Saturday, June 27, 2020

SYARAT MUTLAK JADI KAYA RAYA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah, 94:5-6).

Ayat ini bisa jadi postulat, hukum, teori sukses atau apapun namanya berlaku dari masa ke masa. Kesulitan dalam bentuk penderitaan adalah syarat mutlak menjadi kaya raya. Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini bisa kaya raya tanpa menghadapi kesulitan dan penderitaan. Mau beragama atau tidak, kesulitan dan penderitaan adalah ketentuan Allah yang harus dilalui oleh manusia jika ingin kaya raya.

Kisah Hermanto Tanoko sebagai orang kaya raya dia dilahirkan di rumah seperti gang dengan ukuran sangat kecil beratap seng dan lantai tanah. Di ujung rumah dibuat wc dan tidak bisa dipakai mandi. Di rumah sangat-sangat tidak layak ini lahirlah seorang bayi yang sekarang dikenal Hermanto Tanoko pemilik perusahaan cat terkenal di Indonesia. Sekalipun hidup sangat miskin, Bapaknya seorang pekerja keras yang pantang minta-minta. Bapaknya setiap hari menjalani hidup dengan berdagang palawija. Bapaknya yang punya anak empat pernah hidup terlantar selama enam bulan, dan tidur di emper kelenteng.

Ketika hidup dalam kesulitan, dan penderitaan, Bapaknya mengajari cara-cara hidup hemat dengan makan bubur dan nasi jagung setiap hari. Suatu hari ibunya memasak opor ayam, namun bapaknya melarang dimakan karena belum saatnya. Opor ayam itu akhirnya diberikan ke tetangga. Bepuluh-puluh tahun cara hidup ini dilakukan oleh bapaknya. Kisah suksesnya berawal dari berjualan cat dengan menyewa sebuah tempat dengan ukuran 1,5 x 13 meter. Di gang itu bisnisnya dikembangkan. Hidup hemat tetap dijalankan. Setelah memiliki pabrik pun pulang pergi ke pabrik masih mengunakan bis. Setelah punya kendaraan roda empat, berangkat kerja masih menggunakan angkutan umum. Kendaraan roda empat dipakai setelah biaya operasionalnya terpenuhi.

Jadi bagi generasi-generasi yang akan datang, jika ingin jadi orang kaya raya kesulitan dan penderitaan adalah episode hidup yang mau tidak mau harus dilalui. Bagi yang muslim ketetapan ini sudah sunatullah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Syarat hidup sengsara, menderita adalah ketetapan Allah bagi seluruh manusia dan semesta jika ingin mendapat kelimpahan. Itulah syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin mendapat kelimpahan rezeki di muka bumi ini.

Namun demikian jika ingin mendapatkan kelimpahan rezeki akhirat dalam penderitaan dan kelimpahan kita harus beriman kepada Tuhan YME. Hidup kaya raya belum tuntas, karena pada saat kembali kepada Tuhan kita harus bebas dari segala kekayaan yang kita miliki. Itulah pentingnya beragama karena setelah kematian ada kehidupan yang harus kita jalani berikutnya tanpa kekayaan. Wallahu’alam.

Wednesday, June 24, 2020

MANUSIA SUMBU PENDEK

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Istilah manusia sumbu pendek dan sumbu panjang dikenal di masyarakat akhir-akhir ini. Istilah ini memisahkan antara karakter manusia buruk dan baik. Manusia sumbu pendek selalu dikaitkan dengan karakter manusia pemarah, pendengki, dan selalu negatif thinking. Manusia sumbu panjang dikaitkan dengan karakter manusia penyabar, penyayang, pemaaf, dan selalu positif thinking.

Manusia sumbu pendek proses berpikirnya sangat singkat. Jarak antara data dengan kesimpulan yang diambil sangat pendek. Berpikirnya lurus tanpa mempertimbangkan pemikiran-pemikiran dari orang atau kelompok lain. Risikonya kesimpulan-kesimpulan yang diambil selalu melenceng jauh dari fakta kejadian sesungguhnya.

Manusia sumbu pendek sangat mengandalkan penglihatan. Ukuran kebenaran yang dianut sangat terbatas pada apa yang bisa dibuktikan dengan penglihatan. Dia tidak suka membaca atau meneliti, seluruh hidupnya dipahami dengan mengandalkan pada penglihatan dan pendengaran langsung tanpa proses penelitian.

Manusia sumbu pendek memiliki ukuran kebaikan dan keburukan berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dialami. Ukuran baik dan buruk ada di kehendak hatinya, tidak berdasar pada pengetahuan tentang kebenaran yang bersumber pada Tuhan. Manusia sumbu pendek berbicara dan bertindak berdasarkan apa yang disenanginya. Pikirannya tidak berpijak, semua yang dikemukakannya berdasarkan fantasi yang membuat dirinya senang.

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (Muhammad, 47:14).

Manusia sumbu pendek mengikuti jejak-jejak Fir’aun, yang berpandangan bahwa Tuhan telah menjelma menjadi manusia. Tuhan harus bisa dilihat. Akalnya menjadi sumber kebenaran bukan sebagai alat untuk mengetahui kebenaran. Pengetahuan dari kitab suci dianggap dongeng jika isinya tidak berpihak pada kekuasaan dan kedudukannya.

“(yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.  

Manusia sumbu pendek selalu berbeda pendapat dan tidak pernah menghargai pendapat orang lain. Kesenangan hadir bukan dengan mengendalikan diri tetapi mengendalikan orang lain. Sumber ketenangan hidupnya bukan datang dari dalam diri tetapi dari luar dirinya. Pikirannya selalu berusaha mengendalikan orang lain dan tidak pernah bisa bekerjasama dalam satu tim. Tanpa melihat posisi atau kedudukan dalam tim dirinya selalu menganggap paling benar.

Manusia sumbu pendek jika jadi pemimpin akan memerkosa rakyatnya demi kesenangan jiwanya. Dia akan jadi pemimpin dzalim dan menghalakan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Di bawah kepemimpinan sumbu pendek negara menjelma menjadi kehendak dirinya, sementara kehendak rakyat menjadi budaknya.

Manusia sumbu pendek adalah pengikut setan, yaitu mereka yang memandang baik perbuatan buruk dan memandang buruk perbuatan baik berdasarkan pandangannya. Pahalal pandangan baik dan buruk harus berdasar pada petunjuk Tuhan di dalam kitab suci Al-Qur’an.

Demikian sahabat beberapa kriteria manusia sumbu pendek yang bisa saya jelaskan. Lain kali akan saya jelaskan siapa manusia sumbu panjang. Wallahu’alam.  

Tuesday, June 16, 2020

SIKLUS MENTAL MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Hampir semua orang pasti berpendapat bahwa siklus hidup manusia itu dari anak-anak, muda, dewasa, dan tua. Pendapat ini tentu didasari dilihat dari perkembangan fisik tubuh manusia. Namun jika kita lihat perkembangan mental manusia, siklus hidup manusia sia itu hanya dua yaitu anak dan dewasa.

