Monday, February 8, 2021

KERANCUAN DALAM BERFILSAFAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dimana letak kerancuan para filsuf? Bisa disimak dalam penjelasan di bawah. Harus dibaca tuntas agar bisa memahami isi tulisan ini. Berfilsafat itu sederhana jika sudah memahami kuncinya. Rahasianya akan saya jelaskan dalam tulisan ini.

Masyarakat awam cenderung membedakan secara kontradiktif antara filsafat dan agama. Para filsuf dipandang sebagai orang-orang sesat bagi mereka yang merasa telah memahami agama. Bagi para filsuf orang-orang beragama dianggap orang-orang bodoh yang hidupnya tertinggal dari kemajuan zaman. Dua pandangan ini sebenarnya mewakili orang-orang bodoh yang merasa dirinya benar. Kebodohan para filsuf mereka berpikir dengan menggunakan pengetahuan indera semata dari pengamatan alam dapat memahami rahasia kehidupan. Kebodohan para penganut agama yang bodoh adalah tidak mau memikirkan isi pengetahuan dari ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengungkap rahasia alam. Kitab suci Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah untuk umat manusia. Umat Islam bertugas untuk mempromosikan Al-Qur’an sebagai sumber informasi yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Al-Qur’an dapat jadi alat, pedoman, untuk menganalisis pemikiran seseorang.

Dasar dari berpikir adalah berlogika sebab akibat, sebagaimana pemikir dari kaum Stoa (stoa artinya ruang) berpendapat bahwa segala yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini dikuasai oleh hukum kausalita. Apa yang terjadi berlaku sebagai gerak. Tiap-tiap gerak ada yang menyebabkannya.  Kaum Stoa juga berpandangan bahwa semua yang terjadi di dalam dunia berlaku menurut hukum alam dan rasio, akal Tuhan untuk keselamatan manusia, sehingga kaum Stoa mempunyai pandangan hidup yang optimis. Kehidupan ini semua terjadi menurut kemestian dalam edaran yang tetap, terima itu dengan sabar dan gembira. (Hatta, 2006, hal. 152).

Bagi kaum Stoa manusia yang hidup sepenuhnya menurut kodrat alam adalah merdeka sepenuhnya sekalipun mereka tunduk kepada satu-satunya hukum yang menguasai semuanya. Manusia yang khilaf menyimpang dari semestinya akan sakit. Berbuat jahat dan berbuat salah dapatlah dipandang sebagai penyakit, sebagai penyelewengan terhadap norma alam. Manusia dihinggapi penyakit apabila ia mencita-citakan kekayaan, kehormatan dan tanda-tanda kebesaran diri yang tidak sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya. (Hatta, 2016, hlm. 154).

Baik dari dua pernyataan kaum filsuf di atas, sebenarnya para filsuf memahami bahwa kehidupan ini diatur oleh sebuah sistem yang teratur dan tetap. Menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan berarti pertanda tidak baik buat manusia. Untuk itu diharapkan manusia hidup selaras dengan sistem hidup yang sudah ditentukan. Manusia harus merasa merdeka dalam sistem yang sudah ditetapkan.

Kerancuan dari berpikir mewakili kaum filsuf di atas adalah memfokuskan pada hukum alam sebagai sumber hukum. Keyakinan inilah yang pada akhirnya melahirkan kaum materialis, tidak percaya Tuhan yang tidak terlihat. Pemikiran bersumber pada alam materi terus berkembang berdampingan dengan berbagai bidang keilmuan, dan ditemukannya metodologi penelitian. Para ilmuwan membuat keyakinan baru dimana alam sebagai sistem hidup, bisa dipahami, diamati, dan dibuktikan kebenarannya. Lahirlah sebuah pemahaman rancu yaitu segala sesuatu yang benar harus bisa dibuktikan dalam bentuk materi.  Sejak saat itu, manusia menjadi makhluk kerdil karena hanya bisa fokus memahami dunia materi yang sempit. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Ghaib mulia luntur, abai, tidak peduli, dan dianggap tidak ada.

Berfilsafat adalah kegiatan berpikir untuk mencari kebenaran hakiki, kebenaran yang tidak bisa dijawab lagi oleh manusia kecuali berserah diri kepada Tuhan. Berfilsafat tidak dilarang, karena sebagai aktivitas berpikir justru diperintahkan Allah sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Kerancuan para filsuf yang harus diwaspadai adalah menjadikan hukum alam sebagai sumber pengetahuan. Berfilsafat yang diajarkan oleh Tuhan adalah memahami, menganalisis, mengevaluasi, apa yang terjadi di alam sebagai bukti keagungan Tuhan Pecipta Semesta Alam. Kegiatan berfilsafat adalah sebuah proses pencarian bukti untuk meningkatkan keyakinan kepada ke-Esa-an Tuhan.

Doktrin mutlak dalam berfilsafat adalah segala sesuatu diciptakan Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan berfilsafat adalah memurnikan ketauhidan manusia dari ketauhidan kepada tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Alam adalah karya Tuhan yang bisa dieksplorasi untuk kesejahteraan manusia dengan tetap menjaga ketaatan pada keseimbangan, dan keharmonisan hidup antara manusia dengan alam.  

Jadi kerancuan para filsuf itu hanya sedikit yaitu mejadikan alam sebagai sumber pengetahuan yang benar dia dinamai kelompok empirisme, dan menjadikan akal sebagai sumber kekuatan manusia dalam memahami kehidupan alam, dia dinamai kelompok rasionalisme. Sesungguhnya alam adalah objek ciptaan Tuhan, dan akal adalah alat yang diciptakan Tuhan. Memahami alam dengan akal tujuannya membauktikan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Maka, selama kita berfilsafat dan tetap meng-Esa-kan Tuhan, itulah tujuan berpikir yang diperintahkan Tuhan. Maka sumber pengetahuan itu dari Tuhan yaitu Al-Qur'an dan alam adalah ayat-ayat Tuhan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an. Wallahu’alam. 

Saturday, February 6, 2021

BIARKAN ALLAH MEMIKIRKAN KITA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sebuah quot inspiratif dikemukakan oleh Simon Weil, “Bukan urusan saya memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan Tuhan. Dan urusan-Nya lah untuk memikirkan saya”.  Beliau seorang filsuf mistikus beragama Kristen dan aktivis politik berasal dari Perancis. Sangat produktif menulis dan beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Di sinilah persinggungan pemikiran sekalipun berbeda agama. Ajaran agama-agama di dunia mengandung beberapa kesamaan dalam berpikir. Namun ada kalanya perbedaan pemikiran, karena ada agama yang hanya sebatas pemikiran manusia. Al-Qur’an bukan hasil pemikiran manusia. Al-Qur’an berisi pikiran-pikiran Allah Sang Pencipta Alam Semesta. Al-Qur’an adalah anugerah terbesar bagi umat manusia, sebab di dalamnya terdapat panduan-penduan Nya bagaimana manusia bisa hidup sejahtera. Al-Qur’an adalah alat untuk menganalisis pemikiran setiap orang dari golongan, budaya, dan ras manapun orang tersebut.  

Jika kita analisis berdasarkan Al-Qur’an quot Simon Weil mengandung kebenaran yang sumbernya dari Al-Qur’an. Penulis akan membahas quot tersebut dengan panduan Al-Qur’an.  Sumber ayatnya adalah “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” (Al Baqarah, 2:152).

Kata kuncinya “ingatlah kepada Ku, maka Aku ingat kepadamu”. Jadi ketika kita ingat Allah, saat itu juga Allah sedang ingat kepada kita. Mengingat Allah salah satu cara manusia berterimakasih kepada Allah. Dalam setiap tarikan dan hembusan napas jika kita ingat kepada Allah maka itulah bentuk rasa bersyukur manusia kepada Tuhan Penciptanya. Ingat Allah substansinya bisa berterimakasih, mohon pertolongan, atau mohon ampun.  

