwa kekuatan bukan di jumlah tetapi ada di kualitas.

Pada tahun 1970 jumlah penduduk Yahudi di dunia hanya ada 12 juta jiwa. Tidak kurang dari 12 persen hadih nobel perdamaian dalam berbagai bidang ilmu jatuh ke tangan Yahudi. Sekitar 25 persen wartawan di Washinton dan New York adalah Yahudi, hampir tidak ada wartawan koran dan tv berkebangsaan Arab Islam. (Maheswara, 2010, hlm. 115-117). Singapura adalah negara kecil ditengah-tengah bangsa berpenduduk besar Asia Tenggara, namun dari negara kecil ini ekonomi dikendalikan.

KESIMPULAN

Hukum ini menjadi pelajaran bagi dunia pendidikan untuk selalu mengutamakan kualitas, bukan pada jumlah statistik. Target pendidikan dalam bentuk statitsik Angka Partisifasi Kasar (APK) bisa jadi gulma dalam pendidikan, karena target pendidikan bergeser ke jumlah statistik bukan di produk dan kualitas. Produk dan kualitas pendidikan yang mendasar dan tidak boleh berubah adalah membangun manusia bermoral tinggi yaitu melalui peningkatan keyakinan dalam kehidupan beragama yang berdampak pada kesejahteraan dunia dan akhirat.

Menghapus mata pelajaran agama dalam pendidikan bisa berdampak fatal pada generasi bangsa. Manusia sifat dasarnya buruk, maka jika tidak ada kewajiban, dia akan mengikuti sekehendak nafsunya. Agama adalah kehendak baik yang menuntut orang untuk wajib melaksanakan kebaikan. Jika agama tidak diwajibkan dalam sebuah pendidikan, maka manusia akan hidup sekehendak nafsunya yang cenderung membinasakan dirinya.

Jika agama dijadikan kewajiban pribadi tidak melibatkan lembaga pendidikan, maka kita sudah tahu bahwa sebagian besar manusia disesatkan setan, hingga kita bisa tebak di masa mendatang, agama akan hilang dalam kolektif memori bangsa. Negara-negara sekuler telah menjadi bangsa yang tengah mengalami ancaman keruntuhan dalam peradaban, karena di dalam memori kolektif bangsa mereka, agama hampir punah.

“tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang ditakuti bangsa Yahudi, kecuali umat Islam berkualitas. (Maheswara, 2010, hlm. 120). Umat Islam memiliki Al-Qur’an sebagai pedoman manusia berkualitas. Hingga umat Islam tidak akan mudah diperdaya. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, July 6, 2019

JABATAN ADALAH PENDERITAAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Menarik untuk disimak dan dicerna, ketika acara serah terima jabatan dua orang pejabat berbicara tentang hakikat jabatan. Mereka menyampaikan hakikat jabatan dan kita menyimak bertarung dengan ego.

YANG BERPISAH

innalillahi wa innailaihi rojiun”, ini adalah ekpresi seorang pejabat ketika menerima amanah jabatan baru dalam acara pisah sambut. Apa sebab kalimat ini harus terucap dari pejabat rendah sampai pejabat tinggi? Semua karena betapa berat beban dunia akhirat yang akan ditanggung oleh seorang pejabat. Allah telah memberi peringatan betapa bodohnya manusia ketika menerima jabatan yang diamanahkan kepadanya.

Ucapan innalillahi wa innaliaihi rojiun didasari oleh dalil-dalil yang memberatkan dan kerasnya ancaman Allah kepada seorang pejabat. “Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat”. (HR. Ath-Thabrani).

Allah telah memberitahu bahwa kita makhluk terbodoh dihadapan Nya. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh” (Al Ahzab, 33:72).

dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh” (Al Ahzab, 33:72).
Mengapa langit, bumi, dan gunung enggan dibebani amanah jabatan? Sepertinya langit, bumi, dan gunung lebih cerdas dari manusia. Terungkap dalam Al-Qur’an manusia telah menyesali diri menjadi manusia.  “… pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah". (An Nabaa, 78:40). Tanah tidak menerima amanah dari Tuhan, maka tanah bebas dari hisab di yaumil akhir.