Jika kita perhatikan berdasarkan perkembangan mental manusia, kecenderungan perekembangan mental manusia adalah anak-anak, dewasa, dan kembali anak-anak. Kecenderungan setelah melewati masa dewasa, manusia akan kembali pada mental anak-anak. Hanya sebagian kecil manusia yang mengalami perkembangan  dari anak-anak dan berakhir dengan dewasa. Mengacu pada usia Nabi Muhammad saw, ukuran masa dewasa diawali dari 40 tahun sampai dengan usia 63 tahun. Lebih dari 63 tahun dikategorikan sebagai lanjut usia, dan kembali pada kondisi fisik dan memengaruhi psikologis ke anak-anak.

Pola pikir ini bisa kita pahami dari Al-Qur’an, manusia akan kembali pada awal kejadiannya. Secara psikologis ketika tubuh manusia kembali melemah maka kondisi mental manusia akan kembali pada awal kejadiannya yaitu masa anak-anak. “Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Yasin, 36:68).

Kondisi kejadian manusia di dunia dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa manusia akan menuju kembali pada kondisi seperti anak-anak diawali dari kondisi fisik dan memengaruhi pada faktor psikologisnya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Israa, 17:23).

Mentalitas anak-anak yang akan kembali dirasakan manusia dalam usia lanjut adalah egois, mudah tersinggung, ingin instan, dan menyukai materi. Namun demikian ada manusia yang dapat mengendalikan kondisi mental di usia lanjut tetap dewasa yaitu orang-orang berwawasan luas, tidak pernah berhenti berpikir, dan taat kepada Tuhan. Sebagaimana dijelaskan salah satu syarat kedewasaan seseorang bukan diukur dari perkembangan fisik semata tetapi dari kepemilikan pengetahuan dan mentalitas yang selalu berpikir untuk memberikan manfaat kepada orang lain dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia-manusia yang akan tetap dewasa tanpa dipengaruhi perubahan fisik adalah mereka yang terus mendermakan dirinya, dan berkomitmen melakukan segala sesuatu untuk bermanfaat bagi orang lain sampai akhir khayatnya. Wallahu’alam.  

Sunday, June 14, 2020

HOTMAN PARIS SEDEKAHKAN LAMBORGHINI?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dua kali menyimak dialog antara Aa Gym dan Ust. Abdul Somad dengan Hotman Paris, saya perhatikan Hotman Paris selalu menanyakan tentang bagaimana cara menemukan kebahagian dalam hidup. Diskusi yang mendidik kepada warga negara Indonesia untuk membuka komunikasi lintas agama. Saling bertukar pikiran dalam mencari cara-cara hidup yang bermanfaat bagi banyak orang. Dari dialog ini setiap orang bisa melihat, mendengar, dan menafsirkan apa manfaat atau pelajaran dari isi dialog tiga orang popular di negeri ini.

Lamborghini, cincin berlian miliaran, popularitas, anak, dan karier sudah di dapat oleh Hotman Paris. Hotman Paris menjawab sekalipun semua sudah dimiliki tetapi belum menemukan bahagia sesungguhnya. Jika saya cermati pola hidup Hotman Paris dari sudut pandang kekayaan seperti Nabi Sulaeman yang memiliki kekayaan dunia.

Ust. Abdul Somad memberi jawaban bahwa untuk menemukan kebahagiaan adalah dengan memperbanyak memberi. Secara tidak langsung, Ust. Abdul Somad mengingatkan bahwa akhir hidup adalah kematian. Artinya Ust. Abdul Somad menyampaikan bahwa Hotman Paris setelah mencapai kesuksesan dan kekayaan di dunia, siswa waktu yang dimiliki harus diisi dengan hal-hal berkualitas untuk bekal hidup setelah kematian. Banyak memberi adalah salah satu cara mempersiapkan hidup setelah kematian.

Menilik penyebab sukses Hotman Paris adalah “kekuatan doa ibu”. Ibunya setiap minggu selalu membeli seember ikan mujair kemudian di sup dan disajikan dengan mengucapkan “makan biar kamu pintar”.  Di dalam ajaran Islam ibu kedudukannya sangat spesial di hadapan Tuhan. Ibu ibarat tuhan yang bisa memberkahkan rezeki. Posisi ibu diumpamakan juga sebagai broker antara anaknya dengan Tuhan. Apa yang dikatakan ibu untuk anaknya itulah yang akan dikehendaki Tuhan. Rupanya ibunya Hotman Paris adalah orang yang membentuk Hotman Paris menjadi orang berhasil dan tentunya semua terjadi dengan kehendak Tuhan.  

Saya bukan orang berilmu, dan tidak punya Lamborghini, tetapi hanya ingin mengukuhkan diri sebagai orang yang selalu mau membantu antar sesama manusia, terlepas dari perbedaan agama. Nabi Muhammad saw berpesan tidak ada paksanan dalam beragama, tetapi tidak ada halangan bagi kita untuk saling menginspirasi antar sesama manusia. Saya ingin membantu Hotman Paris bagaimana cara menemukan kebahagiaan dalam hidup.

Saya mau berbagi cerita kepada Hotman Paris tentang kisah Nabi Suliman di dalam Al-Qur’an. Sulaiman dikenal dengan Nabi yang memiliki kekayaan seperti konglomerat sekarang. Memiliki mobil dan motor mewah, singgasana, dan kekuasaan. Nabi Sulaiman mendapat ujian kesenangan dari Allah dengan kekayaan dunia.

“(ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan". "Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shad, 38:31-33).

Bang Hotman Paris adalah orang yang diberi kekayaan dunia seperti dalam kisah Nabi Sulaiman. Maka untuk menemukan kesenangan jangan terlena oleh kekayaan dunia. Apa yang dilakukan Nabi Sulaiman? Memotong kaki dan leher kuda itu. Pesannya apa untuk orang-orang yang sudah diberi kekayaan melimpah seperti Bang Hotman Paris? Sebagaimana Ust. Abdul Somad sarankan, perbanyak memberi (sedekah). Untuk orang sekelas Hotman Paris, mencontoh dari kisah Nabi Sulaiman, Bang Hotman Paris sudah pantas mensedekahkan Lamborghini (seperti memotong kaki dan leher kuda) demi untuk kesenangan yang dicari. Sedekah sekelas Lamborghini seperti inilah yang akan mendatangkan kesenangan jiwa dan tidak akan pernah ditemukan oleh siapapun kecuali oleh orang yang melakukannya.

Namun harus siap dengan ujian setelah melakukannya. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. (Shad, 38:34). Akan datang ujian setelah sedekah Lamborghini dilakukan, namun jangan khawatir karena setelah itu akan datang kesenangan apa yang diinginkan. “Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". (Shaad, 38:35).

Allah, Tuhan Yang Maha Esa sudah menetapkan sunnah, bahwa terlepas dari agama apapun, siapa yang memberi maka dia akan mendapatkan balasan kembali dari apa yang pernah dia berikan dan inginkan. Semakin banyak kekayaan dimiliki, maka semakin besar seekah yang diberikan. Itulah cara Allah menjaga kesenagan jiwa bagi orang-orang yang diberi kelimpahan harta.

Bang Hotman, jangan melihat siapa yang menyampaikannya. karena ayat-ayat Tuhan datangnya dari Tuhan, maka terlepas dari siapapun yang menyampaikannya ayat itu akan tetap jadi kebenaran. Demikian ayat ini saya sampaikan untuk Bang Hotman. Percaya atau tidak bukan urusan saya karena Tuhanlah yang maha pemberi petunjuk.  Wallahu’alam. 