Kegiatan shalat yang kita lakukan sebagai umat Islam adalah kegiatan mengingat Allah. Umat Islam punya kedisiplinan yang tinggi dalam mengingat Allah. Mengingat Allah adalah bagian dari aktivitas berpikir, aktivitas berpikir sama dengan doa. Ketika kita ingat Allah maka Allah ada dalam pemikiran kita, sebaliknya Allah memikirkan kita, karena dalam Al-Qur’an dijelaskan Allah memikirkan kita jika kita memikirkan Allah.

Jadi quot Simon Weil sebenarnya membahasa logikakan kalimat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 152. Jadi memikirkan tentang diri sendiri tidak begitu penting, karena Allah yang harus kita pikirkan sehingga Allah memikirkan tentang diri kita. Ketika kita memikirkan Allah dengan memohon pertolongan dari segala bencana, maka urusan Allah untuk memikirkan bagaimana memberi pertolongan kepada kita.

Jika kita selalu ingat, berpikir, memohon, meminta kesejahteraan hidup di dunia, maka Allah secara langsung telah bertanggung jawab untuk mensejahterakan hidup kita. Maka cukup dengan ingat atau memikirkan Allah Yang Maha Kuasa, maka setiap langkah kita, nafas kita, menjadi tanggung jawab Allah untuk mewujudkan dan menjaganya.

Untuk itu Allah Allah memperjelas lagi perintahnya, “ingatlah Allah banyak-banyak, maka kamu akan jadi orang beruntung”. (Al Jumu’ah, 62:10). Itulah penegasan jaminan Allah bagi orang-orang yang selalu memikirkan Allah. Jadi fokus pada Allah, selamat mecoba insya Allah sukses. Wallahu’alam.   

Sunday, January 10, 2021

BANGSA JANGKRIK

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Salah satu bangsa Jangkrik adalah merasa bahwa penjajahan adalah akibat ulah manusia yang menjajah manusia lain. Bangsa jangkrik selalu merasa bahwa dirinya adalah korban dari bangsa lain. Mental inferior menjadi penyebab sebuah bangsa menjadi bangsa jangkrik selama-lamanya.

Jangkrik adalah binatang kecil yang nasibnya selalu menjadi mangsa dan hiburan makhluk lain. Jangkrik diternak dikembangbiakkan, kemudian dijual untuk jadi pakan atau umpan untuk makhluk lain. Jangkrik juga dipelihara, diberi makan, untuk kemudian diadukan dengan jangkrik lain untuk sekedar hiburan. Jangkrik malang selalu jadi objek untuk kepentingan makhluk lain.

Jangkrik bunyinya nyaring, berbunyi ketika malam hari. Bunyinya membuat senang dan mengundang makhluk lain untuk memangsa. Sekalipun nyaring bunyinya, Jangkrik tidak jadi pengendali makhluk lain. Kemampuan jangkrik hanya berbunyi dan berbunyi. Jangkrik terus berbunyi nyaring tanpa disadari bahwa dirinya sedang diincar mangsa. Semakin nyaring berbunyi semakin menarik para pemangsa untuk memilikinya. Jangkrik selalu berisik dan berhenti ketika ada yang menggertak.

Sekalipun bunyinya nyaring dan sering berbunyi jangkrik tidak membuat dihormati dan ditakuti dihadapan bangsa lain. Jangkrik tidak pernah menyadari bahwa karena sering berbunyi menyebabkan dirinya selalu diketahui posisi dan keberadaannya. Jangkrik tidak menyadari karena bunyinyalah dirinya selalu berhasil ditangkap.

Jangkrik tampil menjadi kesatria tetapi lupa dirinya sedang dalam arena gladiator. Jangkrik bertempur mati-matian tetapi tidak sadar dia sedang dalam adu taruhan makhluk lain. Jangkrik tidak sadar bahwa dia sedang betempur melawan bangsanya sendiri. Jangkrik teriakannya lantang merasa sedang membela kebenaran, tetapi tidak sadar sedang menyebar kengerian dan kesedihan di tengah malam. Teriakan jangkrik tidak membuat dirinya terhormat tetapi hanya mengundang decak kagum makhluk lain, bahwa Jangkrik miliknya mengalahkan suara jangkrik lainnya.

Jangkrik selalu berada di atas kendali pemiliknya. Setelah sengit bertempur dengan tujuan tidak jelas, Jangkrik kembali masuk kandang kecil atau jadi pakan ternak. Jangkrik hanya berusaha tampil memesona dihadapan makhluk lain dengan mengembang-ngembangkan sayapnya. Jangkrik tidak mengenal kondisi dan situasi, setiap ada keleluasaan dan kebebasan, Jangkrik gunakan kesempatan untuk berbunyi nyaring memecah sunyi. Sekalipun suaranya jelas tapi tidak mengubah dirinya, dia tetap saja Jangkrik.

Teriak-teriak di tengah kedamaian malam sunyi adalah tingkah laku Jangkrik. Bangsa Jangkrik hanya bisa teriak dari dekat sarang dan kelompoknya. Jangkrik hanya bisa meloncat ketika ada bahaya mengancam, dan loncatannya tidak membuat dirinya maju tapi mundur. Jangkrik meloncat mundur, dan selalu berpikir mundur ketika ada serangan dan tantangan.

Senyaring-nyaringnya Jangkrik berteriak, tetap saja hidup Jangkrik di bawah kendali makhluk lain. Teriakan Jangkrik hanya retorika yang tidak pernah berbuat dan menjadikan dirinya ksatria. Jangkrik adalah makhluk yang nasibnya selalu tragis karena adu jangkrik. Jangkrik selalu sibuk bertempur dengan sesama. Bangsa Jangkrik adalah bangsa inferior yang selalu termakan isu-isu rencana besar makhluk lain. Bangsa Jangkrik selalu larut di atas rencana besar bangsa lain, dan tidak pernah punya rencana besar untuk bangsanya.

Jangkrik yang baik adalah Jangkrik yang menyadari sekalipun dirinya kecil dia harus punya rencana besar untuk umat manusia bukan hanya untuk diri dan bangsanya. Logika jangkrik yang baik dipandu oleh Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari”. (An Naml, 27:50).

Jangkrik yang baik adalah Jangkrik Superior, Jangkrik yang punya kekuatan mengalahkan kekuatan besar sekalipun dirinya kecil. Jangkrik yang baik adalah yang memiliki pasukan kecil namun bisa mengalahkan pasukan besar. Hidup Jangkrik! Wallahu’alam.  

SIAPA BERMENTAL INFERIOR?

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Keberhasilan pertama dari negara-negara Superior adalah merasa dirinya sebagai bangsa superior. Mentalitas ini sekalipun mereka miliki secara berlebihan tetapi dengan kolektif memori mereka sebagai superior dari waktu ke waktu mereka selalu menjadi pengendali dunia dan bahan perbincangan dunia. Mental superior telah membangun kepercayaan pada diri sendiri dan selalu memotivasi untuk menjadi bangsa terbaik di muka bumi.

Bagi siapapun membaca Al-Qur’an, Allah mengajarkan kepada umat manusia untuk menjadi umat Superior. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Ali Imran, 03:110).

Mental superior selalu membicarakan rencana-rencana bukan hanya untuk dirinya dan kelompok, tetapi untuk umat manusia. Mental superior selalu mengambil langkah-langkah kecil untuk mewujudkan mimpi besarnya. Mental superior selalu bertekad kuat apa yang direncanakannya harus bisa diwujudkan.

Sebaliknya, mental ninferior dimiliki oleh orang yang selalu membaca rencana besar orang lain, dan tidak pernah punya rencana besar.  Mental inferior dimiliki oleh bangsa yang selalu membaca rencana besar bangsa-bangsa lain. Mental inferior selalu merasa dirinya menjadi objek dari rencana besar orang lain. Pembicaraannya selalu terkait rencana-rencana besar orang atau bangsa lain.

Mental inferior selalu merasa menjadi objek rencana besar orang atau bangsa lain, hingga hidupnya menjadi tidak tenang karena merasa dikendalikan, dibyang-bayangi, dan terancam oleh rencana-rencana besar orang atau bangsa lain. Mental inferior menjadi sebab sebuah bangsa tumbuh menjadi bangsa busa yang mudah terhempas karena terpaan air selokan.