Sesungguhnya “jabatan adalah penderitaan”, sebagaimana kisah Nabi Muhammad saw memikulnya selama 63 tahun. Setelah meninggal pun hujatannya tidak pernah reda. Setiap pejabat memegang kekuasaan atas tanah, langit, gunung, dan segala yang hidup di dalamnya. Segala keluh kesah, kehancuran, kesakitan, penderitaan, kesenangan, dan kesejahteraan seluruh makhluk yang ada di dalamnya adalah tanggung jawab pejabat yang diamanahi.

Seorang pejabat diamanahi langit, bumi, tanah, dan segala yang hidup di dalamnya. Tanah, bangunan, seluruh aset, kucing, kecoa, tikus, semut, dan manusia, segala kesulitan dan kesenangan berada dalam tanggung jawab pejabat yang diberi amanah. Inilah kekhawatiran langit, bumi, dan gunung-gunung apabila menerima amanah.

Para pejabat harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, inilah amanah berat yang diemban bagi seorang pemimpin. Rahmat bagi seluruh alam artinya pejabat harus mensejahterakan seluruh wilayah langit, bumi, gunung, dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Ini adalah perintah langsung dari Allah untuk pejabat.  

Allah akan menghisab dengan teliti atas apa yang telah dikerjakan bagi setiap pejabat berkaitan dengan kondisi makhluk yang ada di wilayah kekuasaannya. Semut yang terinjak, kucing yang terdzalimi, anjing terperosok lubang, akan bersaksi. Inilah perkara besar bagi pejabat di yaumil akhir.

YANG DISAMBUT

“jangan minta jabatan, karena jabatan tidak boleh diminta”. Ini adalah ekpresi dari pejabat yang menempati tempat baru. Perkataan ini juga berdalil dari hadis dan Qur’an. Rasulullah Saw berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jabatan tidak boleh diminta karena di dalamnya ada beban berat bahkan kerugian besar. Kerugian yang paling ditakuti yang diberi tanggung jawab sebagai pejabat adalah tidak mendapat pertolongan Allah ketika bertugas. Jangankan meminta, diberi saja langit, bumi, dan gunung menolak. Mereka yang diberi jabatan sudah dikatakan bodoh oleh Allah, apalagi yang meminta.   

Maka, rezeki para pemimpin yang paling diharapkan dan menjadi anugerah terbesar adalah mendapat limpahan ampunan Allah swt. Doa-doa yang diharapkan dari rakyatnya oleh para pemimpin ADALAH mohonkanlah LIMPAHAN ampunan untuk kami yang akan menanggung azab di hari kiamat nanti.

Di Malaysia, penulis menyaksikan sehabis jumatan bersama jamaah satu per satu sultan didoakan. Sebaik-baiknya doa adalah mendoakan pemimpin agar diberi ampunan dan kemudahan dalam menjalankan tugas, karena  jika doa terkabul maka kebaikan dan kesejahteraan akan didapat oleh masyarakat. 

Inilah pesan moral tinggi dari acara pisah sambut dua orang pejabat. Semoga Allah melimpahkan ampunan kepada kita semua.  Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Wednesday, June 12, 2019

PESAN DARI HATI GUBERNUR


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Menyaksikan diskusi Gubernur Jawa Barat degan Ustad Rahmat Baequni di akun youtube Atalia Kamil publikasi tanggal 10 juni 2019, berjalan dengan beberapa audien yang tidak mengikuti etika musyawarah. Musyawarah adalah forum adu argumentasi logis, adu data, fakta, berteori, berdalil, dan menafsir, bukan teriakan-teriakan seperti nonton sepak bola atau demontrasi. Musyawarah perlu suasana tenang, agar bisa konsentrasi dan menyimak paparan pembicara. setelah itu, audien memahami, menerapkan, menaganalisis, mensintesa, dan menilai pengetahuan yang diterimanya, selanjutnya memutuskan. Apakah mau jadi orang baik atau tetap berburuk sangka? 

Saya mengamati, apa yang dilakukan Ustad Baequni murni adalah menafsir bentuk bangunan masjid, dan menghubungkan dengan dalil-dalil tentang akan munculnya dajjal. Sebatas ini apa yang dilakukan Ustad tidak mengundang permasalahan, namun ketika tafsir ini mengundang reaksi berupa cemoohan, ejekan, dan fitnah, dan merendahkan kepada orang dibalik perancang masjid, inilah prilaku yang bertentangan dengan agama.