Tuesday, June 9, 2020

NEW MALIN KUNDANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadis menceritakan tidak mengizinkan seseorang ikut jihad dalam peperangan, karena orang tersebut memiliki orang tua yang harus dirawat. Rasululullah mengatakan merawat orang tua adalah jalan jihad yang harus dia kerjakan. Orang tua lanjut usia menuju ke kondisi anak-anak perlu perhatian penuh layaknya anak-anak agar tumbuh dewasa. Kita akan terbebas mengurus orang tua lanjut usia sampai bertemu dengan ajalnya, dan kita lepas mengurus anak-anak setelah dewasa.

Dalam sebuah artikel surat kabar online, diberitakan sebuah suku di masyarakat India memiliki kebiasaan untuk mengakhiri hidup orang tua berusia lanjut. Prilaku melanggar hak asasi manusia tersebut tidak dianggap kriminal karena sudah jadi tradisi. Orang tua yang sudah memasuki usia lanjut mereka rela dan melakukan ritual mengakhiri hidup. Namun seiring kemajuan zaman beberapa orang tua lanjut usia melarikan diri dan bersembunyi karena tidak mau melakukan ritual mengakhiri hidup. para orang tua berusia lanjut mulai khawatir ketika usianya telah lanjut. 

Di negara-negara maju seperti Amerika, tradisi mengakhiri hidup orang tua berusia lanjut seperti di India tidak ada, tetapi mengakhiri hidup orang tua berusia lanjut secara pelan-pelan sudah menjadi tradisi di negara-negara maju. Orang tua berusia lanjut hidup di panti-panti jompo, anak-anak mereka tidak menerima orang tua mereka untuk hidup serumah. Dalam buku Prof. Dedi Mulyana (2010) berjudul Komunikasi Lintas Budaya dijelaskan bahwa seorang ibu berusia lanjut akhirnya meninggal merana di panti jompo. Meninggal bukan karena sakit tidak terjamin makanan atau layanan kesehatan, tetapi tidak terjamin layanan kasih sayang yang hangat dari anggota keluarganya. Ketika berada di tengah keluarga badannya sehat dan ceria, namun ketika keluarganya memutuskan untuk kembali ke panti jompo dia kembali sakit dan meninggal.

Berbeda dengan keluarga di Taiwan. Orang tua berusia lanjut tinggal serumah bersama keluarga, mereka disediakan perawat khusus yang melayani segala kebutuhan orang tua mereka yang telah berusia lanjut.  Masyarakat China terkenal dengan penghargaan tinggi terhadap orang tua karena mereka percaya orang tua sebagai pembawa berkah. Bagi masyarakat China orang tua adalah dewa pemberkah dan setelah meninggal orang tua mereka akan tetap hidup dan dijadikan sesembahan. Apa yang mereka lakukan seperti kepercayaan animisme. (menyembah roh nenek moyang).

Berbeda dengan masyarakat sekular karena pandangan hidupnya cenderung rasional empiris. Masyarakat sekuler menyelesaikan masalah dengan cara-cara teknis berdasarkan etika material. Masyarakat sekuler memandang orang tua berusia lanjut sebagai manusia yang berhak hidup layak dengan layanan makan dan minum terjamin. Namun mereka tidak mempertimbangkan jiwa orang yang sudah berusia lanjut mereka membutuhkan layanan, kasih sayang, dan rasa kekeluargaan sebagaimana anak-anak kecil membutuhkannya.  

Di Indonesia yang religius, orang tua yang sudah berusia lanjut memiliki kebiasaan untuk dirawat bersama keluarga. Bersumber pada ajaran Islam, di masyarakat Indonesia merawat orang tua yang sudah berusia lanjut adalah kewajiban dari seorang anak sebagai bagian dari ketaatan kepada perintah Allah dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan dengan jelas, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Israa, 17:23).

Al-Qur’an menjelaskan bahwa secara sosiologis dan psikologis orang tua yang sudah berusia lanjut bukan hanya membutuhkan layanan tempat tinggal nyaman, makanan, minuman yang cukup tetapi membutuhkan layanan kasih sayang, senyuman, canda, tawa, sentuhan, perhatian, dan hidup bersama dalam lingkungan anggota keluarga harmonis. Bukan sekedar pakaian, makanan, fasilitas hidup yang wajib bisa kita penuhi, tetapi ketulusan kita berbakti kepada mereka sebagaimana Allah perintahkan kepada manusia. Inilah salah satu perintah jihad kepada manusia.

Allah paham bahwa banyak prilaku masyarakat seperti Malin Kundang (cerita anak durhaka dari Indonesia) yang bukan saja membunuh dan menelantarkan orang tua berusia lanjut tetapi mendurhakainya dengan tidak mengakuinya sebagai orang tua kandung. Pola pandang Malinkundang sudah terlalu materialistik. Di berbagai negara cerita Malinkundang selalu ada dengan berbagai versi. Maka dari Itu di dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah menitipkan orang-orang tua berusia lanjut kepada anak-anak muda untuk berpilaku baik dan memperlakukan mereka sebagai mana mereka memelihara kita di waktu kecil.

Selain itu Allah menetapkan hukum bahwa siapa yang berlaku baik pada ibu bapaknya kelak dia akan mendapat balasan perlakuan baik dari anak-anaknya, dan Allah memudahkan urusannya untuk dunia dan akhiratnya. Siapa yang berani menentang ketentuan Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Kuasa. Bagaimana nasib orang tua anda sekarang? Mari menjadi New Malin Kundang, dengan menjadi anak yang berjihad di jalan Allah mengurus orang tua kita yang sudah berusia lanjut. Wallau’alam.

Tuesday, June 2, 2020

MENGINTERNASIONALKAN PANCASILA

OLEH: Muhammad Plato

Pancasila adalah karya budaya luhur bangsa Indnonesia. Pancasila adalah ideologi negara yang bisa mempersatukan bukan saja negara tapi dunia. Pancasila memiliki semua cita-cita yang ada di dalam setiap ideologi negara. Liberalisme, komunisme, dan khilafah memiliki kekurangan.

“Seperti kita ketahui, ideologi besar yang berpengaruh di dunia saat ini diwakili oleh negara super power yaitu, China mewakili ideologi komunis, dan Amerika Serikat mewakili ideologi liberal.  Menurut Ahmad Basara (2017) dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Cianjur Jawa Barat, ideologi-ideologi yang ditaiwarkan di dunia masih memiliki kekurangan. Ideologi liberal dia tidak punya keadilan sosial, komunis tidak punya Tuhan, dan khilafah yang kemudian muncul tidak punya persatuan.(https://www.logika-tuhan.com/2017/12/dunia-akan-dipersatukan-oleh-cia.html).

Pancasila lahir dari sebuah pergerakan yang melibatkan agama di dalamnya. Menurut Emerson (1960) dalam pengalaman Eropa, munculnya nasionalisme berbarengan dengan pudarnya agama. Namun, dibagian dunia lain, seperti Asia, ketika nasionalisme bergerak dan menyelimuti daerah-daerah ini isu agama juga bergerak maju. Indonesia mengalami fenomena yang emerson katakan. K.H. Agus Salim mengkritik keras nasionalisme Eropa yang menyingkirkan Tuhan. Menurut Beliau nasionalisme harus berangkat dari nalar religius. Demikian juga, Sukarno dan Soepomo mereka sepakat bahwa nasionalisme Indonesia harus berlandaskan pada spirit ketuhanan. (Arifin, 2017:217-219).