Bangsa-bangsa inferior selalu menulis dalam sejarahnya bahwa penyebab penjajahan adalah adu domba yang dilakukan oleh bangsa superior. Sejarah bangsa ditulis untuk mengutuk dan menghujat bangsa-bangsa superior yang telah menjajahnya. Sementara bangsa Superior menulis sejarah untuk membangun kebanggaan pada generasi penerusnya sebagai bangsa untuk melanjutkan superioritasnya di muka bumi. Bangsa Inferior sibuk mencari-cari kesalahan dan kelemahan bangsa lain sebagai dasar untuk dihina, dibenci, dan dicaci maki. Sementara bangsa Superior sibuk mencari kelemahan-kelemahan bangsa inferior untuk dikuasai, diduduki, dan dikendalikan.

Jika Allah memerintahkan kita untuk menjadi bangsa Superior, mengapa kita tidak membicarakan rencana-rencana besar kita dan bangsa ini untuk menguasai dunia? Mengapa kita harus larut dengan rencana-rencana besar orang lain atau bangsa lain? Jika bangsa lain berencana menguasai dunia, bangs akita harus punya rencana besar untuk menguasai dunia. Sikap dan mentar superior sebagai Allah ajarkan harus terpelihara dan menjadi kolektif memori bangsa. Rencana besar bangsa untuk dunia harus jadi obrolan masyarakat di warung kopi, kendaraan umum, diskusi ilmiah, pengembangan teknologi, dan penelitian-penelitian.

Tanda mental inferior pembicaraannya hanya membaca ancaman-ancaman besar dari luar seperti ancaman dajjal, elit global, zionisme, dan iluminati.  Hasil dari pembicaraannya adalah kecewa, rasa takut, curiga, permusuhan, rasa tak berdaya, dan putus asa. Pembicaraan tentang ancaman dajjal, elit global, zionisme, iluminati, terus disebar luaskan melalui media informasi dan dibahas oleh orang-orang mulai tukang beca sampai ilmuwan dan agamawan. Berita-berita horor ini terus disebarluaskan sampai masuk alam bawah sadar sebuah bangsa, hingga pikiran manusia-manusia yang ada dalam bangsa itu menjadi tawanan dan tertekan hingga masuk menjadi bangsa bermental inferior. Inilah penjajahan mental secara halus terus-menerus terjadi pada manusia-manusia yang sudah kadung bermental inferior.

Saatnya kita tampil sebagai manusia, bangsa dengan rencana-rencana besar untuk kehidupan manusia di dunia. Di bawah bimbingan Tuhan Yang Esa, rencana besar itu adalah mempersatukan seluruh dunia untuk menyembah satu Tuhan yaitu Allah swt. Rencana besar ini pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia dengan konsep Bhineka Tunggal Ika. Konsep Bhineka Tunggal Ika bukan hanya untuk kehidupan berbangsa bernegara dalam suatu wilayah bangsa, tetapi untuk mempersatukan kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Sumpah Palapa bukan untuk mempersatukan manusia dalam satu negara, tetapi untuk mempersatukan negara-negara di dunia. Inilah dasar historis dan religius rencana besar bangsa Indonesia yang harus jadi kolektif memori bangsa untuk menjadi bangsa Superior. Dimana ini harus diajarkan? Di sekolah.

“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”.  (Huud, 11:118). Inilah usaha mental yang harus kita bangun dari bangsa ini. Jika kita beriman kepada Allah, kita harus bermental Superior. Wallahu’alam.

Saturday, January 2, 2021

TIDAK DIIMANI PUN, HUKUM TUHAN PASTI TERJADI

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Banyak orang mengatakan, bagi yang percaya dan beriman, “jika kita berbuat baik maka akan berbalas kebaikan dan jika berbuat kejahatan maka akan berbalas kejahatan”.  Awam berpandangan bahwa terjadinya ketentuan hukum di atas jika kita percaya atau beriman kepada ketetapan hukum di atas. Dengan pandangan seperti ini banyak orang mengabaikan berlakunya ketetapan hukum ini.

Penulis perlu menjelaskan bahwa yang menetapkan hukum bahwa kebaikan berbalas kebaikan dan keburukan berbalas keburukan adalah Tuhan. Mungkin pembaca bertanya kepada saya, “dari mana Anda tahu bahwa itu hukum Tuhan? Anda kan tidak komunikasi dengan Tuhan dan Anda juga bukan Tuhan.

Jawaban saya adalah “saya mengetahui bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan dan keburukan akan dibalas keburukan dari kitab suci Al-Qur’an”. Kitab suci Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Tuhan melalui Jibril telah berkomunikasi dengan Nabi Muhammad SAW menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai lisan Tuhan. Jadi seluruh isi Al-Qur’an adalah lisan Tuhan, ketetapan Tuhan, Takdir-takdir Tuhan, hukum-hukum Tuhan, pola-pola pikir atau logika Tuhan.  

Mungkin ada pertanyaan selanjutnya dari pemirsa, “dari mana  bisa tahu bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan?” Untuk membenarkan Al-Qur’an sebagai firman Tuhan dibutuhkan akal sehat yang tidak terkungkung oleh egoisme dan prasangka buruk karena pengaruh lingkungan. Untuk menguji apakah Al-Qur’an firman Tuhan, posisi nalar harus dalam posisi nol dalam arti tidak memiliki kepentingan apa-apa kecuali ingin membuktikan apakah Al-Qur’an firman Tuhan atau bukan.

Kebenaran Al-Qur’an dapat diuji melalui filsafat, ilmu-ilmu logika, ilmu alam, ilmu tumbuhan atau hewan, dan ilmu sosial. Seluruh ayat Al-Qur’an mengandung kebenaran nyata. Namun karena keterbatasan akal manusia, ada ayat ayat yang sudah terbukti dan ada ayat-ayat yang belum terbukti karena keterbatasan akal dan pengetahuan manusia. Seiring dengan waktu, dan keuletan manusia dalam memahami dan mengembangkan ilmu, ayat-ayat Al-Qur’an akan terus membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan.

Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an firman Tuhan adalah Al-Qur’an mampu mengabarkan informasi di masa lalu dan mengabarkan informasi di masa mendatang padahal Nabi Muhammad SAW penerima wahyu yang tidak hidup di masa lalu sesuai informasi yang diungkap Al-Qur’an dan dan tidak hidup di masa depan sebagaimana informasi yang disampaikan Al-Qur’an.

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pada usia 40 tahuan. Nabi Muhammad SAW lahir tahun 570 M. Jika pada usia 40 tahun Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, maka diperkirakan tahun itu adalah tahun 610 M. “Nabi Musa diperkirakan hidup tahun 1527 SM”. (https://manado.tribunnews.com). Ini berarti jarak antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad adalah 2097 tahun. Dalam rentang waktu 2097-an tahun Nabi Muhammad SAW yang dikabarkan tidak bisa membaca dan menulis, bisa mengetahui kejadian 2097 tahun yang lalu dari wahyu AL-Qur’an. Pada saat itu belum ada arkeolog atau sejarawan yang bisa menghitung atau meneliti tentang kisah Nabi Musa yang hidup 2097 tahun yang lalu. Padahal informasi yang disampai di dalam Al-Qur’an termasuk detail karena menyangkut prilaku dan situasi batin Ibunya Nabi Musa.

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai. Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya dari para rasul.” (Al Qashash, 84:7).

Selanjutnya Einstein lahir 1879 M. Jarak antara Nabi Muhammad SAW dengan Eisntein adalah 1269 tahun.  Einstein dianggap orang pertama yang mempopulerkan tentang teori relativitas waktu. Artinya waktu bisa mengalami perbedaan tergantung pada ruang dan tempat yang kita tempati. Waktu di puncak gunung bergerak lebih cepat dibanding gerak waktu di lembah. Teori ini diketahui setelah 1269 tahun setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu.

“Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al Hajj, 22:47).

Jika kita gunakan akal sehat , Nabi Muhammad SAW menerima wahyu Al-Qur’an yang isinya mengetahui informasi dua ribuan tahun yang lalu dan mengetahui ribuan tahun yang akan datang. Fakta ini bisa jadi bukti bahwa apa yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah wahyu dari Tuhan, dan Nabi Muhammad SAW sendiri adalah utusan Tuhan.