Setelah mengamati penjelasan Gubernur Ridwan Kamil, menjadi jelas bahwa bentuk bangunan masjid tidak ada ketentuan khusus dalam penggunaan bidang. Lingkaran, segitiga, bujursangkar, persegi panjang, jajaran genjang, travesium, limas adalah kenyataan alam. Semua masjid ternyata memiliki unsur-unsur bidang tersebut, dan menjadi jelas bahwa kita tidak bisa konsisten mengatakan satu bidang milik kelompok kelompok tertentu.

"Sebuah keberuntungan bagi para ibu kandung, ketika anak-anaknya dihujat dan direndahkan, karena penderitaan ibu kandung adalah kedudukan tinggi anak-anaknya dihadapan Allah". (Muhammad Plato)
Kesimpulannya, tafsiran Ustad Baequni tentang Dajjal adalah peringatan kepada umat untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan, untuk hidup lebih baik berada di jalan Tuhan. Penjelasan Gubernur Ridwal Kamil mengajarkan agar umat Islam berpengetahuan luas, agar niat baik tidak dikotori dengan prilaku buruk. Menghina, mencemooh, merendahkan, adalah prilaku sangat dilarang dalam agama, apalagi dilakukan kepada seorang pemimpin.

Namun dalam diskusi itu ada pesan mendalam dari hati Gubernur Ridwan Kamil, pertama; resiko terberat seorang pemimpin harus kuat menerima hujatan dan fitnahan yang tidak akan pernah ada hentinya. Pesan ini beliau sampaikan dengan bersumpah dan menghadirkan Ibu kandung dalam diskusi tersebut. Tindak tanduk seorang pemimpin tidak lepas dari tafsir masyarakat, yang kadang lebih cepat beredar tafsir negatif.

Kedua; kehadiran ibu kandung dalam diskusi adalah pesan mendalam dari hati Gubernur Ridwan Kamil kepada masyarakat, ketika seorang manusia dihujat dan direndahkan, kita harus merasakan apa yang dirasakan oleh ibu-ibu yang mengandung dan melahirkannya. Kehadiran ibu kandung Gubernur dalam diskusi sesungguhnya Beliau ingin mengingatkan bahwa ibu-ibu kandung kita menginginkan anak-anaknya hidup sejarahtera, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bukan jadi manusia-manusia penghujat yang menentang ajaran agama.

Sebenarnya sebuah keberuntungan bagi para ibu kandung, ketika anak-anaknya dihujat dan direndahkan, karena penderitaan ibu kandung adalah kedudukan tinggi anak-anaknya dihadapan Allah. Sebaliknya sebuah kerugian besar bagi ibu kandung, ketika anak-anaknya jadi penghujat dan pencemooh, sebab penderitaan ibu kandung melihat anaknya jadi pencemooh adalah kedudukan rendah anak-anaknya dihadapan Allah.

“Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan”. (At Tahrim, 66:7). Niat adalah prilaku yang melandasi setiap tindakan. Hadis menjelaskan, niat baik sudah terhitung satu kebaikan, dan niat buruk tidak dihitung keburuhkan sebalum dilakukan. Gubernur Ridwan Kamil sudah menjelaskan tidak ada niat untuk hal-hal buruk dalam setiap bangunan masjid yang Beliau rancang. Semuanya diniatkan untuk kebaikan.

Saya pikir, dari kejadian ini semua orang harus banyak membaca agar berwawasan luas apa lagi umat Islam. Setiap manusia dibekali dengan kemampuan untuk menafsir setiap benda atau kejadian. Saya ingatkan kembali, ilmu dasar menafsir adalah tafsirlah semua benda dan kejadian dengan positif, jika tafsir itu negatif cari efek positifnya. Alam raya diciptakan Allah dengan kebaikan, maka semua benda dan kejadian harus jadi kebaikan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)  

Saturday, June 8, 2019

MENGHIDUPKAN PIKIRAN


OLEH: MUHAMMAD PLATO

“supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (pikirannya) dan supaya pastilah (ketetapan adzab) terhadap orang-orang kafir.” (Yasin, 36:70)

Berpola pikir akhirat dengan berpola pikir duniawi memiliki perbedaan signifikan. Dari dulu hingga sekarang, pola pikir manusia hanya berkutat pada dua kemungkinan, yaitu berpola pikir dengan keterikatan duniawi dan berpola pikir keterikatan akhirat. Penulis coba jelaskan beberapa karakteristik dari kedua pola pikir tersebut.