Sila-sila dalam Pancasila memiliki cita-cita paripurna yang diinginkan oleh umat manusia di dunia. Ketuhanan Yang Maha Esa, keadilan sosial, persatuan, damai dalam musyawarah mufakat, dan keadilan sosial, menjadi inti-inti dari tujuan hidup manusia. Keunggulan Pancasila dari ideologi lain adalah keberpihakkan ideologi negara ini terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa. Sekalipun kita hidup dalam dunia teknologi tetapi kita tidak akan bisa mengalahkan kekuasaan Tuhan. Dunia telah diatur oleh ketentuan Tuhan, sungguh congkak manusia yang eksistensinya tidak sebutir debu di padang pasir jika ingin mengatur tatanan hidup bernegara di dunia  tanpa melibatkan Tuhan.

Sekalipun negara dilandasi keyakinan kepada Tuhan, ideologi Pancasila tidak menjadikan agama sebagai alat untuk mengekspolitasi kekuasaan untuk kepentingan golongan atau bangsa, tetapi untuk kepentingan umat manusia. Agama memiliki tujuan universal yaitu menciptakan rasa damai dan kesejahteraan umat manusia dan tidak bisa direduksi hanya untuk kepentingan suatu negara.

Islam bukan agama diskriminatif. Islam adalah agama kemanusiaan bersifat universal. Sebagaimana gagasan Sukarno (Arifin, 2017: 33) spirit Islam adalah internasionalisme karena Islam menaungi seluruh negara di bawah ketuhanan Allah swt. Salah satu bukti ajaran universal Islam dijelaskan Sukarno dengan mengutif ayat Surat Al Hujurat (49:13) dalam sidang PBB 30 September 1960, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  

Pancasila menjadi simbol betapa kuatnya spirit ketuhanan yang menapasi seluruh dimensi kebangsaan Indonesia. Pancasila lahir dari hasil berpikir ilmiah-filosofis yang menunjukkan adanya kesatuan sistem pemikiran. Founding fathers Pancasila adalah para philosopher king berkelas dunia. (Arifin, 2017:221). Ulama-ulama pencetus Pancasila adalah kelompok pembuka Ijtihad. Sukarno (2009:41) berpendapat, “ajaran pokok agama tidak berubah, firman Allah dan sunah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal keberagamaanlah yang berubah. Inilah yang pada hakekatnya adalah ijtihad”. Sukarno sangat ingin menjadikan ajaran Islam dikenal oleh dunia dengan pendekatan pengetahuan umum agar membawa kemajuan dalam berperadaban.

Pancasila adalah ideologi kelas dunia yang lahir dari spirit ketuhanan, inspirasinya dari ajaran Islam yang universal. Maka dari itu, Pancasila dengan sila satu sampai lima, merupakan manipestasi ajaran agama yang bisa diterima oleh bangsa Indonesia dan dunia yang beraneka ragam budaya dan agama. Sudah saatnya bangsa Indonesia berbicara di kelas internasional untuk memengaruhi pola pikir dunia dalam bernegara dengan memperkenalkan ideologi Pancasila sebagai dasar nasionalisme religius.

Dalam perjalanan sejarahnya, ideologi Pancasila sudah dua kali mendapat ujian terpaan badai topan yang sangat dahsyat dari Tuhan yaitu ketika tragedi tahun 1965 dan 1998. Pada saat itu tatanan bangsa Indonesia hampir runtuh, namun atas kesadaran nasionalisme religius berdasar sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia mampu bertahan dan bisa keluar dari terpaan badai. Untuk ketigakalinya tahun 2020 sekarang ideologi Pancasil mendapat ujian berat dari Tuhan. Sebagai bangsa nasional religius Berketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia selalu optimis atas pertolongan Tuhan YME,  kita bersama akan berhasil keluar dari badai kemudian menjemput kesejahteraan dunia dan akhirat. Indonesia di bawah Pancasila dan ridha Allah swt dipentas dunia pasti jaya sepanjang masa.  Wallahu’alam.  

Monday, June 1, 2020

SEMUA SEJARAH TENTANG TUHAN

OLEH: MUHMMAD PLATO
(Master Trainer logika Tuhan)

Prof. Moshe Sharon dari Hebrew University of Jerusalem mengatakan dalam sebuah tayangan di media sosial bahwa, “keseluruhan sejarah adalah sejarah Islam. Tokoh-tokoh besar terkemuka adalah muslim”. Sejarah Islam adalah tentang ketauhidan manusia kepada satu Tuhan. Karen Amstrong (2013, 27) menjelaskan pada mulanya manusia meyakini satu Tuhan penyebab pertama bagi segala sesuatu dan penguasa langit dan bumi. Perlahan-lahan dia memudar dari kesadaran umatnya. Pada akhirnya menghilang dari keadaran manusia.

Sejak manusia lahir ke bumi, kisah manusia diawali dengan perjuangan manusia dalam mempertahankan keyakinannya kepada satu Tuhan. Alam kadang jadi tuhan-tuhan selain Allah yang selalu menampakkan diri dalam berbagai macam cara. Nabi-nabi utusan dari Tuhan ditugaskan untuk mengembalikan keyakinan manusia kepada satu Tuhan. Setelah Nabi meninggal manusia kembali menyembah selain tuhan yang hadir dalam persepsi manusia berwujud manusia, benda, dan kekuatan alam.

Peperangan terjadi dilandasi oleh kebencian karena perbedaan persepsi tentang Tuhan. Para penyembah tuhan selain Tuhan selalu bernafsu mengalahkan para penyembah satu Tuhan Ghaib yang jumlahnya selalu lebih sedikit dari pada penyembah selain Tuhan. Para penyembah selain Tuhan pada akhirnya selalu berhasil dikelahkan oleh para penyembah Satu Tuhan Ghaib sekalipun jumlahnya sedikit.  

Tergelincirnya Adam pada perbuatan dosa karena hadirnya tuhan selain Tuhan dalam persepsi Adam. Adam telah menuhankan hawa nafsunya hingga melanggar larangan Tuhan. Pertumpahan darah pertama di antara anak Adam terjadi karena hadirnya tuhan selain Tuhan pada salah satu anak Adam.  Sejak saat itu pertempuran demi pertempuran antar sesama manusia tidak lepas dari ketaatan manusia pada selain Tuhan. Dalam catatan sejarah tuhan selain Tuhan hadir dalam nafsu, ego, dan super ego manusia.


Sejarah manusia di muka bumi secara garis besar terbagi menjadi dua, pertama; kisah tentang pemimpin dzalim yang dikisahkan dalam sistem pemerintahan absolut. Sistem pemerintahan ini ditandai dengan kekuasan absolut seorang pemimpin yang mentakdirkan dirinya sebagai tuhan. Kejadian ini lazim terjadi dalam sistem pemerintahan kerajaan, kekaisaran, militeristik, chauvinistik dan feodal.  Kekuasan pemimpin yang terlalu dominan menggiring para pemimpin menjadi penguasa mutlak seperti Tuhan dan bahkan mengukuhkan diri seperti Tuhan. Inilah yang diberitakan Allah sebagai pemipin-pemimpin melampaui batas dan pembuat kerusakan.