Tidak perlu banyak bukti untuk meyakini Al-Qur’an sebagai lisan Tuhan, karena sedikit demi sedikit apa yang dikabarkan dalam Al-Qur’an akan terbukti kebenarannya. Juga diyakini atau tidak, kebaikan sudah pasti dibalas kebaikan dan keburukan dibalas keburukan. Itulah ketetapan Tuhan yang pasti. Orang percaya mau tidak, tidak akan mengubah hukum itu terjadi. Orang beriman akan mengalami hukum ini, dan orang tidak beriman akan menerima hukum ini. Jika ada orang membantahnya dan tidak percaya itu logika Tuhan,  bagi penulis itu kabar gembira karena kelak yang tidak menerima kebenaran Tuhan akan mendapat hukuman setimpal. Wallahu’alam. 

TUHAN KU TUHAN

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Membaca sebuah buku berjudul “tuhannya Para Filsuf dan Ilmuwan” saya tersadar bahwa selama ini, keimanan para filsuf dan ilmuwan bukan kepada Tuhan tapi kepada manusia-manusia terdahulu yang sudah lebih dahulu mengemukakan pemikiran. Naskah-naskah buku filsafat dan keilmuan dikatakan shahih jika memiliki sandaran pada pemikiran manusia terdahulu. Para pemikir-pemikir terhadahulu seperti tuhan-tuhan yang menentukan pola berpikir dan tindakan yang harus dilakukan para filsuf dan ilmuwan.

Tuhan adalah pemilik kekuasaan yang mendominasi hati, pikiran dan prilaku manusia. Tuhan pemilik segala tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manusia. Tuhan adalah pemilik takdir-takdir yang tidak mengalami perubahan. Tuhan menentukan dan menetapkan ukuran terjadinya dan terciptanya sesuatu.

Pengakuan manusia kepada Tuhan ditentukan bukan pada kegiatan-kegiatan ritual keagamaan belaka, tetapi dibuktikan pada seluruh tindakan hidupnya merupakan tindakan-tindakan yang telah dikehendaki Tuhan. Tindakan manusia dimulai dari pola pikir dan paradigma yang dibangun. Dalam ajaran agama, pola pikir yang melandasi tindakan adalah niat-niat yang mendahului setiap tindakan.

Allah kelak di akhirat membangkitkan manusia berdasarkan pada niat-niat yang ada dalam pola pikirnya ketika melaksanakan tindakan. Filsuf dan ilmuwan mengawali segala tindakannya berdasarkan pendapat, teori dari filsuf dan ilmuwan terdahulu. Dapat diprediksi bahwa seluruh tindakan para filsuf dan ilmuwan adalah teori-teori manusia terdahulu. Pemikir-pemikir terdahulu menjadi tuhan-tuhannya para filsuf dan ilmuwan.

Celakanya, pola pikir seperti filsuf dan ilmuwan digunakan dalam mengembangkan ilmu keagamaan. Para pendakwah kelak mengemukakan pendapatnya berdasarkan pendapat-pendapat imam terdahulu. Bahkan kebenaran pendapat dalam beragama harus sama dengan pendapat imam terdahulu. Ukuran kebenaran menjadi bukan pada sumber kebenaran ajaran agama tetapi pendapat para imam terdahulu. Imam-imam terdahulu telah menjadi tuhan-tuhan para penganut agama.

Selain itu, ada pendakwah yang merujukkan kebenaran pendapatnya berdasarkan aliran yang dianutnya. Pendapat-pendapat dari aliran di luar alirannya dianggap salah dan sesat. Semua pendapatnya di dalam beragama harus diseleksi berdasarkan pendapat-pendapat yang memang dikemukakan oleh imam dalam satu garis aliran. Aliran-aliran dalam agama telah menjadi tuhan-tuhan para penganut agama yang fanatik pada alirannya.

Nabi Muhammad saw hanya meninggalkan kitabullah dan sunnahnya. Sumber kebenaran yang harus menjadi rujukan dalam setiap tindakan adalah ajaran agama di dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnahnya. Manusia hanya bisa berkomunikasi dengan Allah melalui kitab suci Al-Qur’an. Segala informasi yang disampaikan di dalam Al-Qur’an adalah dialog antara makhluk dan Pencipta. Al-Qur’an mengandung pola pikir dan niat-niat sang Pencipta dalam menciptakan segala tindakan dan kejadian di muka bumi.

“Hanya kepada Allah-lah sujud segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Ar’rad, 13:15)

Manusia diciptakan berdasarkan rupa Tuhan, menjadi bayangan Tuhan yang segala tindakannya mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh Pemilik Bayangan. Segala niat, pola pikir, kecnderungan hati, manusia mengikuti Pemilik Bayangan. Manusia-manusia yang hati dan pikirannya mengikuti Pemilik Bayangan adalah mereka yang berTuhan kepada Tuhan penciptanya.     

“Apakah kamu tidak memperhatikan  Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,” (Al Furqaan, 25:45).

Jika manusia memahami Al-Qur’an maka pertanggungjawabannya langsung kepada Tuhan. Membenarkan pemahaman Al-Qur’an atas dasar kesamaan pada imam yang telah lebih dulu seolah-olah sebagai pemilik kebenaran adalah pembelokkan tauhid. Imam-imam terdahulu hanya menyampaikan pemikiran secara informatif untuk membantu mengenal siapa Tuhan yang harus ditaati, mereka tidak punya hak mengklaim, dan tidak pernah berpendapat bahwa pendapatnya adalah kebenaran mutlak. Manusia-manusia kurang akallah yang menjadikan imam-imam terdahulu dan aliran seolah-olah sebagai pemilik mutlak kebenaran. Wallahu’alam. 

Friday, January 1, 2021

SUKARNO DAN PIKIRAN GLOBAL ISLAM

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sukarno adalah sosok pribadi unik. Dalam dirinya mengalir darah seorang seniman, nasionalis, sosialis, agamis, dan melankolis. Hanya satu yang tidak dimiliki, yaitu dia bukan seorang kapitalis atau komunis. Sukarno adalah sosok multitalenta dan cocok dikatakan sebagai sosok berkarater entrepreneur sebagai teladan anak-anak muda di abad ke-21. Mewakili seorang muslim Sukarno layak dijadikan sebagai salah satu tokoh pemikir atau cendekiawan muslim berpengaruh di dunia. Pemikiran-pemikiran Sukarno yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis shahih dapat membuka peradaban umat Islam di Indonesia dan dunia.

Keberanian Sukarno dalam beragama Islam adalah manafsir Al-Qur’an melalui pintu ijtihad. Bagi Sukarno ajaran Islam membawa misi kepada penganutnya untuk menjadi umat yang satu dalam satu naungan satu Tuhan. Revolusi yang dilakukan Nabi Muhammad saw adalah membalikkan keyakinan masyarakat dari banyak Tuhan (Politeis) kembali ke keyakinan agama Ibrahim AS, yaitu agama satu Tuhan (Monoteis).

Arifin, (2017, hlm. 33), menjelaskan Islam sebagai ajaran global (universal) diperkenalkan oleh Sukarno pada saat sidang umum PBB ke-15 tanggal 30 September 1960. Sukarno tampil dengan didampingi ajudan, sekalipun melanggar protokoler sidang PBB. Namun Sukarno tidak mau dikekang, ekpresif, dan kontroversial, penampilan Sukarno dengan ajudan membuat sidang menjadi heboh. Di tengah kehebohan itu, Sukarno menggugat tatanan dunia yang hanya terpolarisasi menjadi dua pandangan ideologi kapitalis dan komunis. Lalu Sukarno mengeluarkan isi pidato dengan mengutif ayat Al-Qur’an:

“Hai, sekalian manusia, sesunguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu sekalian kenal mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah yang lebih takwa kepada Ku. (Al Hujurat, 49:13).  