Pertama, orang berpola pikir duniawi menganut keyakinan Atheis atau Agnostik. Ciri khas mereka adalah menghilangkan pola pikir akhirat. Menghilangkan pola pikir akhirat, sama dengan menghilangkan kemutlakkan dalam berpikir. Sifat dari pola pikir duniawi adalah relatif, tidak punya ketentuan pasti dan pesimis.

Kedua, dalam pola pikir duniawi, kejadian baik tidak selalu berakibat baik, sebaliknya kejadian buruk tidak selalu berakibat buruk. Dari sudut pandang duniawi, orang-orang jujur bisa masuk penjara, dan orang-orang jahat bisa masuk istana. Jadi cara baik dan buruk bisa dilakukan untuk mencapai tujuan, tanpa ikatan moral ketuhanan.

Ketiga, pola pikir duniawi, melihat sebab kejadian berada diluar dirinya dan bersifat material. Kejadian buruk penyebabnya sangat tergantung pada benda-benda (manusia) yang ada disekelilingnya. Maka, berprasangka buruk adalah karakter pola pikir duniawi.

Keempat, pola pikir duniawi melihat dunia sebagai benda-benda terpisah. Perbedaan dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan. Berkuasa dalam pola pikir duniawi adalah mendominasi dan mengendalikan dengan kekuatan fisik. 

"Sesunguhnya orang-orang yang tidak meyakini adanya akhirat, dia telah mematikan pikirannya". (Muhammad Plato)
Selanjutnya, pola pikir akhirat ditandai dengan berlakunya kemutlakkan, kebaikkan akan berdampak kebaikan yang lebih baik untuk pelakunya. Ada beberapa ciri yang bisa kita amati dalam berpola pikir akhirat.

Pertama; Dalam pola pikir akhirat, orang-orang yang masuk penjara (menderita) sudah pasti dengan ketidakjujurannya, dan mereka yang masuk istana (bahagia) pasti memiliki kemuliaan. Pengetahuan ketidakjujuran yang masuk penjara, dan kemulian yang masuk Istana bukan diukur dari penglihatan manusia, tapi dari ketentuan Allah Yang Maha Mengetahui dan Teliti.

Kedua; Kemutlakkan dalam pola pikir akhirat, dapat membantu manusia tetap optimis, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Pilihan hidup dalam pola pikir akhirat yaitu antara baik dan lebih baik. Kesabaran bagi orang-orang yang berpola pikir akhirat adalah berbuat konsisten dalam kebaikan.

Ketiga; Pola pikir akhirat selalu berprasangka baik kepada Tuhan. Setiap kejadian buruk datang dari diri sendiri, dan setiap kejadian baik adalah dari Tuhan Yang Maha Baik. Kesalahan datang dari kebodohan dirinya, bukan dari kesalahan orang lain. Maka, menyalahkan orang lain adalah perbuatan salah.

Keempat; dalam pola pikir akhirat, kebaikan tidak ada dikepala setiap manusia, tapi ada dalam pikiran Tuhan yang dipersepsi manusia. Manusia tidak bisa memaksakan kebenaran atas nama Tuhan, namun harus saling mengingatkan. Sedangkan menerima dan menolak kebenaran seorang manusia adalah hak prerogatif Tuhan.  

Panduan berpikir duniawi adalah alam dan panduan berpikir akhirat adalah kitab suci. Secerdas-cerdasnya manusia tidak mengenal akhirat dia bodoh, sebodoh-bodohnya manusia mengenal akhirat, dia cerdas. Mengenal pola pikir kehidupan akhirat adalah kemutlakkan dalam berpikir. Tanpa keyakinan Akhirat, manusia telah tersesat di jalan sesat.

Maka siapakah orang-orang yang berada di jalan lurus? “orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.” (Lukman, 31:4). “Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). (Al Mukminuun, 23;74).

Sesunguhnya orang-orang yang tidak meyakini adanya akhirat, dia telah mematikan pikirannya. Semoga kita semua mendapat ampunan dari Allah swt. Wallahu’alam.