Sejarah para pemimpin tidak lepas dari kedzaliman para pemimpin yang merasa dirinya tuhan. Fir’aun Ramses II dikisahkan sebagai contoh pemimpin berlebihan karena telah menjadikan dirinya seperti Tuhan. Kebijakannya merusak tatanan kehidupan manusia dengan membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Hukum dan keadilan dikendalikan di bawah kekuasaannya. Tuhan YME diganti dengan menjadikan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah. Masyarakat tidak berdaya atas kekuasaan para penguasa dzalim.

“Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan".  (As Syu’araaa, 26:29)

“Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka". (Al ‘Araaf, 7:127)

Kisah sejarah Fir’aun adalah sepenggal kisah tentang kedzaliman-kedzaliman para pemimpin di muka bumi dan akan selalu terjadi. Tidak ada sistem pemerintahan yang paling baik apapaun namanya di muka bumi ini. Tujuan dari kepemimpinan adalah menjaga kehidupan masyarakat tetap berkeyakinan kepada Tuhan Ghaib dan merasakan hidup sejahtera dengan taat kepada Tuhan.

Kisah sejarah kedua, tentang kisah masyarakat dzalim. Kehancuran masyarakat dalam sebuah bangsa disebabkan oleh penyimpangan sosial yang dilakukan masyarakat dan bertentangan dengan aturan-aturan dari Tuhan YME. Kedzaliman dilakukan oleh masyarakat bukan oleh pemimpin. Kedzaliman memasyarakat di mana-aman dan menjadi ciri khas sebuah bangsa atau negara. Masyarakat dikuasai oleh tuhan-tuhan yaitu hawa (keinginan) dan nafsunya (naluri) yang terus berusaha mencari kesenangan dunia menurut aturan yang ditetapkan oleh keinginan dan nalurinya.

Kisah ini dijelaskan di sebuah negeri dan dikisahkan di dalam Al-Qur’an. “Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang dzalim". (Al ‘Ankabuut, 31)

Pemimpin tidak berdaya karena penyimpangan sosial seperti menjadi budaya masyarakat. Kekuasaan dikendalikan oleh rakyat yang memiliki kekuatan dan kekayaan melebihi kekuatan negara. Kondisi ini bisa kita saksikan di negeri-negeri yang rakyatnya diberi kebebasan dan kebebasan itu diatur oleh undang-undang. Negara menjadi tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol dan menghakimi rakyatnya. Kondisi ini terjadi pada pemerintahan yang menganut demokrasi liberal, demokrasi konstitusi yang menjamin kebebasan rakyat berdasar undang-undang namun lemah dalam penegakkan.

“dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi,”. (Al hijr, 15:81-83).

Nabi-nabi diutus Tuhan kadang untuk memeringatkan pemimpin yang dzalim kadang untuk memperingatkan masyarakat yang dzalim. Kondisi kita di bumi saat ini mungkin saja sedang berada pada masyarakat dzalim. Para penguasa tidak lagi mengontrol dan mengendalikan masyarakat, tetapi masyarakat lebih dominan mengontrol para penguasa. Terjadilan kedzaliman di mana mana baik level penguasa maupun masyarakat.

Para pendidik adalah penerus para utusan untuk menyampaikan kebenaran demi kebenaran. Pelajaran sejarah bukan ilmu tentang cerita yang disusun berdasar fakta-fakta sejarah belaka, tetapi pelajaran yang harus jadi pedoman masyarakat untuk tetap taat dan patuh kepada Tuhan Yang Satu, Tuhan maha pengasih penyayang, yang mencintai manusia, dan yang mensejahterakan manusia. Semua mata pelajaran tema besarnya adalah tentang kekuasaan Tuhan YME. Tugas semua pendidik adalah mengajarkan keykinan kepada tuhan YME, lebih khusus mata pelajaran sejarah. Wallahu’alam.

Saturday, May 23, 2020

APAKAH SETELAH MATI KITA AKAN BERTEMU?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pertanyaan ini sering jadi pertanyaan bagi para anggota keluarga. Pertanyaan ini tidak  ada yang bisa menjawab dengan pasti karena setelah kematian adalah dunia ghaib. Namun demikian tentang dunia ghaib kita bisa mengetahui dengan menggali informasi dari Al-Qur’an dan hadis. Hanya para Nabi yang diberi pengetahuan tentang yang ghaib oleh Allah. Manusia biasa seperti kita hanya bisa mengetahui yang ghaib sebatas apa yang diberitakan dalam Al-Qur’an dan hadis. Berita-berita ghaib yang tidak berdasar pada kitab suci Al-Qur’an dan hadis harus ditolak.

Untuk itu kita pelajari Al-Qur’an sedikit-sedikit sekalipun ilmu kita terbatas. Kita raih janji Allah barang siapa mau mempelajari Al-Qur’an dengan terbata-bata Allah akan tetap memberikan pahala terbaik bagi orang tersebut. Semoga kita semua tercatat oleh Allah termasuk orang yang dijanjikan pahala itu. Semoga Al-Qur’an yang kita pelajari menjadi amal baik yang kelak akan menemani kita setelah kita berada di alam setelah kematian.

“Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.” (Ali Imran, 3:158). “Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan (wattaqullohalladzii ilaihi tuhtsaruun)” (Al Maidah, 5:96)


Dua ayat di atas memberi kabar, kita semua kelak akan kembali berkumpul. Ketakwaan menjadi syarat bagi kita agar bisa tetap berkumpul kembali kepada Allah. Siapakah orang-orang bertakwa yang diberitakan Allah?

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. (Al Anfaal, 8:24).

Kita akan berkumpul jika kita termasuk golongan beriman dan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Harapan kita dapat berkumpul bersama keluarga nanti, jika kita termasuk ke dalam keluarga seiman dan taat kepada Allah dan Rasulnya. Kelak kita akan menjadi orang-orang yang paling bahagia melabihi kebahagiaan hidup yang kita rasakan di dunia.

Sebaliknya kita akan berpisah dengan keluarga kita jika kita termasuk orang-orang dzalim. “(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,” (Ash Shaaffaat, 37:22)

Di dalam Al-Qur’an dikabarkan manusia akan terpecah menjadi dua golongan yaitu golongan ahli surga (ashaabulmaimanah) dan golongan ahli neraka (ashaabulmasamah). “Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.” (Al-Waqi’ah, 56:8-9).


Demikian kabar gembira dari Al-Qur’an. Jangan bersedih hati ketika keluarga kita duluan menghadap Allah, karena kelak kita akan kembali berkumpul bersama keluarga di kehidupan abadi yang dijanjikan Allah swt. Untuk itu tidak ada tangisan bagi kematian orang-orang golongan kanan kecuali harapan bahwa kelak kita akan kembali dikumpulkan bersama mereka dengan dilimpahi rahmat dan ampunan Allah swt.  Wallahu’alam.

ORANG KAFIR SHALAT DAN SEDEKAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pertanyaan ini mungkin sedikit aneh, karena shalat dan sedekah berlaku untuk orang-orang beriman kepada Allah. Namun jika kita baca dan pelajari Al-Qur’an, ternyata orang-orang kafir juga shalat dan sedekah. Apa benar? Mari kita kaji dan teliti dengan menyimak beberapa ayat yang akan saya jelaskan di bahwah ini.