Inilah ajaran global dari Islam. Mengajarkan tentang adanya perbedaan suku dan bangsa, namun memerintahkan hidup berdampingan tanpa saling menindas. Kolonialisme dan imperialisme sangat bertentangan ajaran Islam. Imperialisme dan kolonialisme adalah ajaran penindasan terhadap suku dan bangsa dengan membawa kebencian dan merendahkan umat manusia satu sama lain. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada suku, bangsa, atau keturunan, melainkan pada ketaatannya (ketakwaan) kepada satu Tuhan. Jadi siapapun manusianya, dari manapun suku dan bangsanya, semua berkedudukan sama. Manusia apapun warnanya, dan bagaimanpun rupanya, dia hanya seongok daging dan tulang, tidak ada bedanya dengan binatang. Namun ketaatan manusia kepada intisari ajaran-ajaran Tuhan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusian, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial adalah kemuliaan bagi manusia, siapapun manusianya.  

Sukarno memperkenalkan Pancasila sebagai ideologi alternatif dunia yang sudah terpecah menjadi golongan kapitalis dan komunis. Pancasila adalah buah ijtihad Sukarno para ulama serta tokoh bangsa dalam memahami ajaran-ajaran Islam dari dalam Al-Qur’an. Melalui ijtihadnya Sukarno berhasil memperkenalkan Islam di pentas dunia sebagai ideologi alternatif di saat dunia terjebak konflik oleh kehadiran kapitalis dan komunis.

Globalisasi infromasi melalui teknologi adalah implementasi dari “lita ‘arafu” dalam arti kata perintah saling mengenal yang dikabarkan di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13. Tanpa melihat siapa yang menciptakan teknologinya, Islam menaungi seluruh pemikiran baik yang dikemukakan oleh umat manusia. To Build The World A New Order sesungguhnya ijtihad Sukarno dalam memperkenalkan ajaran Islam di tataran dunia global.

Dalam memahami ajaran global dari Al-Qur’an, Sukarno mengungkapkan “never leave history” sebagaimana Abraham Lincoln berkata “one can not escape from history”. Tidak ada satu orang manusia pun yang dapat lari dari hukum sejarah. Siapa berbuat jahat dia akan menerima kejahatan itu, dan siapa berbuat baik dia akan menerima kebaikan itu, itulah hukum sejarah. Kisah Fir'aun yang disisakan tubuhnya oleh Allah dapatlah kiranya ini pesan dari Allah di dalam Al-Qur’an bahwa sejarah memiliki peranan penting dalam hidup manusia agar manusia dapat memahami hukum-hukum global kehidupan yang berlaku sejak dahulu sampai sekarang sebagai pelajaran.

Ijthad menjadi pintu gerbang bagi manusia yang mau belajar dari Sejarah sebagaimana diperingatkan di dalam Al-Qur’an. “Sesunguhnya dalam kisah-kisah (sejarah) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal” (Yusuf, 12:111). Sekitar dua pertiga isi Al-Qur’an disajikan dalam bentuk kisah. (Arifin, 2017, hlm. 53). Keberadaan akal manusia sebagai alat berijtihad menjadi kunci yang berperan bagi kehidupan manusia yang mau belajar dari sejarah. Dan melalui pintu ijtihad Al-Qur’an akan terus menjiwai pikiran zaman.  Melalui pintu ijtihad Al-Qur’an akan tetap menjadi hati dan pikiran umat Islam dan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Wallahu’alam.

Saturday, December 26, 2020

PESANTREN ABAD MILENIAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Penulis mengapresiasi, hadirnya SMP Prima Cendekia (SMP PC) semoga menjadi jawaban terhadap harapan masyarakat tentang pendidikan berkualitas dengan landasan nilai-nilai keislaman. Di tengah krisis selalu hadir pembaharuan. Dengan bangunan sekolah megah berarsitektur modern, lingkungan bersih dan sehat, SMP PC memiliki visi menciptakan generasi-generasi digital religius. Semoga inilah pesantren abad milenial yang diharapkan masyarakat dunia abad ke-21.

Di tengah Islamophobia, umat Islam harus bekerja keras melakukan refleksi diri, mengapa wajah orang Islam dianggap menakutkan. Hendaknya umat Islam kembali kepada ajaran Allah dalam Al-Qur’an. Apapun persepsi orang tentang keburukan agama Islam, tidak akan selesai dengan hanya menyalahkan prilaku buruk orang terhadap umat Islam. Allah mengajarkan bahwa keburukan akan medatangkan keburukan, dan kebaikan akan mendatangkan kebaikan. (lihat; Al-Israa, 17:7).

Solusi terbaik dari kondisi islamophobia yang sedang melanda dunia Barat adalah melakukan perbaikan pendidikan Islam dengan melakukan reorientasi pendidikan Islam sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an yaitu mewujudkan generasi bertauhid kepada Tuhan Yang Satu, dan berprilaku rahmatan lil alamin sebagai visi global. Dunia pendidikan islam harus bekerja keras melahirkan manusia-manusia berkeyakinan pada satu Tuhan dan berprilaku global dari tindakan-tindakan lokal. Itulah visi pendidikan Islam yang harus dikembangkan pada abad ini.  

Selain tahfiz (menghafal) dan tahsin (tajwid) Al-Qur’an, sesuai dengan level perkembangan psikologi anak-anak, sudah sejak dini harus diperkenalkan pola-pola pikir sesuai perintah Allah dalam Al-Qur’an. Enam ribu ayat hafalan Al-Qur’an akan lebih bermanfaat jika bisa mengamalkan walaupun hanya satu ayat Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an adalah tindakan paling dasar dalam tahapan kognitif, harus dilanjutkan dengan memahami alam berdasar Al-Qur’an, menerapkan ajaran prilaku dari Al-Qur’an, menganalisis kejadian alam berdasar Al-Qur’an, mengevaluasi fenomena-fenomena dengan Al-Qur’an, dan menciptakan sesuatu bersumber pada Al-Qur’an harus mulai dikembangkan. Perlu metode dan model pembelajaran yang bisa mengajarkannya sejak dini.

Imam-imam besar zaman dahulu bukan saja hafal Al-Qur’an sejak usia dini, tetapi menjadi ilmuwan dan ulama yang berhasil mengembangkan ilmu dibawah nauangan Al-Qur’an. Sejak keruntuhan peradaban Islam, beradab-abad umat Islam kehilangan ilmuwan-ilmuwan besar karena tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Paradigma berpikirnya selalu menggunakan konsep-konsep yang dikembangkan bukan atas dasar keimanan pada pengetahuan dari Al-Qur’an. Kiblat pemikiran umat Islam telah berubah, bukan lagi kepada ayat-ayat Al-Qur’an tapi terjebak pada manusia-manusia yang menafsirkannya.   

Umat Islam terbawa masuk arus lingkaran setan. Berpikir dengan metode ilmiah yang menjadikan alam material dan akal sebagai sumber kebenaran. Perdebatan-perdebatan selalu diisi oleh egoisme sebagai pemilik kebenaran bukan sebagai orang-orang yang berserah diri kepada Tuhan sebagai pemilik kebenaran. Perdebatan tentang kebenaran selalu diisi dengan kedengkian, kebencian, dan kepentingan pribadi atau golongan. Padahal kebenaran yang diperbedatkan bukan milik manusia, tetapi mutlak milik Tuhan.

Penulis berharap lahirnya SMP Prima Cendekia dapat menjawab harapan umat manusia di seluruh dunia bukan hanya umat Islam. Allah tidak hanya menjadi Tuhannya umat Islam, Allah menjadi Tuhan bagi seluruh alam. Prilaku umat Islam harus mengacu kepada akhlak Allah yang memberi rezeki kepada semua makhluk tanpa membeda-bedakan. Kepada orang-orang kafir, Allah masih memberi kehidupan dan penghidupan. Nabi Muhammad adalah teladan bagaimana menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman berpikir dan berprilaku. Nabi Muhammad saw adalah Al-Qur’an berjalan yang harus jadi contoh dalam berkehidupan global.

Al-Qur’an mengandung ajaran-ajaran global yang bertujuan melahirkan manusia-manusia penyejahtera bagi seluruh alam. Di abad digital dan informasi global sudah menjadi tuntutan bahwa manusia-manusia yang hidup di abad sekarang adalah mereka yang berpikiran global dengan berpedoman pada ayat-ayat Al-Qur’an.