(Penulis Head master Trainer)

Friday, June 7, 2019

TEOLOGI MUDIK

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Menyaksikan berjuta-juta kendaraan roda empat dan roda dua dijalanan, seperti melihat migrasi besar-besaran burung dan Bison. Jika melihat fenomena ini dan melepaskan egoisme kita sebagai manusia, memang benar pada hal-hal seperti yang dikatakan oleh Ibnu Arabi, pada manusia ada prilaku yang sama dengan kebinatangan. Memang kita, pada dasarnya mewakili berbagai sifat-sifat yang ada pada binatang.

MUDIK ADALAH TARIAN KOLOSAL REPRESENTASI MANUSIA KEMBALI KE ASAL
Pulang kampung atau mudik bukan hanya di Indonesia, di negara negara lain pun sama. Di Malaysia, Tiongkok, Bangladesh, Korea, India, Turki, Arab Saudi, punya tradisi mudik, mereka juga manusia punya rasa rindu kampung halaman dan orang tua. Namun mudik di negara-negara lain tidak seheboh budaya mudik di Indonesia karena kita termasuk negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia.

Mudik adalah reprentasi kembali ke asal. Konsep kembali ke asal di dalam kitab suci Al-Qur’an dijelaskan dalam berbagai ayat. “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (Yasin, 36:83). Mudik bisa jadi adalah gambaran ruhaniah bagaimana berbondong-bondongnya jiwa-jiwa manusia kembali kepada Tuhannya. “kemudian kepada Allah-lah kamu kembali,” (Al An’aam, 6:60). Asalnya dari Allah kita akan kembali kepada Allah.

Ada tempat tiga tempat kembali di dunia yang jadi representasi kembali ke asal.  Pertama tanah kelahiran. Tanah kelahiran selalu menjadi ikatan untuk kembali karena bagian dari asal. Kedua, orang tua (ibu). Rahim ibu sebagai tempat asal, untuk itu ibu jadi daya pikat untuk kembali. Ketiga, tanah kuburan. Siapapun manusianya, akan kembali ke tanah.

Mudik adalah fenomena sosial sebagai tarian kolosal manusia, tarian spiritual tahunan untuk mengingatkan manusia, kita semua akan kembali kepada sang Pencipta. Sebagaimana tarian sufi  yang berputar-putar sebagai bentuk ketundukkan alam semesta kepada ketentuan Tuhan.
Selamat mudik salam buat semua keluarga dikampung. Jangan lupa berbagi dengan tetangga dikampung, harta terbaikmu yang dibagikan bukan dipamerkan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Monday, June 3, 2019

PEMIKIR BARAT PENJAGA AYAT QURAN


OLEH : MUHAMMAD PLATO

Boeree (dalam Supardan, 2015, hlm. 212), menjelaskan  Sigmund Freud mempostulatkan kehendak terhadap kesenangan sebagai sumber segala sumber segala dorongan dalam diri manusia, sementara Alfred Adler mempostulatkan kehendak untuk berkuasa. Sedangkan Victor Emil Frankl (logoterapi) mempostulatkan “kehendak untuk makna” sebagai sumber utama motivasi manusia.

Para pemikir Barat, jika kita kaji dari Al-Qur’an mereka mengemukakan pemikiran-pemikiran bersifat parsial. Ini sesuai sesuai dengan karakteristik alam yang nampak terpisah-pisah. Pola pikir ini dikenal sebagai kelompok Newtonian.

Jika kita menggunakan Al-Qur’an sebagai sudut pandang, maka sifatnya menjadi saling keterkaitan. Pola pikir Al-Qur’an sama dengan kaum Fisika Quantum yang memandang alam sebagai sistem saling keterkaitan (interconection). Hidup manusia saling ketergantungan, dalam keseimbangan seperti gerak yin dan yang yang dijelaskan oleh Fritjop Capra.

Sigmund Freud melalui pengamatannya, Beliau hanya bisa memahami bahwa manusia bertindak atas dasar kehendak terhadap kesenangan. Melalui kemampuan akalnya Beliau melakukan anlisis, dalam berbagai karakteristik tindakan manusia didasari oleh kehendak terhadap kesenangan. Apa yang dikatakan Freud tidak salah, karena pada dasarnya manusia memiliki kehendak pada kesenangan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran, 3:14).