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah shalat (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu: "(Demi Allah) kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa". (Al Maidah, 5:106).

Ayat inilah yang melahirkan pengertian baru dari makna shalat. Ahmad Chodzim melihat kata shalat dalam redaksi Al-Qur’an di atas sebagai komitmen, janji, atau sumpah. Jadi makna shalat disini adalah sebuah komitmen untuk menjaga atau menepati janji. Artinya shalat dalam kehidupan sehari-hari sama dengan berjanji dan menepatinya. Dengan demikian orang-orang kafir pun dapat dikatakan shalat dalam arti menjaga janji-janji yang mereka ikrarkan di dalam kehidupan sosial.


Shalat orang-orang kafir adalah komitmen-komitmen mereka dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Seperti kita saksikan budaya di dunia non muslim mereka lebih disiplin dan sangat menghargai waktu dan suka dengan ketepatan waktu. Namun kedisiplinan yang mereka lakukan lebih pada unttuk ketertiban dan keteraturan dalam menjaga kehidupan di dunia yang sekuat tenaga harus mereka ciptakan sebagai satu-satunya kehidupan manusia yang harus sangat dihargai. Bagi mereka menjaga ketertiban dan keteraturan serta menepati janji tidak ada kaitan dengan ibadah kepada Tuhan. Itulah shalat orang-orang kafir.

Selanjutnya apakah non muslim bersedekah? Kita bisa gali informasinya dari Al-Qur’an. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,” (Al Anfaal, 8:36). Jelas orang-orang kafir juga bersedekah, namun dijelaskan bahwa tujuan mereka untuk menghalang-halangi orang dari jalan Allah.

Apa pelajarannya untuk kita? Kaum muslimin harus sadar bahwa kebaikan harus diperjuangkan tidak datang diantar begitu saja oleh Allah. Nabi Muhammad saw pada masa kerasulannya, Beliau berjuang dengan harta dan dengan prilakunya yang dapat dipercaya, punya komitmen, menepati janji. Beliau terkenal dengan Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Orang-orang beriman yang sudah ada dalam kebaikan harus memiliki karakter seperti Nabi Muhammad saw. Beliau selain mengajarkan ritual shalat, juga mengajarkan shalat dalam kehidupan bermasyarakat yaitu amanah, tepati janji, dan melaksanakan segala komitmennya kepada Allah untuk tampil menjadi teladan di masyarakat. Selain itu Nabi Muhammad saw memperjuangkan agama Islam agar tampil sejajar diakui sebagai agama kebenaran dari Allah, mengorbankan seluruh hartanya, termasuk harta istrinya yang dulunya saudagar kaya sampai habis digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam.

Kesimpulannya, jika orang-orang kafir mau mengeluarkan harta dan menepati janji-janjinya untuk menghalang-halangi orang dari jalan Allah, maka sungguh tidak layak bagi orang-orang yang sudah berada di jalan kebenaran tetapi tinggal diam, tidak mau berkorban dan tidak menepati janjinya untuk taat pada aturan Allah. Perjuangan tidak akan pernah ada akhirnya kecuali kematian. Orang kafir saja shalat dan sedekah, apa kata Allah jika orang beriman tidak shalat dan sedekah. Wallahu’alam.

Thursday, May 21, 2020

BAHASA QUR'AN

OLEH: MUHAMMAD PLATO
(Master Trainer Logika Tuhan)

Menarik kalimat yang disampaikan oleh Koh Steven, “dakwahkan Islam dengan bahasa Qur’an, bukan dengan ayat Al-Qura’annya”. Jangan salah tafsir, pernyataan Koh Steven ini bagian dari startegi dakwah. Saya akan membantu menjelaskan apa yang dimaksud dengan bahasa Qur’an seperti yang dijelaskan Koh Steven.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci, tapi sadarkah bahwa banyak orang di luar sana mereka tidak percaya dan mengolok-ngolok Al-Qur’an. Kata Koh Steven untuk mendakwahkan Qur’an jangan pakai Al-Qur’an langsung, tapi harus menggunakan bahasa Al-Qur’an. Jika dakwah dengan langsung membacakan Al-Qur’an maka yang tidak percaya Al-Qur’an akan mengolok-olok dan melecehkan.

Saya baru sadar dari cerita Koh Steven, di dunia luar sana Al-Qur’an dikenal sebagai kitab yang memuat tentang cara merakit bom, petunjuk ritual paganisme, prilaku pedofil, membunuh orang kafir, dan semua berita buruk tentang umat Islam. Informasi negatif ini membuat mereka tidak mau membaca Al-Qur’an. Saya tersadar bahwa informasi-informasi negatif tentang Islam adalah hambatan bagi orang-orang untuk mengenal kebenaran dari Tuhan. Sudah saatnya mengajarkan Al-Qur’an dengan bahasa-bahasa Al-Qur’an dalam berbagai aktivitas kehidupan.


Apa yang dikatakan Koh Steven sangat benar sekali, jangankan orang-orang yang tidak percaya Al-Qur’an, yang sudah percaya saja kadang mengolok-ngolok jika ada orang bicara ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka akan bilang so suci, jangan bawa bawa agama, jangan sembarang mengutip Al-Qur’an, banyak syarat yang harus dipenuhi untuk pelajari Al-Qur’an, berbagai alasan dikeluarkan untuk merendahkan orang-orang yang banyak bicara dan mengutif Al-Qur’an. Bagitulah tantangan besar kepada penyebar kebenaran, karena Iblis yang berkomitmen menggelincirkan manusia tidak akan tinggal diam.

Saya setuju dengan Koh Steven untuk mengajarkan Al-Qur’an harus mengaktualkan Al-Qur’an dengan bahasa yang mudah dipahami, bisa disaksikan, dan dirasakan. Berikut adalah contoh membahasakan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Koh Steven ketika mendapat kekerasan dari seseorang hingga giginya rontok dan rahangnya bergeser, dia tidak memperkarakan ke pihak berwajib dan menganggap masalah selesai. Itulah bahasa Al-Qur’an dalam prilaku sosial. Prilaku yang dilakukan Koh Steven seperti Nabi Muhammad yang tidak membalas olokan dengan olokan, tetapi dengan mendoakan.

Bahasa Qur’an lainnya yang dilakukan oleh Koh Steven adalah ketika membagikan 500.000 paket sembako saat pandemi virus corona dari uang pribadinya. Selanjutnya membiayai petani untuk menanam bahan pangan untuk persiapan masa puncak darurat corona. Bahasa Al-Qur’an lainnya adalah mengukuhkan diri untuk tidak meminta-minta sekalipun untuk membantu orang lain. Bahasa Qur’an lainnya yang disampiakan Koh Steven adalah jangan banyak bicara masalah, tapi bicaralah banyak tentang solusi sebagai wujud rasa syukur. Hampir 80 persen orang bicara tentang masalah, dunia jadi bermasalah. Jika saja 80 persen manusia berbicara solusi maka akan banyak masalah diatasi.

Bahasa Qur’an lainnya dari Koh Steven adalah menjauhkan diri dari pikiran negatif dengan memperbanyak husnudzon. Ide-ide akan banyak seperti hujan masuk dalam pikiran. Inilah bahasa-bahasa Qur’an yang dicontohkan oleh Koh Steven.