Semoga kehadiran SMP PC dapat memberi warna hadirnya pendidikan Islam yang diharapkan masyarakat dunia di abad milenial. Tahun ini SMP PC sudah memulai pendaftaran dengan jumlah siswa terbatas hanya 150 orang dengan jumlah siswa per kelas 30 orang. Semoga Allah menaungi setiap langkah kita. Wallahu’alam.

LOGIKA YANG BERSERAH DIRI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Logika Tuhan adalah logika berserah diri kepada petunjuk Tuhan. Logika Tuhan dibangun dari kebodohan manusia yang tidak mengetahui dan Allah Maha Mengetahui. Sebagai mana Allah berfirman, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah, 216:2). Logika Tuhan adalah logika yang dikembangkan dari keimanan kepada kitab suci Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan dari Tuhan dan petunjuk dalam segala aspek kehidupan.

Berlogika adalah berpikir sebab akibat. Setiap manusia berakal akan menggunakan akalnya dengan berpikir sebab akibat. Jadi tidak ada satupun manusia di muka bumi yang tidak berlogika. Kemuliaan manusia salah satunya terletak pada kemampuan akalnya dalam berlogika.

Seperti sudah saya jelaskan perbedaan berlogika terletak pada sumber pengetahuan yang diimaninya. Ilmuwan yang meyakini bahwa alam adalah sumber dari segala sumber pengetahuan, mengimani bahwa kebenaran harus sesuai dengan apa yang terjadi di alam. Ilmuwan yang meyakini bahwa Tuhan adalah sumber segala sumber pengetahuan, mengimani bahwa kebenaran harus sesuai dengan apa yang ditakdirkan Tuhan.

Ilmuwan yang meyakini alam sebagai sumber pengetahuan memiliki ego bahwa akal manusia menjadi alat pencipta kebenaran. Kebenaran-kebenaran yang diperkenalkan sangat egoistik karena menjadi milik manusia sebagai penciptanya.

Ilmuwan yang meyakini Tuhan sebagai sumber pengetahuan, menyerahkan ego akalnya  kepada kehendak Tuhan. Kitab suci Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan dari Tuhan sebagai pembimbing ego akalnya dalam berlogika. Akalnya berserah diri pada segala ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan. Logikanya berada di bawah bimbingan Tuhan.

Logika alam mengakui manusia sebagai pemilik persepsi, logika Tuhan mengakui bahwa Tuhan pemilik persepsi. Logika Tuhan menyerahkan segala persepsi atas apa yang telah dijelaskan dalam kitab suci Al-Qur’an. Semua persepsi yang dibangun logika Tuhan bersumber pada penjelasan segala sesuatu yang telah ditetapkan Tuhan di dalam Al-Qur’an. Kitab suci Al-Qur’an berisi logika-logika yang diajarkan Tuhan kepada manusia sebagai petunjuk kehidupan alam.

Perbedaan mendasar persepsi logika alam dan logika Tuhan terletak pada sumber pengetahuan yang digunakan sebagai ukuran kebenaran. Logika Tuhan adalah pola pikir yang akalnya berserah diri kepada segala ketetapan Tuhan. Akal tidak menciptakan logika berdasar pemahaman pada alam, tetapi pada apa yang telah dijelaskan Allah di dalam Al-Qur’an. Inilah logika berserah diri kepada ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan.

Perbedaan logika Tuhan dan logika alam terletak pada sumber yang diperpsepsinya. Logika Tuhan adalah logika terbuka untuk memahami Al-Qur’an sebagai sumber logika dari Tuhan. Kebenaran-kebenaran logika Tuhan bisa ditemukan di alam. Logika alam adalah logika terbuka untuk memahami logika-logika di alam tanpa mengakui keberadaan Tuhan. Logika Tuhan bersandar pada keterangan Al-Qur’an. Seluruh tindakan manusia hakikatnya adalah pekerjaan Tuhan bagi kaum yang menggunakan akal.

“Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfaal, 8:17).

Logika yang diharamkan adalah memahami logika kehidupan di alam tanpa pedoman pada pengetahuan yang diajarkan Tuhan dalam kitab suci Al-Qur’an. Berlogika Tuhan sama dengan berpikir dengan menyerahkan pemahaman logika berpedoman pada apa yang dijelaskan di alam Al-Qur’an. Jadi, logika manusia berserah diri kepada pengetahuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Wallahu’alam. 

BERLOGIKA ITU HARAM

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Logika adalah pelajaran yang wajib diajarkan pada murid-murid. Logika sering diperbincangkan dan diucapkan banyak orang, tetapi kalau ditanya apa itu logika? Jawabannya beragam dan belum tentu orang bisa menjelaskan bagaimana cara berlogika. Ada pula sebagian orang yang menganggap logika adalah pelajaran yang bertentangan dengan ajaran agama. Ulama-ulama terdahulu ada yang mengharamkan belajar logika. Mengapa berlogika haram?

Baiklah saya akan menjelaskan logika mana yang diharamkan oleh para ulama. Logika adalah berpikir sebab akibat. Berlogika adalah cara kerja atau prilaku organ tubuh manusia bernama otak. Setiap manusia punya otak. Maka sudah pasti setiap manusia berlogika.

Bahan baku untuk berlogika adalah pengetahuan. Manusia dilengkapi alat indera yaitu mata, telinga, perasaan, dan peraba. Melalui inderanya manusia mendapat pengetahuan. Pengetahuan-pengetahuan yang didapat oleh indera manusia akan diolah oleh otak dengan berlogika. Hasil dari berlogika adalah pemahaman dan akan jadi pola pikir. Pola pikir manusia sangat tergantung pada pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya.

Sumber pengetahuan terbagi menjadi dua, pengetahuan nyata dan pengetahuan ghaib (kasat mata). Pengetahuan nyata adalah segala sesuatu yang diindera bersumber dari alam nyata. Pengetahuan ghaib adalah segala sesuatu yang didapat berdasarkan pada yang ghaib yaitu dari Allah swt. Pengetahuan ghaib hanya bersumber pada kitab suci yang diturunkan pada utusan Allah, yaitu pada Nabi dan Rasul. Pengetahuan kasat mata yang bersumber dari mimpi, imajinasi, intuisi manusia termasuk pada pengetahuan alam.

Lalu logika mana yang diharamkan para ulama? Logika yang hanya mengandalkan kemampuan akal manusia mengolah pengetahuan yang bersumber dari hasil inderanya. Logika yang diharamkan para ulama adalah logika yang menjadikan sumber pengetahuan alam sebagai syarat kebenaran, dan pembenarannya mengandalkan logika alam semata berdasarkan pemahaman manusia. Logika itu dikenal sebagai logika material. Mengapa logika ini diharamkan? Karena manusia akan terjebak pada kehidupan duniawi, yang membenarkan kebenaran berdasarkan kenyataan. Logika ini akan menuntun manusia tidak percaya Tuhan (atheis) karena beberadaan Tuhan tidak dapat dilihat kenyataannya di alam secara materi. Inilah logika penyebab manusia menjadi Atheis dan tidak percaya Tuhan.

Sedangkan ulama yang membolehkan berlogika bersumber pada ketentuan bahwa manusia diperintah Allah untuk berpikir sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Logika yang dianjurkan para ulama adalah logika berserah diri kepada pengetahuan yang berasal dari Tuhan sebagai dasar kebenaran. Logika yang dianjurkan para ulama adalah logika yang mengandung keimanan kepada kebenaran bersumber pada pengetahuan wahyu dari Tuhan yaitu Al-Qur’an.

Maka logika terbelah menjadi dua yaitu logika Tuhan dan logika alam. Logika Tuhan bersumber pada pengetahuan dari Tuhan melalui Al-Qur’an yang dikabarkan kepada para Nabi dan Rasul, sedangkan logika alam, murni mengandalkan pengetahuan dari Alam dan akal manusia. Logika Tuhan adalah logika berserah diri pada apa-apa yang dikabarkan Allah melalui Rasulnya yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an.  