Alfred Adler memfostulatkan kehendak berkuasa sebagai seluruh aktivitas manusia. Pendapatnya memiliki kesamaan dengan Nietsche, bahwa seluruh aktivitas manusia bertujuan mencari dan mempertahankan kekuasaan. Kedua pemikir ini sama-sama mengatakan bahwa dalam diri manusia ada kehendak berkuasa. “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah, 2: 340). Perintah sujudlah kamu kepada Adam, ditafsir oleh Muthahari sebagai tanda bahwa pada diri manusia ada potensi atau naluri berkuasa. Potensi ini berhasil dibaca oleh Adler dan Nietsche dan dikembangkan menjadi teoiri psikologi dan politik.

Jangan terlalu percaya kepada manusia-manusia yang berbicara ingin memelihara kesucian kitab suci Al-Qur’an, sementara ucapannya menghalang-halangi manusia dari hidayah Tuhan. (Muhammad Plato)
Victor Emil Frankl motivasi manusia dilandasi oleh kehendak untuk makna. Manusia berhasil memberi nama-nama pada seluruh benda karena mampu menemukan makna dibalik benda. Motivasi seseorang dilandasi oleh makna terhadap benda atau kejadian. Tuhan tidak akan ditaati jika tidak memiliki makna bagi kehidupan manusia. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (Al-Baqarah, 2:31). Jika makna Tuhan bagi seseorang baik, maka dia akan taat kepada Tuhan. Sebalik jika Tuhan dimaknai sebagai sesuatu yang tidak berdaya ketika terjadi pembantaian, maka Tuhan akan diabaikan. Manusia bertindak dan diam karena didorong oleh kebermaknaan.

Penulis tidak mau mengklaim bahwa seluruh ilmu pengetahuan milik orang Islam hanya karena ada dalam Al-Qur’an. Tetapi ingin memberi kesadaran bahwa Tuhan Yang Maha Tahu menurunkan kitab suci, memberi kabar tentang kejadian pada setiap makhluk. Al-Qur’an bukan untuk orang Islam, tapi untuk dunia dan orang Islam diberi amanah untuk menyampaikannya.

Para pemikir Barat adalah para penjaga ayat Allah, mereka meyakini secara parsial dengan bahasa logika mereka sendiri. Mereka tidak mengabaikan Tuhan sebagai pencipta dan merasa mereka sendiri penciptanya. Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan belum kita uji keagungannya. Bukan manusia yang akan memelihara kesucian Al-Qur'an, tapi Tuhan sendiri yang memeliharanya.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Inna nahnu najjalnadzdzikra, wa innaalahu lahaapidiin. (Al Hijr, 15:9). Penulis tidak terlalu percaya kepada manusia-manusia yang berbicara ingin memelihara kesucian kitab suci Al-Qur’an, sementara upcapannya menghalang-halangi manusia dari hidayah Tuhan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, June 1, 2019

SOFTWARE OTAK TERCANGGIH


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Setelah usai jam kerja, kita tidak pernah langsung pulang, kadang diisi dengan diskusi tentang banyak hal berkaitan dengan pendidikan atau agama. Diskusi tidak terasa sampai dua jam hingga pulang kemalaman. Suatu ketika, pertanyaan ini dikemukakan oleh kawan yang ingin memahami logika Tuhan, yang penulis kembangkan dari Al-Qur’an.

Pertanyaannya adalah, “dari mana asal ide bahwa Al-Qur’an sebagai sumber logika Tuhan?” Pertanyaan mendasar ini butuh penjelasan tidak sederhana. Penulis harus berpikir dan memilah milah dari mana memulai menjawab pertanyaan ini agar mudah dipahami. Jawaban harus terstruktur mengandung penjelasan sebab akibat (logis) agar bisa dipahami dan dipelajari sendiri.