Intinya dakwah dengan bahasa Qur’an adalah dengan mengaktualisasikan ajaran Qur’an dalam bentuk pemikiran, perkataan, tindakan, kebiasaan, dan prilaku. Lebih banyak melakukan ajaran Al-Qur’an dari pada menceramahkan.  Membalas keburukan dengan kebaikan, membebaskan kesulitan orang lain agar dibebaskan dari kesulitan oleh Tuhan, bersedekah dikala sempit dan lapang, mengalah demi tercipta perdamaian, berbakti pada ibu bapak, memberi makan anak-anak yatim dan pakir miskin, taat pada pemimpin, dan lain sebagainya adalah bahasa Qur'an. Intinya berdakwah tidak terbatas pada ceramah menjelaskan dalil tetapi harus diimbangi dengan dakwah yang membahasakan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu’alam.

BELAJAR AGAMA DARI KOH STEVEN

OLEH:MUHAMMAD PLATO
(Master Trainer Logika Tuhan)

Membaca kisah Koh Steven menjadi mualaf membawa banyak pelajaran bagi kita yang sejak lahir muslim. Perjuangan Koh Steven menjadi muslim sangat berat ujiannya. Terusir dari keluarga, tidak mendapat hak waris, menjadi gelandangan, menjadi kuli panggul di pasar, tidur di emper toko dan hidup bermodal baju kaos beberapa helai. Bertahun-tahun dia alami menjadi gelandangan. Allah sepertinya hendak menguji keiman Koh Steven, sejauh mana dia beriman kepada Allah. Beliau juga kehilangan gigi depannya dan rahang bergeser karena pukulan seseorang karena urusan agama. Beliau tidak menuntut kejadian ini dan lebih memilih meniru akhlak Rasulullah yang tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Perjalanan hijrahnya cukup berat dan Allah memilih beliau sekarang menjadi salah satu umat terbaik diantara muslim. Apa yang dilakukan Koh Steven setelah menjadi muslim tidak jauh dari akhlak Rasulullah dan para sahabat. Ketika masa wabah melanda Indonesia, Koh steven menjual asetnya senilai 20 miliar untuk membantu masyarakat yang mulai kekurangan pangan dan para medis yang kekurangan pakaian APD.


Koh Steven diutus oleh Allah untuk mengajarkan kepada umat Islam bagaimana mengelola dunia agar jadi kendaraan akhirat. Beliau mengelola berbagai bisnis dengan tujuan keuntungannya untuk membantu umat sampai ke Palestina. Koh Steven juga mengajarkan kepada umat Islam untuk konsen mengembangkan ekonomi umat dengan membangun berbagai macam bisnis bersama. Koh Steven mengajarkan kemandirian umat dengan mengembangkan berbagai bisnis. 

Karakter Koh Steven jika dibandingkan dengan empat sahabat Nabi Muhammad, beliau seperti Usman Bin Affan. Sumbangan besar yang diberikan saat wabah, prilaku ini persis seperti prilaku Usman Bin Affan pada saat terjadi wabah. Bantuan yang dikeluarkan Usman bin Affan mengular berupa barisan bantuan yang diangkut unta memasuki Madinah. Usman bin Affan pun pernah melakukan transaksi dengan para tengkulak yang menawar dengan harga tinggi, sementara situasi sedang terjadi wabah. Usman bin Affan memilih menjualnya kepada Allah karena melihat keuntungannya lebih besar dari pada yang ditawarkan para tengkulak. Usman bin Affan membagikan seluruh barang dagangannya kepada kaum muslimin yang kekurangan pada saat itu. Nabi Muhammad saw dalam hadisnya mengatakan kelak Beliau akan ditemani oleh Usman bin Affan di surga. Semoga Koh Steven ikut menemaninya.

Belajar dari Koh Steven, keberagamaan seseorang yang bisa dilihat bukan dari ceramahnya tetapi dalam kehidupan sehari-harinya. Koh Steven mengajar dalil-dalil agama dalam bentuk perjuangan hidup dan memperjuangkan hidup orang banyak. Koh Steven juga memperlihatkan bagaimana mempertahankan hidup untuk dirinya dan orang lain dengan tetap menjaga harga dirinya dengan tidak memelas-melas bantuan. Koh Steven memperjuangkan kesejahteraan umat dengan memberdayakan umat. Koh Steven terlihat beragamanya lebih santai dan merdeka. Bisa dipahami karena kemerdekaan hidup itu terjadi dikala kita punya keyakinan bahwa Allah menjamin seluruh kehidupan kita dan kita harus berusaha menjamin kehidupan orang lain sebagaimana Allah perintahkan.

Koh Steven membawa angin segar untuk umat Islam, bahwa hal yang luput dari orang Islam selama 1441 tahun ini adalah masalah ekonomi (muamalah). Selama ini keberagamaan kita tidak seimbang terlalu banyak bicara masalah ibadah pokok dalam menyembah Tuhan sementara ibadah-ibadah dalam bentuk muamalah terabaikan. Ceramah-ceramah didominasi oleh pahala shalat, zakat, sedekah, puasa, dan cara-cara sah shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Sekali lagi ilmu-ilmu ini bukan tidak perlu tetapi terlalu dominan dalam setiap kajian, jadinya keilmuan umat Islam tidak seimbang. Urusan muamalahnya menjadi tertinggal jauh dan tidak begitu disenangi sebagai pelajaran agama.

Shalat dalam sehari paling lama 25 menit, zakat dibahas setahun sekali ketika menjelang idul fitri, puasa dalam setahun hanya satu bulan, ibadah haji dilakukan satu kali seumur hidup jika mampu, tetapi makan, minum, belanja, bekerja, berdagang, menghidupi anak, istri, keluarga, waktunya lebih banyak kita gunakan dari pada kegiatan shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji. Sementara ilmu agama yang kita pelajari lebih banyak tentang ritual shalat, zakat, puasa, ibadah haji dan tata cara ritual lainnya, urusan muamalah saling membantu, berjamaah dalam bisnis jarang ditampilkan dalam ceramah dan dianggap ilmu sampingan yang tidak penting untuk dipelajari karena dianggap ilmu keduniawian.  Padaha kita tahu penyebab manusia masuk neraka adalah makan riba, makan makanan haram, tidak bayar utang, kikir, dagang tidak jujur, tidak mau bantu anak-anak yatim, tidak mau bantu orang-orang kepalaran dan sebagainya.

Koh Steven mngajarkan gaya baru dalam berdakwah. Beliau mengajak umat untuk mandiri dalam ekonomi agar bisa membantu banyak orang secara nyata. Inilah zaman dimana dakwah harus lengkap dengan kompetensi, kreativitas, dan kekayaannya, sebagaimana Nabi Muhammad beritakan. Masalah ekonomi adalah urusan serius yang harus didalami sebagai pelajaran agama. Jika benar Al-Qur’an diajarkan dan diamalkan maka tidak ada orang kekurangan harta dan kelaparan. Jika ajaran Al-Qur’an benar dimiliki umat manusia tidak akan ada peminta minta karena semua ingin hidup sejahtera dengan mensejahterakan orang lain. Masalahnyanya adalah bagaimana mengajarkan Al-Qur’an agar jadi pola pikir dan akhlak seluruh umat manusia. Wallahu’alam. 