LOGIKA TUHAN = PENGETAHUAN DARI AL-QUR’AN >>>DIOLAH AKAL>>>KEBENARAN DARI TUHAN

LOGIKA MATERIAL = PENGETAHUAN DARI ALAM >>>DIOLAH AKAL>>>KEBENARAN DARI ALAM

Logika Tuhan menjelaskan seluruh kejadian alam sebagai ketentuan dari Tuhan, sedangkan logika alam menjelaskan kejadian alam sebagai ketentuan alam. Logika alam membenarkan segala ketentuan produk alam, menafikan keberadaan alam ghaib dan eksistensi Tuhan. Logika Tuhan menjelaskan segala ketentuan alam berasas pada takdir Tuhan dan mengukuhkan keberadaan Tuhan. Logika alam adalah logika terbatas, karena tidak menjelaskan alam ghaib. Logika Tuhan adalah logika tanpa batas karena Tuhan menjelaskan alam nyata dan alam ghaib.

Demikian sedikit penjelasan tentang ilmu logika yang perlu kita ketahui. Semoga bermanfaat dan semoga menjadi kesadaran untuk mulai menggunakan akal kita untuk mengolah pengetahuan dari Al-Qur’an yang menjelaskan kejadian di alam dan kejadian setelah kematian. Akal adalah anugerah terbesar manusia dari Tuhan, kelak akan diadili oleh Allah untuk apa akal mu digunakan? “Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (Yunus, 10:100). Wallahu ‘alam.

Sunday, December 20, 2020

PENDIDIKAN OMONG KOSONG

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Muhammad Nuzul Dzikri berpendapat agama Islam adalah agama data, agama ilmiah, agama referensi. Jika berbicara surga tanpa dalil maka omongan mereka hanya omong kosong. Pendapat ini dikemukakan berdasar pada ayat Al-Qur’an, “Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani". Demikian itu angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". (Al Baqarah, 2: 111).

Ayat ini mengandung nilai pendidikan, mereka yang mengajarkan bagaimana berbuat baik tanpa menampakkan bukti dirinya baik, maka pengajaran itu hanya Tilka amaaniyyuhum (angan-angan kosong belaka). Pengajaran yang baik harus dilengkapi dengan bukti-bukti kebenarannya.

Pendidik seperti bukti kebenaran, yang dapat dilihat oleh peserta didik. Apa yang diajarkan oleh setiap pendidik adalah kebenaran, dan pendidik itu sendiri adalah bukti kebenaran. Peserta didik yang statusnya anak-anak tidak akan begitu percaya pada omongan tanpa melihat bukti.

Prinsip ini seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhamad saw. Sebagai pembawa kebenaran dari Allah, beliau sendiri menjadi bukti bahwa apa yang diwahyukan Allah dirinya sendiri berada di jalannya. Berkhotbah tentang agama tetapi tidak mengabarkan sumber kebenarannya, bisa jadi omong kosong atau angan-angan saja.

Urusan paling berat dalam dunia pendidikan adalah mengabarkan kebenaran dan membuktikannya. Semua beban itu ada di tugas para pendidik. Para pendidik adalah sekualitas karakter Nabi Muhammad saw yang harus berusaha selalu berada di jalan kebenaran. Apa yang diajarkan oleh para pendidik harus terbukti pada dirinya. Kebenaran yang disampaikan kepada muridnya, pendidik harus bisa membuktikannya, dan dirinya sendiri adalah bukti kebenaran.

Pendidik yang mengajarkan tentang membaca dirinya harus membaca. Pendidik yang mengajarkan disiplin dirinya harus menjadi bukti disiplin. Pendidik yang mengajarkan kejujuran dirinya yang harus berpilaku jujur sebagai bukti. Pendidik yang mengajarkan kesehatan dirinya harus terbukti hidup sehat. Pendidik yang mengajarkan keimanan dirinya harus menjadi bukti orang beriman. Pendidik yang mengajarkan tentang kejujuran dirinya harus terbukti jujur. Pendidik yang mengajarkan harus hormat pada orang tua, dirinya sendiri harus jadi bukti selalu menghormati orang tua. Pendidik yang mengajarkan tentang shalat dan sedekah dirinya sendiri menjadi bukti ahli shalat dan sedekah.

Sesederhana itu tugas pendidik, namun jika tidak bisa melakukannya maka hanya akan jadi tilka amaaniyyuhum (angan-angan atau omong kosong belaka). Bertahun-tahun murid-murid mendapat pendidikan, namun jika para pendidik tidak menjadi bukti kebenaran apa yang diajarkannya maka apa yang diajarkan para pendidik hanya akan jadi mukaaan wa tasdiyatan (siulan dan tepukkan tangan belaka; Al Anfaal, 8:35)

“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: ‘Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?’ Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin” (al Baqarah, 2:118).

Banyak orang mencari tanda-tanda adanya kekuasaan Allah, dengan menunggu Allah berbicara kepada dirinya. Padahal sesungguhnya laut, gunung, sungai, air, udara, api, bahkan apa yang ada dalam dirinya sendiri adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ilmu pendidikan adalah ilmu Al-Qur’an. Seluruh dasar pemikiran filosofis, teori, harus mengacu kepada Al-Qur’an. Mengukur tindakan baik dan buruk sumber ukurannya adalah Al-Qur’an. Logika-logika yang dikembangkan pada pendidik harus bersumber pada Al-Qur’an. Pendapat-pendapat para ahli pendidikan harus dapat dibuktikan kebenarannya berdasar pada bukti yang ada dalilnya dari Al-Qur’an. Alam semesta, manusia, hewan, tumbuhan, adalah bukti-bukti kebenaran yang nyata sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Pembelajaran fisika, kimia, biologi, sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, adalah fakta yang dapat membantu murid-murid untuk menemukan bukti kebenaran Al-Qur’an. Semua mata pelajaran bertujuan untuk membuktikan kebenaran bahwa semuanya diciptakah Tuhan.

Semua pendidik harus memiliki ilmu pikir bersumber pada Al-Quran. Semua yang diajarkan pendidik apapun bidangnya hanya bertujuan membantu para murid untuk menemukan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an. Semua mata pelajaran adalah ilmu tentang tanda-tanda kebenaran ayat-ayat Tuhan. Semoga Allah membimbing kita semua untuk selalu menemukan bukti-bukti kebenaran dari Al-Qur’an atas segala apa yang kita ajarkan. Wallahu’alam.

Sunday, December 13, 2020

AMAL YANG TIDAK TERLIHAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Manusia tidak bisa melihat amal baik manusia lain yang sesungguhnya. Tim penilai amal manusia adalah Malaikat yang telah ditugasi Allah. Malaikat mencatat kebaikan ketika amal baik masih ada dalam niat, dan mencatat amal buruk ketika sudah dilakukan.

Mengapa manusia tidak bisa 100 persen menilai amal manusia lain? Pada dasarnya amal manusia terbagi menjadi dua yaitu amal terlihat dan tidak terlihat.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadiid, 57:3).

Atas dasar itulah prasangka yang harus kita miliki adalah prasangka baik. Jika kita selalu berprasangka baik maka malaikat selalu mencatat kebaikan untuk kita. Sekali lagi manusia tidak bisa menilai sepenuhnya pribadi seseorang karena ada amal-amal yang tidak terlihat yaitu amal batin atau amal laku diluar penglihatan manusia.

Kita sering terjebak oleh penglihatan mata. Mengukur atau menilai pribadi seseorang berdasarkan penglihatan dan pendengaran. Sementara padangan mata dan pendengaran sangat terbatas. Untuk itu Al-Qur’an adalah petunjuk dari Allah agar manusia terjaga dari keburukan prilaku akibat keterbatasan penglihatan mata dan pendengaran.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Albaqarah, 2:216).  

Bisa jadi kita melihat prilaku-prilaku buruk tentang seseorang, tetapi sesungguhnya orang tersebut memiliki prilaku baik yang tidak terlihat oleh pandangan mata kita, yaitu prilaku batin maupun prilaku di luar penglihatan dan pendengaran kita. Mungkin kita melihat prilaku seseorang buruk tetapi rezekinya lebih baik dari kita. Bisa jadi kita melihat dan mendengar prilaku seseorang buruk, tetapi dia terpilih menjadi pemimpin umat. Itulah tanda bahwa penglihatan dan pendengaran kita terbatas. Padahal Allah memberi rezeki dan kedudukan pada seseorang pasti dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya.