SEBAGIAN KECIL SEBAB AKIBAT KEHENDAK TUHAN DAPAT KITA LIHAT DAN PAHAMI, SEBAGIAN BESAR KITA TIDAK MENGETAHUINYA (MUHAMMAD PLATO)
Awal lahirnya ide logika Tuhan berangkat dari perintah berpikir yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an sebanyak kurang lebih 63 kali (TH. Muhammad, 1983) . Perintah berpikir pasti ada kaitan dengan akal (rasio) atau logika, karena hati identik dengan rasa.  Taslaman (2010) menjelaskan bahwa tanpa logika (bernalar) akal manusia tidak akan berfungsi. Perintah 63 kali berulang-ulang bukan perkara biasa, pasti ada kepentingan luar biasa yang harus dilakukan manusia.

Menurut Al-Ghazali (2004) akal (rasio) adalah perdana menteri. Tugas perdana menteri berbeda dengan raja. Perdana menteri memiliki wewenang mengatur segala urusan untuk kesejahteraan rakyat. Akal dituntut memiliki kemampuan berpikir cerdas dan kreatif untuk memberikan kedamaian dan kesejahteraan rakyat. Itulah gambaran begitu pentingnya rasio dalam diri kita. Maka dapat dipahami jika Allah memerintahkan berpikir sampai 63 kali dalam Al-Qur’an.

Perintah berpikir ditujukan kepada akal, sedangkan aktivitas berpikir adalah BERLOGIKA. Definisi berlogika penulis sederhanakan sebagai beripikir sebab akibat. Setiap akal pasti berlogika. Antara akal dan logika diumpamakan seperti HARDWARE dengan SOFTWARE. Akal adalah hardware dan logika adalah softwarePerumpamaan itu berlaku pula di alam semesta. Alam adalah hardware dan Al-Qur’an adalah software. Dalam tubuh manusia, seluruh tubuh adalah hardware dan logika adalah software.

Manusia adalah hardware tercanggih yang tidak akan pernah ada tandingannya di muka bumi ini. Penciptanya adalah Allah swt. Hal yang membedakan kualitas manusia adalah isi software. Manusia kualitas nomor 3 menggunakan software logika alam empiris, manusia kualitas nomor 2 menggunakan logika kehendak akal semata, dan manusia kualitas nomor 1 menggunakan logika kehendak Tuhan.

Logika (kehendak) Tuhan adalah software tercanggih untuk akal manusia. Tidak semata-mata Allah menciptakan hardware jika tidak dengan software-nya. Maka software itu adalah dalam Al-Qur’an, berupa pola-pola berlogika menurut petunjuk dan kehendak tuhan Allah swt.

Dasar berlogika menurut petunjuk tuhan Allah swt. adalah menjadikan Allah sebagai sebab sekaligus sebagai akibat. Informasinya bisa kita dapat dari Al-Qur’an. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadiid, 57:3). Sebab-akibat kejadian alam selalu mengikuti kehendak Allah dengan berbagai bentuk variasi sebab dan akibat kejadian. Apa pun yang terjadi di alam adalah bagian dari kehendak Allah dan sebab awalnya selalu dari Allah dan akibat akhirnya kepada Allah.

Sebab akibat kejadian alam di atas kehendak Allah sebagian kecil bisa didilihat dan dipikirkan, namun sebagian besar manusia tidak mengetahuinya. Apa yang kita lihat dan pikirkan hanyalah sebagian kecil dari sebab akibat kehendak Allah. 

Contoh-contoh logika (menurut petunjuk) Tuhan  atau disingkat logika Tuhan, dapat di search dalam blog SUKSES DENGAN LOGIKA TUHAN. Sudah ada 300 lebih artikel tentang pejelasan logika Tuhan. Jadi logika Tuhan adalah berpikir sebab akibat mengikuti petunjuk Allah swt, bersumber dari kitab suci Al-Qur’an.

Logika tuhan adalah software berpikir tercanggih untuk otak manusia, dikembangkan dari kitab suci Al-Qur’an.  Manusia-manusia pengguna software berpikir ini, akan jadi manusia-manusia berkarakter tangguh, berakhlak mulia, berpribadi agung, dan menjadi khalifah di muka bumi.

Demikian penjelasan saya kawan, semoga mendapat pencerahan dari Allah. Kesalahan milik pribadi penulis, dan kebenaran mutlak milik Allah. Penulis hanya melaksanakan tugas sebagai mana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “wa maa ‘alainaa illal balaagul mubiin”. "dan kewjaiban kami tidak lain adalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. (Yasin, 36:17). Wallahu ‘alam.

 (Penulis Head Master Trainer)