IBN RUSYD DAN AL GHAZALI PEMBELAH DUNIA


OLEH: MUHAMMAD PLATO
(Master Trainer Logika Tuhan)

Dalam sebuah webinar saya memberikan pernyataan, “urusan kita dengan pengetahuan dianggap sudah selesai karena semuanya sudah tersedia di internet”. Masalah yang dihadapi dunia pendidikan sekarang adalah ketertinggalan dalam kemampuan berpikir rasional, baik dalam beragama maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Secara garis besar kemampuan berpikir rasional terbagi menjadi dua yaitu berpikir rasional empiris dan rasional religius. Hal yang membedakan kedua pola pikir rasional ini adalah sumber pengetahuan yang dijadikan sebagai dasar kebenaran. Rasional empiris menggunakan pengetahuan alam sebagai dasar dalam menentukan kebenaran. Panduan  menentukan kebenaran bagi kaum rasionalis empiris adalah penglihatan terhadap segala kejadian di alam dengan logika sebab akibat. Kelemahan dari kaum rasionalis empiris adalah dia tidak mampu mengenal kejadian-kejadian diluar penglihatan empiris. Untuk itulah mereka tidak mengenal surga atau neraka. Kemampuan berpikir mereka sangat terbatas pada bidang-bidang ilmu kealamaman yang nyata. Kelemahan selanjutnya adalah terlalu percaya diri bahwa sumber pengetahuan itu mutlak dari alam dengan mengklaim dirinya Atheis yang sering diartikan tidak bertuhan. Padahal hemat penulis Atheis adalah kelompok manusia yang menuhankan alam.  


Sebaliknya kaum rasionalis religius adalah kelompok yang menjadikan kitab suci sebagai sumber kebenaran. Logikanya digunakan untuk mengukuhkan keberadaan Tuhan sebagai penyebab. Kitab suci sebagai firman Tuhan adalah petunjuk bagi hidup manusia dalam mengetahui sebab-sebab kejadian. Kelemahan kaum rasional religius adalah terlalu fokus menjelaskan kehidupan-kehidupan ghaib setelah kematian dalam bentuk balasan-balasan atas perbuatan baik dan buruk kepada manusia. Sementara langkah-langkah spesifik di dunia nyata agar tidak terjerumus pada jalan buruk kurang begitu dikuasai dan cenderung terabaikan. Kaum rasionalis religius tidak begitu siap menciptakan kenikmatan hidup surga di dunia. Mereka lebih cenderung melarikan diri dari dunia sekalipun tidak bisa, dan pada akhirnya terjadi kontradiksi. Cita-citanya masuk surga tidak tercermin dalam kehidupan dunia padahal segala apa yang terjadi di akhirat tergantung pada apa yang dikerjakan di dunia. Cita-citanya yang baik di masa depan (akhirat) tidak sesuai dengan upaya yang dilakukannya sekarang. Terjadi kerancuan (tahafut) dalam berlogika pada masyarakat rasional religius.

Ibn Rusyd menganjurkan kepada anak-anak sekolah untuk diajarkan ilmu logika. Al-Ghazali bukan tokoh penentang logika seperti yang digembor-gemborkan. Ibn Rusyd dan Al Ghazali adalah dua tokoh yang memiliki perbedaan pandangan dalam filsafat. Keduanya memiliki persamaan yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan dalam berlogika. Sudah jelas kedua tokoh ini adalah filsuf muslim yang sama-sama berpengaruh. Ibn Rusyd berpengaruh di Barat dan Al-Ghazali berpengaruh di Timur. Di Barat rasionalisme terseret ke arah empiris, dan di Timur rasionalisme terseret ke arah mistis atau ghaib. Barat dan Timur kemudian berkembang menjadi dua kekuatan antagonis. Sampai ada pemeo mengatakan, “east is east, west is west both never seen”.

Perebdaan Barat dan Timur sebenarnya bukan pada kemampuan berlogika, tetapi pada pengetahuan yang digunakan dalam berlogika.  Barat menggunakan pengetahuan empiris, dan timur menggunakan pengetahuan kitab suci yang bercampur mitos. Inilah yang dimaksud Budaya ideasional yang dimaksud Sorokin, antara budaya Barat dan Timur sama sama bejalan tetapi tidak bergandengan, dan tidak saling melengkapi. Sorokin berharap ada satu budaya yang bisa menggandengkan antara Barat dan Timur yaitu budaya idealistik, budaya jalan tengah yang tidak membunuh Tuhan dan mengakui Tuhan sebagai Tuhan.   

Buya Syakur menegaskan sampai kapanpun orang yang percaya kepada adanya Tuhan tidak akan pernah memuaskan orang yang tidak percaya Tuhan bahwa Tuhan itu ada, dan sampai kapan pun orang yang tidak percaya Tuhan tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Perbedaan sumber pengetahuan dalam berlogika telah memecah dunia menjadi Barat dan Timur.  Sebagian besar orang Barat menjadi tidak bisa menemuakan Tuhan, dan sebagian besar orang Timur tidak bisa mengendalikan dunia. Sebagian besar orang Barat masuk neraka karena tidak percaya Tuhan, dan sebagian besar orang Timur masuk neraka karena tidak bisa hidup seperti yang diperintahkan Tuhan.

Jika sudah begini kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Manusia berakal akan terus berpikir dan menginsyafi kesalahan. Barat dan Timur sama-sama berlogika, yang membedakan adalah sumber pengetahuan. Logika Barat gagal menemukan Tuhan dan logika Timur gagal mengelola alam. Timur dan Barat harus bersatu untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan setelah kematian. Fritjop Capra merasa terpanggil untuk mendekatkan ilmu pengetahuan dengan agama atau kepercayaan. Jika saling menghargai kerjasama Barat dan Timur akan jadi keseimbangan. Kerjasama Timur dan Barat ditandai damainya Ibn Rusyd dan Al-Ghazali. Kedua pemikir ini harus menyadari bahwa kebenaran milik Allah, dan dunia bukan entitas terpisah-pisah tapi satu kesatuan yang saling membutuhkan sebagai sebuah sistem. Pemikiran Fritjop Capra dapat menjadi penghubung antara Barat dan Timur, antara Ibn Rusyd dan Al Ghazali. Jangan lagi mengklaim kebenaran dan menyangka orang lain salah. Jangan lagi memisah-misah Barat dan Timur kita hidup satu bumi yang saling membutuhkan.

Dunia ini rusak karena ada orang yang menghembus-hembuskan keburukan ke dalam pikiran hingga jadi kecenderungan hati seseorang dan menjadi karakter. Orang-orang yang berkarakter buruk harus dibatasi ruang geraknya, dan orang-orang yang berkarakter baik harus diperluas ruang geraknya. Tugas bersama Barat dan Timur adalah membatasi ruang gerak orang-orang yang berkarakter buruk. Semua hidup manusia hanya penantian dan antrian menunggu kematian. Bukan kemenangan, kedudukan, kesejahteraan dunia yang kita fokuskan, tapi upaya manusia dalam memerjuangkan kebaikan. Kalah dan menang bukan ukuran keberhasilan, karena Tuhan hanya memperhatikan cara hidup manusia yang harus tetap dijalan kebenaran. Wallahu’alam.