Prilaku mendasar yang cenderung manusia miliki adalah prasangka buruk. Manusia adalah makhluk pencari makna dibalik setiap kejadian. Kita selalu terjebak memberi prasangka buruk terhadap segala kejadian. Normalnya manusia selalu memberi prasangka baik yang terukur baik berdasarkan perasaannya akibat dari pengetahuan yang dilihat dan didengarnya. Juga memberi prasangka buruk terhadap kejadian atas dasar perasaan akibat makna dari sebuah kejadian yang dilihat dan didengarnya.

Allah mengajarkan bahwa setiap prasangka memiliki dua kemungkinan yaitu benar dan salah. Sebagian besar prasangka manusia adalah tidak benar. Untuk itu Allah membimbing perasaan dan pikiran kita untuk selalu berprasangka baik agar manusia terhindar dari prilaku-prilaku buruk. Ketika kita berprasangka baik Allah mencatat dan membimbing kita dijalan baik, sebaliknya ketika kita berprasangka buruk, kita telah ada pada resiko untuk berprilaku buruk.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat, 49:12).

Apa yang diketahui manusia lebih sedikit dari yang diketahuinya. Bumi yang ukurannya tidak setitik belum dapat diketahui seluruh sudutnya, apalagi dengan alam semesta yang terdiri dari tujuh lapis langit dan tujuh matahari. Untuk itu kita tidak bisa menilai prilaku seseorang yang hanya kita lihat pada saat kita melihatnya. Banyak prilaku-prilaku seseorang yang luput dari penglihatan kita apalagi dengan prilaku batin-batin seseorang.

Prangsangka yang dibimbing Allah adalah setiap prilaku buruk dan baik yang kita lihat pada seseorang adalah kebaikan dari Allah kepada seseorang. Keburukan adalah pengingat agar manusia selalu berbuat baik, bagi pelaku keburukan maupun bagi yang melihatnya. Berprasangka baik sesungguhnya amal baik yang harus selalu diupayakan setiap manusia, sebab prasangka adalah pangkal dari prilaku baik maupun buruk.

Demikian sebuah pelajaran untuk kita agar selalu berprasangka baik, karena amal-amal baik seseorang ada yang tidak terlihat. Demikian juga kita harus berpasangka baik pada setiap kejadian karena kita tidak tahu kebaikan apa yang akan terjadi dibalik kejadian itu. Amannya agar prilaku kita dijaga selalu baik, Allah memerintahkan banyak-banyaklah berprasangka baik dan berlindunglah kepada Allah agar selalu terlindung dari segala hal yang buruk. Prasangka adalah amal tak terlihat, kecil tapi bisa membawa seluruh kehidupan menjadi baik. Wallahu’alam. 

Saturday, December 12, 2020

MENJAGA OTAK TIDAK CEPAT PIKUN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Melalui kulihanya di youtube, Dedy Susanto seorang psikolog, mengemukakan beberapa tips bagaimana cara menjaga otak tetap awet. Ilmu ini sangat banyak manfaatnya bagi siapa saja yang ingin hidup sejahteral lahir batin.

Pertama, hormati jam tidur untuk menjaga otak tetap awet. Jam 7-9 malam harus rilek santai dan rebahan. Jika malam masih mikir berat mengganggu otak.Belajar tidak boleh malam, baiknya siang atau sore hari. Pekerjaan yang butuh analisa berat jangan dikerjakan malam-malam. Malam hari jangan minum kopi, supaya otak dihormati kealamiahannya untuk istirahat. “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (Al-Furqan, 25:47).  

Otak manusia 1,4 kg terdiri dari 100 milyar neuron. Jumlah neuron jika tidak dipelihara akan mengalami banyak yang gugur. Ilmu kita di otak ada folder-foldernya. Jika banyak neuron berguguran maka fungsi otak akan melemah seperti lupa, cepat pusing, dan sulit konsentrasi.


Kedua, hormati hak katarsis otak atau mengeluarkan kata unek-unek. Unek-unek jika tidak dikeluarkan maka otak lama-lama akan penuh. Jika penuh maka otak akan mengalami perlambatan perfoma. Jika gampang cape, gampang pusing, adalah tanda memori otak penuh. Keluarkan unek-unek melalui tulisan, atau berkomunikasi dengan sahat atau curhat dengan orang-orang yang dapat dipercaya. Orang banyak mendem unek-unek biasanya cepat marah dan mudah tersinggung. Marah berlebihan akan menyebabkan neuron berguguran. Tidur jangan dalam keadaan marah atau mendem masalah. Orang yang bekerja tanpa jeda akan menyebakan bergugurannya neuron. “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An nisaa, 4:1).

Ketiga, menyanyilah agar otak awet. Menyanyilah yang membuat kita enjoy. Hati-hati dengan lirik-lirik dalam nyanyian. Pilih lagu-lagu yang lirik-liriknya membuat optimis dan bahagia. Lagu membuat otak enjoy. Musik-musik instrumen yang membuat otak rilek sangat baik untuk kesehatan otak. Intinya bukan pada nyayian tapi peliharah otak dengan kabar-kabar gembira agar otak selalu sehat. Behubungan seks dengan istri membuat otak enjoy dan gembira. “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Al Baqarah, 2:223)

Keempat, membaca setiap hari minimal satu jam. Otak itu harus diasah. Membaca adalah salah satu cara untuk mengasah otak. Libur tidak boleh leha-leha tanpa membaca. Bacalah bacaan-bacaan yang menambah ilmu. Orang yang sering membaca akan memiliki daya ingat yang kuat. Para profesor rata-rata daya ingatnya kuat karena punya kebiasaan membaca. Jadi intinya malas membaca cepat pikun. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,” (Al Alaq, 96:1)

Kelima, setiap manusia diciptakan untuk menyenangi sesuatu. Lakukan sesuatu yang kita senangi. Setiap manusia harus memiliki hobi, atau sesuatu yang disenangi. Kita harus memiliki dan mengenali apa yang kita senangi. Hal-hal yang dikerjakan dengan rasa senang akan mendatangkan hormon bahagia yang membuat otak awet.

Keenam, otak tidak diciptakan untuk pura-pura. Jangan membiasakan hidup dengan topeng. Pura-pura baik, pura-pura sehat, pura-pura senang, dan sebagainya. Jadilah orang yang baik dihadapan Tuhan, bukan baik dihadapan manusia. Hindari perbuatan-perbuatan dosa, berusahalah untuk hidup di jalan terbaik menurut ajaran yang Allah perintahkan.

Ketujuh, bangun pagi jangan kaget.  Bangun pagi lakukan dengan penuh rasa syukur dengan lantunkan doa. Bangunkan anak dengan sentuhan halus. Nikmati gelombang alfa kondisi rilek (nguliat) pada saat bangun. Jangan bentak anak di pagi hari. Lakukan olah raga ringan secara teratur setiap hari.

Kedelapan, segeralah menemukan cinta. Rasa cinta dibangun dengan cara menciptakan hubungan harmonis dengan sesama manusia. Memberi (sedekah) adalah cara membangkitkan rasa cinta. Pada saat jatuh cinta kreativitas akan muncul terus menerus dalam otak. Ciptakanlah cinta kepada orang-orang yang layak kita cintai. Segeralah menikah untuk menyalurkan cinta dan selalu ciptakan cinta itu tetap ada. Cintai orang tua kita, guru-guru, sahabat, atau anak-anak yatim, orang-orang miskin, bantulah mereka untuk melahirkan cinta dalam diri kita. 

Demikian sekilas cara menjaga otak tetap sehat dari pandangan psikolog, dan saya lengkapi dengan beberapa ajaran dalam agama. Intinya agar tetap otak sehat adalah ingatlah Allah banyak-banyak dalam setiap aktivitas hidup kita. Allah absolut positif. Selamat mencoba semoga bahagia selalu datang menghampiri anda. Wallahu’alam.